<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita si Abril &#187; wisata</title>
	<atom:link href="http://abril.susiloadhy.net/tag/wisata/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abril.susiloadhy.net</link>
	<description>yang asam.pedes.manis.asin.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 14:07:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>menanti kebangkitan wisata ziarah</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 09:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/</guid>
		<description><![CDATA[update: rabu, 21 februari 2007 sumber: kompas cetak&#62;humaniora Kontekstualisasi Ziarah (2-Habis) Menanti Kebangkitan Wisata Ziarah oleh: Evy Rachmawati Tradisi ziarah biasanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, maupun anggota keluarga yang dicintai. Di Indonesia, ziarah dalam artian umum merupakan kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya, dan terutama ke makam para wali penyebar agama <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #cc0000;">update: rabu, 21 februari 2007<br />
sumber: <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/21/humaniora/">kompas cetak&gt;humaniora</a></span></p>
<p><span style="color: #663300;"><strong>Kontekstualisasi Ziarah (2-Habis)<br />
Menanti Kebangkitan Wisata Ziarah</strong></span><br />
oleh: Evy Rachmawati</p>
<p>Tradisi ziarah biasanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, maupun anggota keluarga yang dicintai. Di Indonesia, ziarah dalam artian umum merupakan kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya, dan terutama ke makam para wali penyebar agama Islam sebagai wujud kecintaan.</p>
<p>Karisma para leluhur ini begitu melekat di dalam hati masyarakat sampai sekarang.</p>
<p>Dalam terminologi Arab, perjalanan atau wisata diistilahkan sebagai as-Safar atau az-Ziyarah. Jadi, wisata ziarah merupakan sebuah bentuk kunjungan ritual dan dilakukan ke makam dan masjid bersejarah. Dari prosesnya, wisata ziarah juga dipahami sebagai perjalanan batin seseorang, sehingga memiliki muatan emosi dan kontemplasi tinggi.</p>
<p>Secara umum, kita mengenal konsepsi ziarah ke makam dalam berbagai konteksnya, antara lain ziarah sebagai wujud rasa bakti seorang anak ke makam orangtua atau kerabat, ziarah ke makam pahlawan sebagai bentuk peringatan. Selain itu, ziarah sebagai penghayatan nilai-nilai keulamaan.</p>
<p>Tradisi ziarah ke makam para wali sudah cukup populer, terutama Walisanga yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Para wali itu di antaranya Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus.</p>
<p>Sebenarnya, hampir seluruh wilayah di Tanah Air memiliki makam-makam wali. Ini memperlihatkan bahwa di hampir semua daerah di Indonesia pernah hidup dan berjuang seorang ulama besar.</p>
<p>Kini, makam para wali si seluruh Indonesia hampir tiap hari dikunjungi umat sebagai pertanda kecintaan terhadap para walinya. Sebagai dampak dari berkembangnya budaya ziarah ke makam, terutama makam para wali, pemrintah maupun swasta merespons positif dengan mengembangkan tempat ziarah sebagai obyek wisata ziarah.</p>
<p><span id="more-88"></span><br />
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dalam pencanangan Tahun Kebangkitan Wisata Ziarah 2006 di Lamongan, Jawa Timur, akhir tahun lalu, menjelaskan, wisata ziarah merupakan bagian dari wisata budaya yang berpotensi besar dari sisi jumlah dan daya tarik obyek yang tersebar di pelosok Tanah Air. Karena itu, wisata ziarah perlu terus dikembangkan sebagai salah satu program unggulan pariwisata nasional.</p>
<p>Menurut arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary dalam bukunya Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, dalam paket wisata ziarah setidaknya terdapat tiga komponen terkait, yakni wisata sebagai kegiatan perjalanan yang diorganisasi biro perjalanan, masyarakat pengguna jasa wisata, dan obyek wisata yang meliputi alam, sejarah, dan arkeologi.</p>
