cerita si abril…

yang HambarAsamManisPedasAsin

bandung sering dijuluki surga-nya kuliner, tapi tenyata ga banyak tempat makan yang menawarkan speciality menu berupa olahan daging bebek. kebanyakan yang menyediakan bebek dengan kualitas rasa yummy malahan berupa kedai atau warung pinggir jalan (alias pedagang kaki lima). karena gue dan suami sama-sama penggemar bebek goreng, maka kita sering bergerilya mencari tempat makan bebek yang enak dengan sambal dahsyat tentunya, nah salah satu tempat makan bebek yang enak banget adalah bebek van java. tentang sejarah nama dan filosofinya kenapa disebut bebek van java gue sendiri ga tau deh. yang gue tau si pedagang bebek goreng ini mulai berjualan sejak tahun 2005 di depan twenty something–butiknya inten dan astin di jalan dipatiukur, tepatnya di belakang bca dago dan disebelah medicore persis, trus juga berseberangan sama madtari, itu lho tempat makan pisang dan roti bakar pindahan dari depan bank danamon dago.

di bebek van java ini sih udah jelas banget menunya apaan…. ya bebek-lah, ada bebek goreng dan bebek bakar. untuk yang ga doyan bebek atau ga tega makan bebek karena inget sama donald duck yang lucu itu (sigh…) di sini tersedia menu ayam goreng dan bakar kok. rekomendasi gue sih bebek gorengnya, karena lebih enak, crispy, ga amis, bumbunya ok dan gurih banget. makannya ya jelaslah sama nasi, sambal dan lalab ketimun. kalo ga pake nasi sbnrnya ga gitu enak soalnya jadi terlalu pedes. oia yang special di sini adalah sambal-nya yang bukan sambal seperti yang dihidangkan di warung makan pecel lele/ayam goreng lainnya alias sambal tomat, tapi sambal matah yang agak berminyak dan pedesnya nendang banget, tapi dijamin ga nyesel deh nyobain sambel ini…. hehehe

bebek van java (4)_upload selain bebek sebagai menu special, di sini tersedia juga cah kangkung yang ueeeenak banget, bumbu dan manisnya pas, kangkungnya juga dimasak ga terlalu matang jadi masih berasa kres… kress kalo dikunyah, plus ada suwiran daging bebeknya juga lho…. wuih pokoknya ga cukup seporsi deh. kenyang makan bebek dan cah kangkung di kedai ini juga tersedia aneka minuman panas atau dingin sebagai dessert buat yang kepedesan. untuk minuman yang paling banyak dipesan biasanya es jeruk atau es teh manis. oia buat yang kalo makan harus ada kerupuk, di tempat ini juga menyediakan kerupuk ikan kok atau kadang ada bapak penjual keliling yang menawarkan. mengenai harga kita ga harus merogoh kantong terlalu dalam, cukup dengan 8.500 perak kita udah bisa menikmati 1 porsi bebek goreng, ditambah 3.000 rupiah untuk seporsi nasi dan 4.000 rupiah untuk semangkuk cah kangkung. kalo mau minuman dingin cukup bayar 2.000 untuk es teh manis dan 3.000 untuk es jeruknya.

kalau niat makan di sini menurut gue jangan pas weekend karena penuuuh banget, kalaupun mau pas weekend jangan lebih dari jam 7 datengnya karena dijamin ngantri atau bakalan keabisan. soalnya emang yang dateng kesini banyakan anak muda (jadi kadang gw berasa ibu-ibu banget kalo makan di sini) plus anak gaul-nya bandung juga hehehe…. tapi hari biasa juga tetep penuh kok apalagi kalo udah jam-jam makan malem sekitar jam 7 sampai jam 8 malem…… pfuiiih ga nyaman banget. soalnya tempat duduknya terbatas dan ngantrinya bisa lama, ga enak dong masih makan diliatin mulu sama yang lagi ngantri, kesannya disuruh cepet2 pergi gitu deh. makanya gue prefer buat dibungkus aja, biar makannya bisa lebih tenang hehehe…. oia tips satu lagi hati-hati buat yang bawa kendaraan karena daerah situ rada gelap, jadi banyak tangan-tangan jahil.

