update: rabu, 21 februari 2007
sumber: kompas cetak>humaniora
Kontekstualisasi Ziarah (1)
Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak
oleh: Evy Rachmawati
Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat.
Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Sejak pagi para peziarah datang silih berganti, sebagian datang bersama rombongannya dari berbagai daerah. Begitu masuk pintu gapura sebelah timur kompleks makam, mereka dikerumuni belasan anak dan orang dewasa peminta sedekah.
Para peziarah lalu memasuki pintu serambi muka untuk berpamitan pada salah seorang juru kunci yang menunggu di ruang itu. Mereka kemudian menuju ke arah Barat, yaitu ruang di depan pintu pasujudan (pintu Selama Tangkep). Pada dinding di lorong menuju ruangan itu terdapat barang-barang keramik atau porselen dari Tiongkok.
Setelah berwudu, puluhan peziarah duduk bersimpuh di depan pintu pasujudan yang tertutup rapat. Mereka lalu memanjatkan doa sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam di Jawa Barat. Seusai berdoa, mereka bergantian menghampiri pintu pasujudan untuk menaburkan bunga maupun sekadar menyentuh pintu.
Read the rest of this entry »
Berlokasi sekitar 3 km ke arah tenggara Candi Borobudur, atau kira-kira 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang bernama Candirejo. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki luas sekitar 3 kilometer persegi dan dihuni oleh 4.056 penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) dusun. Lokasi desa ini terletak pada bentang alam yang merupakan gabungan antara dataran rendah dan kaki pegunungan yang tererosi, sehingga banyak dijumpai keunikan geologi seperti adanya mata air asin serta bongkahan bebatuan sisa gunung api (Watu Kendil, Watu Tambak, Watu Ambeng, dan lainnya). Secara geologis, wilayah Desa Candirejo berupa daerah berbukit yang termasuk ke dalam kawasan Pegunungan Menoreh, yang merupakan bekas gunung api tua.
Menurut cerita turun temurun, nama Candirejo awalnya berasal dari kata Candighra yang seiring dengan waktu berubah menjadi Candirga, lalu Candirja dan terakhir Candirejo. Kata Candi sendiri berarti batu, sedangkan Rejo berarti subur, sehingga Candirejo dapat berarti desa berbatu yang subur. Cerita lain menyebutkan bahwa nama Candirejo berasal dari ditemukannya sebuah candi di tempat ini. Berdasarkan penemuan berupa batu candi, arca dan yoni, membuktikan bahwa memang pernah ada sebuah candi di desa ini, yang oleh penduduk sekitar disebut Candi Brangkal.

Wilayah Candirejo yang berada dalam kawasan Cagar Budaya Borobudur membuat kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya berkaitan erat dengan perkembangan Borobudur. Pengaruh ekonomi dan gegar budaya akibat pertumbuhan pariwisata di Borobudur merupakan dampak yang dengan mudah ditemui. Kehidupan masyarakat Candirejo yang saat ini masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan perhutanan (social argo-forestry) perlahan tapi pasti berubah akibat pariwisata. Kaum muda lebih senang menawarkan jasa sebagai guide atau berjualan di kawasan Candi Borobudur. Faktor ekonomi pertanian yang makin lama dianggap kurang berkembang, membuat penduduk Candirejo banyak yang akhirnya mengalihkan mata pencahariannya pada sektor jasa pariwisata. Akibatnya ’beban’ Candi Borobudur yang disebabkan oleh pariwisata menjadi sangat berat. Kencenderungan ini membuat resah berbagai pihak, khususnya pemerintah dan pemerhati pelestarian pusaka. Salah satu alasannya adalah bila kondisi fisik dan budaya masyarakat di sekitar kawasan Borobudur berubah, maka akan berdampak negatif bagi keberlanjutan Borobudur.
Read the rest of this entry »
hari ini 10 november, commonly dikenal sebagai hari pahlawan
hari dimana dimana kita mengenang para pahlawan aka pejuang bangsa ini yang sudah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan kita, sebagai bangsa indonesia.
tapi rasanya kok dari tahun ke tahun hari pahlawan semakin ga ‘dianggap’ bahkan nyaris terlupakan, masih untung ada yang inget kalo 10 november itu hari pahlawan. soanya ada beberapa kenalan malah nyangka kalo hari pahlawan tuh tanggal 10 oktober… what? mungkin ga ya fenomena model kaya gini mengindikasikan bahwa nilai-nilai kebangsaan kita udah mulai luntur? yah apa juga parameternya, ga jelas toh.
tapi wajar aja sih kalo orang banyak yang ga inget sama hari pahlawan. alasannya macem2, mungkin ada yang bilang ga penting-lah, ada yang emang ga care-lah, ada yang ngerasa ga kenal siapa itu pahlawan2 yang harus dikenal, ada yang merasa kok sok jadi nasionalis pake hari pahlawan segala, dan malah ada yang mengira buat apa hari pahlawan, toh kita pun sampe sekarang belom merdeka… pokoknya macam2-lah. tapi kalo bagi gue pribadi hari pahlawan sebenernya seperti semacam refleksi untuk sadar bahwa masih banyak pahlawan disekitar kita yang perlu dihargai. mereka bisa siapa saja, guru atau dosen kita, aktivis lingkungan, pengacara, tukang sapu jalanan, office boy di kantor atau bisa jadi mbok atau bibik yang ngebantu kita dirumah. semuanya punya kontribusi masing-masing, karena menurut gue pahlawan itu bukan saja para pejuang kemerdekaan, tapi juga siapa saja yang bisa memperjuangkan dengan sungguh2 dan ikhlas apa yang dianggapnya benar untuk kebaikan banyak orang tanpa melukai orang lain serta tanpa mengejar imbalan yang berlebihan.
tapi momen ini bisa jadi refleksi sekaligus pertanyaan bagi kita semua, seberapa besar kontribusi ‘kepahlawanan’ kita bagi lingkungan yang ada disekitar kita?
just ask and answer it by yourself…