<p>Sejauh ini ada beberapa kecenderungan kuat yang dapat dijadikan rujukan dalam mengarahkan wisata ziarah Islam agar lebih profesional. Antara lain, luasnya sebaran dan tingginya variasi jenis obyek wisata, masih kuatnya apresiasi mayoritas masyarakat Muslim Nusantara yang berdampak pada ramainya kunjungan terhadap peninggalan sejarah purbakala dari masa awal masuknya Islam ke Nusantara.</p>
<p>Pengelolaan obyek-obyek wisata ziarah Islam, di seluruh Nusantara, pada dasarnya berada dalam pengelolaan lembaga formal-struktural, yakni pemerintah, dan lembaga maupun organisasi nonformal seperti kerapatan adat, badan kesejahteraan masjid, keturunan atau para ahli waris, khususnya untuk istana dan keraton.</p>
<p>Pengelolaan kompleks Makam Sunan Drajat di Lamongan, misalnya, dilakukan oleh para ahli waris wali tersebut. R Edi Santoso (38), salah seorang juru kunci Makam Sunan Gunung Drajat, menuturkan, sampai sekarang ada sembilan juru kunci dan sejumlah orang bertugas memelihara kompleks Makam Sunan Gunung Drajat.</p>
<p>Biaya operasional pengelolaan kompleks itu terutama berasal dari sumbangan peziarah. Jumlah pemasukan dari para pengunjung mencapai lebih dari Rp 10 juta per bulan. Uang ini antara lain digunakan untuk biaya pemeliharaan makam, honor bagi para petugas kebersihan dan keamanan, kesejahteraan bagi para juru kunci dan keturunan Sunan Gunung Drajat, ritual tradisional, serta kegiatan sosial lain.</p>
<p>Jika hanya mengandalkan honor dari dinas kebudayaan dan pariwisata setempat, lanjut Edi, nilainya sangat kecil, berkisar Rp 200.000 per bulan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) juga hanya memfokuskan perhatian pada pemugaran dan pelestarian peninggalan di dalam kompleks makam. Apalagi, banyak makam di kompleks itu hanya terdiri dari tumpukan batu, tanpa ada nisan.</p>
<p>Pihak pemerintah daerah (pemda) setempat mendapatkan pemasukan dari uang retribusi pengunjung. Pemda juga mengelola retribusi lahan usaha puluhan pedagang cendera mata, makanan, dan aneka produk lain. &#8220;Jadi, ada pembagian lahan dengan pemda,&#8221; kata Edi.</p>
<p>Sedangkan di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, terdapat 108 orang petugas makam yang terbagi dalam sembilan kelompok. Semua petugas makam, termasuk Bekel Sepuh dan Bekel Anom 12 orang, dipimpin seorang Jeneng dan diangkat Sultan. Tugas mereka meliputi seluruh areal Pasambangan mulai alun-alun, gapura, serambi, serta bagian dalam Pasambangan sampai gedongan (jinem).</p>
<p><strong>Kurang informasi</strong><br />
Sayangnya, hingga kini sebagian besar kunjungan peziarah masih bersifat spontan atau tak terorganisasi. Hal ini diperparah oleh masih rendahnya tingkat pengelolaan aspek informasi yang menjadi latar belakang kesejarahan dari peninggalan-peninggalan itu, baik yang dimiliki agen perjalanan atau para pemandu, informan, termasuk juru kunci dan juru pelihara.</p>
<p>Sejauh ini sebagian besar wisatawan ziarah Islam tidak memiliki pengetahuan yang benar dan lengkap terhadap obyek-obyek yang dikunjungi. Ditambah lagi, faktor pihak penyelenggara atau informan di lokasi kunjungan juga tidak memberikan penjelasan dengan baik. Akibatnya, nilai informasi yang disampaikan pada wisatawan belum optimal.</p>
<p>Padahal, tujuan kunjungan wisatawan ke obyek wisata ziarah itu beraneka ragam. Ada yang hanya ingin berziarah, ada juga yang ingin berziarah sekaligus rekreasi, serta memperoleh tambahan informasi langsung untuk penelitian. Bahkan, di sejumlah obyek wisata ziarah Islam, makam dijadikan sebagai media untuk berdoa meminta rezeki, jodoh, menebak kode buntut, dan kesembuhan penyakit.</p>
<p>Maka dari itu, Hasan menilai pengelolaan obyek wisata ziarah masih memerlukan penerangan lebih lanjut dari aparat terkait, termasuk lembaga-lembaga keagamaan dan organisasi kemasyarakatan Islam. Hal ini bertujuan untuk menjauhkan obyek-obyek wisata ziarah Islam dari hal-hal yang mengarah pada sikap permisif terhadap pelanggaran nilai, etika, dan akhlak Islamiyah.</p>
<p>Kontribusi arkeologi terhadap program wisata ziarah juga diperlukan untuk menyajikan data yang benar, berakurasi tinggi, dan logis bagi pengunjung. Dengan demikian, obyek-obyek wisata ziarah Islam tidak akan berkembang jadi aktivitas yang melanggar akhlak dan pusat syirik.</p>
<p><strong>Pengembangan wisata</strong><br />
Jero Wacik menyatakan, pengembangan wisata ziarah nantinya membawa serta nilai-nilai edukasi yang luhur dalam bentuk keteladanan, penghargaan terhadap para tokoh yang diziarahi karena jasa-jasanya terhadap kehidupan keagamaan dan kemanusiaan, serta kesalehannya kepada Allah. &#8220;Karena itu, wisata ziarah akan dibangkitkan lagi, terutama untuk menarik wisatawan domestik. Tahap awal adalah pengembangan wisata ziarah makam Wali Songo. Obyek wisata ziarah juga akan dikembangkan di seluruh Tanah Air,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Depbudpar telah mencanangkan Tahun Kebangkitan Wisata Ziarah bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jadi, PBNU berperan serta dalam membuat panduan agar aktivitas peziarah tidak melanggar etika dan akhlak Islam.</p>
<p>Menurut Hasan Muarif Ambary, pengembangan wisata ziarah seharusnya dititikberatkan pada aktivitas yang diselenggarakan badan atau biro perjalanan wisata, dan masyarakat pengguna jasa kepariwisataan sehingga wisata ziarah menjadi kebutuhan pokok bersifat spiritual, relaksasi, dan rekreatif.</p>
<p>Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi mengatakan, program itu hendaknya menjadi gerakan wisata sehat lahir dan batin. &#8220;Dengan berwisata ziarah, kita bisa meneladani cara para wali dalam membawakan Islam secara damai dan moderat agar tidak ada konflik antar-agama. Ini yang harus ditemukan kembali untuk membangun bangsa ini,&#8221; ujar Hasyim Muzadi. (Kompas/Evy Rachmawati)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>perjalanan pencari berkah di tengah artefak</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 09:05:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[JalanJalan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/</guid>
		<description><![CDATA[update: rabu, 21 februari 2007sumber: kompas cetak&#62;humaniora Kontekstualisasi Ziarah (1)Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak oleh: Evy Rachmawati Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat. Jarum jam menunjukkan pukul satu <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #990000;">update: rabu, 21 februari 2007</span><br style="color: #990000" /><span style="color: #990000;">sumber: <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/20/humaniora/3332107.htm">kompas cetak&gt;humaniora</a></span></p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #663300;">Kontekstualisasi Ziarah (1)</span><br style="color: #663300; font-weight: bold" /><span style="font-weight: bold; color: #663300;">Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak</span><br />
oleh: Evy Rachmawati</p>
<p>Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat.</p>
<p>Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Sejak pagi para peziarah datang silih berganti, sebagian datang bersama rombongannya dari berbagai daerah. Begitu masuk pintu gapura sebelah timur kompleks makam, mereka dikerumuni belasan anak dan orang dewasa peminta sedekah.</p>
<p>Para peziarah lalu memasuki pintu serambi muka untuk berpamitan pada salah seorang juru kunci yang menunggu di ruang itu. Mereka kemudian menuju ke arah Barat, yaitu ruang di depan pintu pasujudan (pintu Selama Tangkep). Pada dinding di lorong menuju ruangan itu terdapat barang-barang keramik atau porselen dari Tiongkok.</p>
<p>Setelah berwudu, puluhan peziarah duduk bersimpuh di depan pintu pasujudan yang tertutup rapat. Mereka lalu memanjatkan doa sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam di Jawa Barat. Seusai berdoa, mereka bergantian menghampiri pintu pasujudan untuk menaburkan bunga maupun sekadar menyentuh pintu.</p>
<p><span id="more-89"></span></p>
<p>Uniknya, di antara para pengunjung itu ada yang berasal dari etnis China yang beragama Buddha dan Konghucu. Mereka sengaja datang ke kompleks makam ini untuk nyekar ke makam Ong Tien, putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming, dan salah seorang istri Sunan Gunung Jati. Untuk itu disediakan tempat khusus di sisi barat serambi depan kompleks pemakaman.</p>
<p>Di depan pintu makam putri dari China Nyi Ong Tien atau Nyai Ratu Rara Sumanding, istri Sunan Gunung Jati, terdapat satu meja tempat hio. Para peziarah dari komunitas Tionghoa datang silih berganti, membakar hio dan memanjatkan doa di depan pintu makam itu. Seorang perempuan peziarah siang itu sibuk membersihkan tempat ziarah tersebut.</p>
<p>Ada beberapa tradisi saat berziarah ke makam wali. Di makam Sunan Gunung Jati, misalnya, ada tradisi menyediakan bunga campur-baur sebagai tanda belasungkawa dan penghormatan, dan hio dibakar agar timbul bau harum.</p>
<p>Karena letaknya berdampingan, peziarah juga menziarahi makam Syekh Dzatil Kahfi di Gunung Jati setelah dari makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung.</p>
<p><strong>Pengendalian Diri</strong><br />
Banyak peziarah melaksanakan tradisi mandi tujuh sumur, terutama Jumat pertengahan bulan Hijriah dan pada peringatan tradisional Maulud. Empat sumur yakni Kanoman, Kasepuhan, Waluyajati, dan Masjid, berlokasi di kompleks pemakaman Gunung Sembung. Sedangkan tiga sumur lain yaitu Tegangpati, Jalatunda, dan Kejayan, berada di kompleks pemakaman Gunung Jati.</p>
<p>Sedangkan di makam Sunan Drajad, Lamongan, Jawa Timur, ada beberapa ritual yang diselenggarakan pemangku makam, antara lain haul yang diadakan pada tanggal 25 Syaâ€™ban.</p>
<p>Acara ini didahului dengan babat makam oleh warga setempat yang dilakukan pada 24 Syaâ€™ban. Untuk menyambut Maulud Nabi juga diadakan perayaan arak-arakan dan tumpengan.</p>
<p>Makam para wali juga ramai dikunjungi banyak orang setiap hari sebagaimana terlihat di makam Sunan Drajad, Lamongan, dan makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Mereka berziarah sebagai bentuk penghormatan kepada para wali, bahkan banyak peziarah datang untuk meminta berkah.</p>
<p>Kardisi (27), warga Cilangcang, Cirebon, datang bersama dengan ibu dan Darsini, kerabatnya, ke makam Sunan Gunung Jati untuk berziarah. Ketiga perempuan itu tampak khusyuk berdoa, dilanjutkan dengan tabur bunga dan menyentuh pintu pasujudan.</p>
<p>Kardisi mengaku baru pertama kali berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Kedatangannya ini diawali dari keinginannya mengais rezeki ke Arab Saudi sebagai pekerja rumah tangga. Karena itu, selain berziarah, ia pun memanjatkan doa di depan pintu pasujudan agar selamat dan mencapai kesuksesan saat merantau ke negeri orang. &#8220;Saya mau ke Arab,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ny Entay (50), salah seorang peziarah, mengaku kerap datang ke makam Sunan Gunung Jati seorang diri, terutama ketika tengah dirundung masalah rumah tangga. Setiap kali berziarah ia bermalam sampai berhari-hari lamanya untuk berzikir dan melakukan kegiatan ritual lain. &#8220;Saya lagi pusing,&#8221; tuturnya, saat ditemui di salah satu sudut kompleks makam.</p>
<p>Ia mengaku tengah dibelit utang. Padahal suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan anak-anaknya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah menamatkan sekolah. &#8220;Siapa tahu dengan sering berzikir di sini, masalah rumah tangga saya jadi terselesaikan. Anak-anak saya bisa cepat dapat kerja,&#8221; kata Entay.</p>
<p>Pada fase seperti itu, ziarah menjadi sebuah arena pengendalian diri dan doa.</p>
<p>Hal serupa juga diungkapkan Salamah (36), warga Pelumbon, Cirebon. Ia datang ke makam Sunan Gunung Jati hanya berbekal beberapa lembar uang ribuan rupiah dan telah menginap selama beberapa malam di tempat itu. &#8220;Daripada stres, saya memilih menenangkan diri di sini. Biasanya, suami saya akan menjemput. Dia sudah tahu ke mana saya pergi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Perempuan yang sehari-hari berjualan makanan ini mengaku sudah tidak tahan dan ingin cerai lantaran tidak tahan dengan ulah suami dan anak tirinya yang terus merongrong usahanya. Suaminya tidak pernah memberi nafkah padanya sejak beberapa tahun menikah. &#8220;Uang yang saya kasih malah enggak jelas larinya,&#8221; tutur Salamah dengan wajah lesu.</p>
<p><strong>Wisata Sejarah</strong><br />
Dalam sumber-sumber babad, Wali Sanga dianggap sebagai peletak fondasi terbentuknya pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan.</p>
<p>Menurut arkeolog Tri Hatmadji dan Nadjib Hassan dalam buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Wali Sanga merupakan penasihat para penguasa Islam pada waktu itu dan diduga punya peranan penting dalam pergantian kekuasaan dari Majapahit ke Demak.</p>
<p>Tersebarnya agama Islam di Jawa, khususnya, merupakan keberhasilan para wali melalui strategi dan metode dakwah yang tepat sesuai petunjuk Al Quran.</p>
<p>Sebagai tokoh penyebar Islam di Jawa, khususnya, para wali diyakini sebagai orang yang keramat. Mereka dianggap memiliki kelebihan dibandingkan dengan masyarakat lain, dan diyakini memiliki karunia tenaga-tenaga gaib.</p>
<p>Bahkan, sesudah wafat pun mereka masih dianggap mempunyai karisma dan sangat dihormati. Hal ini dapat diketahui dari perlakuan masyarakat terhadap makam para wali dan banyaknya peziarah yang mengunjungi makam para wali itu hingga saat ini.</p>
<p><strong>Karisma Leluhur</strong><br />
Tradisi ziarah kubur erat kaitannya dengan karisma leluhur yang makamnya banyak dikunjungi orang. Karisma leluhur itu dapat diwujudkan dengan bentuk dan hiasan bangunan kubur yang beragam sesuai tradisi seni bangunan yang dikuasai atau disukai. Dan karisma para wali penyebar agama Islam begitu melekat di hati masyarakat, sehingga banyak di antaranya yang berziarah ke makam mereka.</p>
<p>Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengungkapkan, ziarah merupakan suatu kegiatan keagamaan berupa berkunjung ke magrabah atau kuburan para wali atau ulama yang telah mendedikasikan hidupnya bagi pengembangan Islam. Ziarah juga jadi media untuk mengingatkan manusia pada maut yang suatu saat akan menjemputnya.</p>
<p>&#8220;Ziarah telah jadi tradisi masyarakat Islam dunia,&#8221; ujarnya, ketika memberi pengantar program pencanangan Wisata Ziarah, Desember 2006. Ziarah, katanya, juga menjadi media edukasi kepada masyarakat mengenai nilai-nilai positif yang diajarkan para ulama.</p>
<p>Para wali umumnya menyiarkan agama secara damai, tidak melalui perang dan tidak melakukan formalisasi agama.</p>
<p>Oleh karena itu, ajaran Islam yang dibawa para wali juga beradaptasi dengan budaya lokal. &#8220;Ini perlu diteladani agar kita tidak terjebak pada formalisasi agama. Tetapi jangan sampai menganggap makam para wali sebagai tempat yang dikeramatkan,&#8221; kata Hasyim menegaskan.</p>
<p>Berziarah biasanya dilakukan sendiri-sendiri atau berkelompok. Ziarah sendiri-sendiri umumnya dilakukan dengan mengunjungi makam orangtua atau para leluhur, sedangkan ziarah berkelompok, misalnya ke makam Rasullullah saat beribadah haji. &#8220;Di Indonesia, ziarah berkelompok biasa dilakukan dengan mengunjungi kuburan para Wali Sembilan atau ziarah Walisongo,&#8221; kata Hasyim.</p>
<p><strong>Persebaran Peradaban</strong><br />
Dalam versi arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary (buku Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia), obyek-obyek wisata ziarah Islam secara sempit dihubungkan dengan benda-benda berupa makam, masjid, atau relik-relik para tokoh keagamaan dan politik, ulama dan raja.</p>
<p>Obyek wisata ziarah itu tersebar di berbagai jenis lokasi, ada yang terpencil di pelosok daerah atau di tengah bekas kota lama dari sesuatu pusat politik, ekonomi dan peradaban Islam. Banyak bukti mendukung asumsi bahwa muslim dari berbagai kawasan India, Arab dan Persi telah mengadakan kontak intensif dengan komunitas di Jawa atau Nusantara pada abad tujuh sampai delapan masehi dan berabad-abad sesudahnya.</p>
<p>Tanda tertua kedatangan orang Islam di Jawa misalnya tampak pada sebuah kuburan di Leran, Gresik, Jawa Timur, yang bertanggal tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi dengan nama wafat Fatimah binti Maemun bin Hibatallah.</p>
<p>Sejumlah nisan makam Islam Awal mengandung petikan ayat atau hadist yang berhubungan dengan ajaran sufi.</p>
<p>Pola sebaran dan tipologi nisan serta kompleks makam Islam di Jawa sekaligus menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan perpindahan pusat kekuasaan dan pola sebaran pusat-pusat pengajaran Islam. Maulana Malik Ibrahim yang berangka tahun 822 H (1419 M), misalnya, mengandung inskripsi bergaya tulis Kufique, dibuat dari batuan marmer, diduga berasal dari Cambay, Gujarat.</p>
<p>Hal ini memperlihatkan adanya proses sosialisasi Islam di Jawa yang kemudian pada masa puncaknya berkembang jadi pusat-pusat peradaban, lalu dikuasai elit-elit politik yang masih memiliki hubungan darah. Hal yang sama tampak pula pada elit politik kerajaan Mataram Islam, yang memiliki pertautan dengan para wali di Kadilangu, Ampel dan Giri.</p>
<p>Pertautan itu menumbuhkan dugaan, bahwa salah satu faktor legitimasi kekuasaan di Jawa seringkali dikaitkan dengan hubungannya terhadap para wali penyebar Islam.</p>
<p>Lebih dari itu, upaya legitimasi serupa juga dilakukan dengan menghubungkannya pada para raja-raja Hindu-Jawa sebelumnya, baik melalui hubungan darah, perkawinan atau perpindahan pulung keraton.</p>
<p>Kendati demikian, obyek-obyek wisata ziarah Islam tidak hanya makam atau kompleks makam dengan segala ekspresinya. Makam para raja atau wali juga merupakan sebagian dari produk kesenian istana.</p>
<p>Obyek-obyek wisata ziarah Islam harus pula memperhitungkan dan memasukkan obyek lain seperti istana, benteng, perpustakaan, masjid dan benda-benda rerelik lain. (Kompas/Evy Rachmawati)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>candirejo: sebuah pembelajaran dari kaki pegunungan menoreh</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Dec 2006 03:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interesting Spot]]></category>
		<category><![CDATA[JalanJalan]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[candirejo]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/</guid>
		<description><![CDATA[Berlokasi sekitar 3 km ke arah tenggara Candi Borobudur, atau kira-kira 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang bernama Candirejo. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki luas sekitar 3 kilometer persegi dan dihuni oleh 4.056 penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) <a href="http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="ES-CO">Berlokasi sekitar 3 km ke arah tenggara Candi Borobudur, atau kira-kira 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang bernama Candirejo. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki luas sekitar 3 kilometer persegi dan dihuni oleh 4.056 penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) dusun. Lokasi desa ini terletak pada bentang alam yang merupakan gabungan antara dataran rendah dan kaki pegunungan yang tererosi, sehingga banyak dijumpai keunikan geologi seperti adanya mata air asin serta bongkahan bebatuan sisa gunung api (<em>Watu Kendil</em>, <em>Watu Tambak</em>, <em>Watu Ambeng</em>, dan lainnya). Secara geologis, wilayah Desa Candirejo berupa daerah berbukit yang termasuk ke dalam kawasan Pegunungan Menoreh, yang merupakan bekas gunung api tua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="ES-CO">Menurut cerita turun temurun, nama Candirejo awalnya berasal dari kata <em>Candighra</em> yang seiring dengan waktu berubah menjadi <em>Candirga,</em> lalu <em>Candirja</em> dan terakhir Candirejo. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%">Kata Candi sendiri berarti batu, sedangkan <em>Rejo</em> berarti subur, sehingga Candirejo dapat berarti desa berbatu yang subur. Cerita lain menyebutkan bahwa nama Candirejo berasal dari ditemukannya sebuah candi di tempat ini. Berdasarkan penemuan berupa batu candi, arca dan yoni, membuktikan bahwa memang pernah ada sebuah candi di desa ini, yang oleh penduduk sekitar disebut Candi Brangkal.</span></p>
<p><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/329856670/candirejo_1.html"></a></p>
<div style="text-align: center"><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/329856670/candirejo_1.html"><img src="http://farm1.static.flickr.com/126/329856670_1c42423e6b.jpg" border="0" alt="candirejo 1" width="422" height="301" /></a></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%"><br />
Wilayah Candirejo yang berada dalam kawasan Cagar Budaya Borobudur membuat kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya berkaitan erat dengan perkembangan Borobudur. Pengaruh ekonomi dan gegar budaya akibat pertumbuhan pariwisata di Borobudur merupakan dampak yang dengan mudah ditemui. Kehidupan masyarakat Candirejo yang saat ini masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan perhutanan (<em>social argo-forestry</em>) perlahan tapi pasti berubah akibat pariwisata. Kaum muda lebih senang menawarkan jasa sebagai <em>guide</em> atau berjualan di kawasan Candi Borobudur. Faktor ekonomi pertanian yang makin lama dianggap kurang berkembang, membuat penduduk Candirejo banyak yang akhirnya mengalihkan mata pencahariannya pada sektor jasa pariwisata. Akibatnya â€™bebanâ€™ Candi Borobudur yang disebabkan oleh pariwisata menjadi sangat berat. Kencenderungan ini membuat resah berbagai pihak, khususnya pemerintah dan pemerhati pelestarian pusaka. Salah satu alasannya adalah bila kondisi fisik dan budaya masyarakat di sekitar kawasan Borobudur berubah, maka akan berdampak negatif bagi keberlanjutan Borobudur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span id="more-76"></span><br />
<span style="font-size: 8pt; line-height: 150%">Cagar budaya Borobudur memiliki nilai historis dan budaya yang saling terkait dengan kawasan dan masyarakat disekitarnya. Kondisi ini sudah berlangsung sejak awal dibangunnya Borobudur pada abad ke-8, jadi bisa dipastikan tanpa keterkaitan antara alam dan budaya, Borobudur akan kehilangan â€™jiwanyaâ€™. Oleh karena itu konservasi terhadap <em>intangible cultural heritage</em> dan penguatan masyarakat sekitar kawasan Borobudur menjadi penting untuk dilakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%">Pegunungan Menoreh merupakan bentang alam yang berfungsi sebagai penyangga Borobudur. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="ES-CO">Wilayah Candirejo sendiri memiliki cakupan luas permukaan 48.735 kilometer persegi dari Pegunungan Menoreh. Kawasan ini menjadi daerah tangkapan air dari ke tiga sungai, yaitu Sungai Progo, Sungai Sileng dan Sungai Serayu. Jika kawasan ini gundul, selain menyebabkan ketidaksuburan ladang pertanian juga akan mengakibatkan banjir di wilayah Borobudur. Kondisi ini akan semakin memperburuk kehidupan warga sekitar dan juga meningkatkan arus urbanisasi yang pada akhirnya akan mengurangi keterikatan kultur masyarakatnya dengan Candi Borobudur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="ES-CO">Berdasarkan latar belakang tersebut di atas serta kesadaran bersama, maka penduduk Desa Candirejo sepakat membuat solusi untuk keberlanjutan kawasan Borobudur sekaligus meningkatkan â€™nilaiâ€™ desanya. Salah satu langkah awal adalah dengan menjadikan Desa Candirejo sebagai desa wisata berbasis masyarakat. Pengembangan desa wisata ini juga dimaksudkan agar aktivitas pariwisata tidak hanya terpusat di Borobudur, namun juga ke wilayah di sekitarnya sehingga, wisatawan yang datang akan lebih mengenal Candi Borobudur dan ikut melestarikannya. Tujuan lainnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesadaran akan konservasi budaya di kawasan Borobudur. Dalam pengembangannya, desa wisata yang diresmikan tanggal 18 April 2003 ini, difasilitasi oleh Yayasan Patra-Pala <em>Institute for Social Ecology and Ecotourism</em> dengan bantuan dana dari JICA (<em>Japan International Cooperation Agency</em>).</span></p>
<p><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/329856819/candirejo_2.html"></a></p>
<div style="text-align: center"><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/329856819/candirejo_2.html"><img src="http://farm1.static.flickr.com/152/329856819_5ef92db6a1.jpg" border="0" alt="candirejo 2" width="413" height="291" /></a></div>
<div><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="SV"></p>
<p>Desa wisata ini sepenuhnya dikelola oleh masyarakat desanya secara mandiri melalui koperasi. Pengelolaannya mencakup penyediaan <em>local guide</em>, <em>home stay </em>di rumah tradisional Jawa, konsumsi, transportasi lokal, cenderamata, paket wisata hingga atraksi hiburan dan kesenian. Paket wisata yang ditawarkan berkisar antara Rp. 50.000,- sampai dengan Rp. 350.000,- tergantung dari pengalaman berwisata yang diinginkan. Misalnya saja, untuk paket wisata tinggal bersama penduduk (<em>home stay</em>) dipatok hanya dengan harga Rp. 50.000,- per-malam sudah termasuk makan 3 kali dan <em>snack</em>. Daya tarik yang ditawarkan diantaranya wisata jelajah desa dengan bersepeda atau <em>andong, home industry</em> penduduk, <em>trekking/hiking</em> ke Pegunungan Menoreh, agro wisata, dan tentunya berwisata ke Borobudur. Pemandangannya yang indah dengan siluet Candi Borobudur dikejauhan serta suasana desa beserta penduduknya yang ramah, merupakan keunggulan desa wisata ini.</p>
<p></span></p>
<p><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/334717359/candirejo_3.html"></a></p>
<div style="text-align: center"><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/334717359/candirejo_3.html"><img src="http://farm1.static.flickr.com/166/334717359_25481d4adf.jpg" border="0" alt="candirejo 3" width="408" height="288" /></a></div>
</div>
<p align="justify"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="SV">Candirejo juga memiliki tradisi dan seni budaya lokal yang masih dipertahankan, diantaranya <em>nyadran</em>, yaitu upacara mengirim doa untuk arwah leluhur setiap bulan <em>Ruwah</em> (kalender Jawa) dan Bersih Desa, yang merupakan ritual syukuran atas keberhasilan panen. Selain acara tahunan, Candirejo juga menyuguhkan acara kesenian berupa <em>jathilan</em> (kuda lumping), wayang kulit, dan tari-tarian seperti <em>Gatholocol</em>, <em>Wulangsunu</em>, <em>Kubrosiswo</em> dan Shalawatan. Acara kesenian diadakan secara periodik maupun atas permintaan khusus dari wisatawan. Selain menikmati kesenian tradisional, wisatawan yang datang ke Candirejo juga bisa belajar kesenian rakyat, seperti tari tradisional, kerajinan tangan dan gamelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%" align="justify"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="SV">Keberhasilan Desa Candirejo semakin dikuatkan dengan adanya program <em>digital village</em> (kampung digital) dari telkom flexi bersama-sama dengan 9 desa lainnya di Jawa Tengah. Program ini diadakan dengan tujuan agar Desa Candirejo semakin dikenal, terutama di dunia internasional, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke desa wisata ini. Program ini juga dilaksanakan dalam rangka pengembangan telekomunikasi bagi keperluan wisatawan serta pengenalan teknologi informasi bagi penduduk desa sendiri. Rencana kedepannya akan dikembangkan <em>internet goes to school</em>, yaitu pemasangan jaringan internet di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Magelang, termasuk Desa Candirejo, sehingga diharapkan para siswa dapat memperoleh informasi lebih luas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="SV">Upaya yang dilakukan secara bersama-sama oleh penduduk Desa Candirejo sudah memberikan dampak positif bagi keberlanjutan desa tersebut, sehingga kekayaan budaya masyarakat di sekitar Candi Borobudur dapat terpelihara dengan baik. Dalam perkembangan desa ini, terlihat adanya sistem kerjasama yang baik antara masyarakat, pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat, sehingga semua pihak merasa senang dan diuntungkan. Namun yang terpenting adalah pusaka saujana Borobudur akan semakin lestari, sehingga masih dapat dinikmati oleh generasi mendatang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 5pt; line-height: 150%; color: black;">____________________________<br />
Disarikan dari berbagai sumber dalam rangkaian kegiatan <em>3<sup>rd</sup> Borobudur Field School on Borobudur Cultural Landscape Heritage Conservation</em> di Yogyakarta, 27 Maret â€“ 2 April 2006 dan media internet (<a href="http://www.desa-digital.com/"><span style="text-decoration: none; color: black;">www.desa-digital.com</span></a>, <a href="http://www.central-java-tourism.com/"><span style="text-decoration: none; color: black;">www.central-java-tourism.com</span></a>, <a href="http://cybertravel.cbn.net.id/"><span style="text-decoration: none; color: black;">http://cybertravel.cbn.net.id/</span></a>). Telah dimuat dalam Warta Pariwisata, sebuah buletin terbitan Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) ITB.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