ok deh, selamat ber-kwek-kwek ria ya
jangan lupa cuci tangan sebelum makan…

siapa sih urang bandung yang nggak kenal sama tempat makan yang satu ini?
setau gue hampir semua tau deh, soalnya setiap nanya sama teman dimana nyari tempat makan baso yang enak, udah pasti deh mie baso akung jadi jawabannya. walaupun begitu baru dua kali kok gue makan disini hehehe…. kenapa? selain karena agak jauh alasan paling utama adalah tempat yang selalu ramai bikin gue ga terlalu nyaman untuk makan di sini. tapi untuk siapa pun kalo keinginan untuk makan baso sudah tak terbendung alias ngidam beneran atau ngidam angin-anginan langsung aja dateng, dijamin bakalan pulang dengan kenyang deh. soalnya porsi-nya itu lho ckckck… gede banget, walaupun udah 1/2 porsi nih tetep aja ga muat untuk ukuran perut yang relatif standar (kaya perut gue ini). apalagi kalo pesenannya banyak, alias pesen yang lainnya lagi selain semangkuk bakso…. wah itu sih dijamin ga bisa berdiri sangking kekenyangan hahaha….

mie baso akung

menurut kabar-kabar, mie baso akung ini pertama berjualan di jalan aceh lalu berpindah ke jalan ternate, tapi entah kapan dan tahun berapa gue belom dapet info. setelah semakin sukses mie baso akung pindah ke lokasi yang sekarang ini. untuk specialities-nya ya udah jelas-lah apalagi kalo bukan MIE BASO… tapi seiring dengan selera pelanggan yang beragam, maka sekarang banyak varian lain selain mie baso. kini, mie baso akung juga menyediakan bihun baso dan yamin manis, pelengkapnya selain baso ada juga pilihan lain yaitu pangsit, ceker, tahu dan siomay. uniknya nih kalo kita pesen ga usah susah-susah nyebutnya cukup dengan inisial aja sang koki sudah mengerti, misalnya aja mau pesen 1 porsi bihun kuah pake Baso Pangsit Tahu Ceker dan Siomay cukup bilang pesen 1 porsi bihun kuah BPTCS… simple kan. ga lama kemudian pasti muncul pesanan itu beserta taburan suwiran ayam, sayur sawi, bawang goreng dan irisan daun bawang, jadi pelanggan tinggal menyesuaikan rasa baso sendiri, mau manis ya tambah kecap manis, mau pedes ya tinggal tambah sambel aja… pokoknya smua serba terserah pembeli deh. untuk harga dijamin terjangkau, soalnya harga (termahal) seporsi baso paling komplit saja cuman dibandrol 18.500 rupiah.

Read the rest of this entry »

sebenernya udah lama banget mau blogging tentang midnight culinary di bandung… cuman gitu deh, seperti biasa, malas dan ga sempat hehehehe….
berawal dari rapat kantor yang memutuskan kalau untuk warta pariwisata (buletin terbitan kantor-ku) akhir tahun lalu mau ngebahas tentang kuliner. so, setelah dipilah-pilih keluarlah ide untuk membahas tentang kuliner bandung di kala malam hari, sebagai salah satu artikel. akhirnya terpilihlah 2 orang untuk survei penyusunan artikel, yaitu gw dan radin, tapi seperti acara survei lainnya selalu aja banyak yang mau ikut hehehe…

akhirnya diputuskanlah untuk berangkat pada suatu malam buta di bulan november (udah lama ternyata). dari sekian banyak yang daftar untuk ikutan, ternyata cuma 3 orang termasuk gw yang nongol. perjalanan dimulai dari jam 23.00 wib dan langsung putar-putar kota bandung untuk nyari tempat2 yang potensial dan ramai oleh kuliner-nya. sebenarnya sih, kita udah punya target lokasi yang akan didatangi, cuman pengen aja puter2 dulu… kapan lagi coba iseng2 muter2 bandung tengah malem gini hehehe…

dari berbagai lokasi yang ada di bandung, gw pilih 3 tempat yang bakal direview di blog ini. tempat pertama yaitu:

Kawasan Gardujati
siapa sih yang ga tau jalan gardujati (baca: pusat “hiburan malam” kota bandung) yang lebih identik dengan sebuah gang bernama saritem. eits, jangan berburuk sangka dulu, kita malam itu khusus mau meliput tentang kuliner-nya lho, bukan yang ‘lain’ haha…
kawasan yang masih termasuk daerah pecinan ini mulai ramai sejak jam 4 sore. selain toko2 dan restoran khas cina, juga banyak pedagang kaki lima yang ikut meramaikan suasana jalan ini. kebanyakan pedagang di kawasan ini memang menjual makanan atau minimal sesuatu berhubungan dengan makanan. untuk makanan yang paling gampang ditemui disini (selain chinese food tentunya), yaitu minuman hangat, misalnya bandrek, bajigur, ronde jahe sampai yang standar, kopi dan teh panas. jenis lain yaitu makanan ringan, mulai dari gorengan, ubi dan kacang rebus, mie baso, dan masih banyak lagi. kalau yang tidak puas dengan sekedar makanan ringan, di kawasan ini juga banyak yang menjajakan makanan berat, misalnya saja nasi goreng, mie goreng, nasi rames dan lainnya. kalau mau yang lebih istimewa lagi, di gardujati juga menyediakan extreme food yang berbahan dasar ‘langka’, contoh simple-nya saja, ular dan kodok.

wisata kuliner malam 1

setelah puas berkeliling di kawasan gardujati, akhirnya kita memutuskan untuk mencicipi minuman hangat saja. soalnya ini kan baru tempat pertama yang kita datangi, ntar keburu kenyang lagi hehehe….

Read the rest of this entry »

update: senin, 17/07/2006, 16:55 wib
sumber:
kompas cybermedia>makan dan plesiran


Berbincang, adu gagasan sambil minum kopi, atau melahap tahu cocol (pakai sambal kecap) dan makan makanan asli Indonesia. Itulah mungkin konsep sederhana yang mau disodorkan oleh pemrakarsa Omah Sendok, sebuah tempat bertemu dan makan di kawasan hunian di Taman Mpu Sendok, Jalan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta.

omah-sendok.jpgTempat makan dan tempat ngopi yang bisa dipakai sebagai meeting point seperti Omah Sendok ini memang banyak menjamur di Jakarta, terutama di kawasan hunian yang rada elite seperti Kemang dan juga Senopati di Kebayoran Baru, atau bahkan Menteng di Jakarta Pusat.

Meski tidak persis seperti suasana kafe–kafe di Paris, Perancis, tempat–tempat makan seperti Omah Sendok di Senopati ini bolehlah, cukup teduh. Setidaknya, tempat ini bukan tempat untuk semata–mata makan atau melahap menu santapan melulu. Anda bisa berlama–lama, ngobrol, rapat, dan tukar pikiran sambil menyantap menu Indonesia yang tak kalah sedap dengan menu makanan Barat jika disajikan dengan cita rasa diutamakan.

Ada juga perpustakaan (buku–buku spiritual yang mereka anggap punya nilai universal) di tengah–tengah tempat makan yang lebih mirip sebuah rumah tinggal ini. Anda pun bebas mengetik dengan laptop Anda sembari mencocol tahu. Atau meneguk dawet, atau jus sirsak. Berbincang sambil duduk–duduk (bisa 30 orang) di pinggir kolam renang, di halaman belakang Omah Sendok pun boleh.

Membuang waktukah? Tentu tidak. Coba tengok Cafe Deux Magots dan Cafe de Flor di kawasan Saint–Germain–des–Pres di Paris. Dua kafe paling terkenal di seantero Perancis ini dulu dan juga kini adalah merupakan tempat kongko paling terkemuka di dunia.

Bagaimana tidak? Di kedua kafe inilah dua pemikir terkenal Perancis, Simone de Beauvoir dan juga Jean–Paul Sartre, dalam keseharian (dulu) berbincang sebelum ’menduniakan’ gagasan–gagasan eksistensialis mereka. Konon, mereka bisa menghabiskan waktu berjam–jam berdebat sambil ngopi di kafe. Selain bangunan asli kafe tua di Paris itu sampai kini tak diubah, juga coret–coretan tangan para pemikir terkenal dunia itu pun masih tertinggal.

Kebiasaan duduk berbincang dan adu gagasan sambil minum kopi tidak hanya dilakukan Beauvoir maupun Sartre, tetapi juga para pemikir Perancis lainnya. Tidak heran jika jalan–jalan di sekitar kafe–kafe yang bertebaran di Paris itu diabadikan dengan nama–nama mereka: Visconti, Mazarrine, Buci, de Seine, du Vieux Colombier, Bonaparte, Genegaud….


Nenek dan eyang

“Kalau weekend, pengunjungnya malah yang berusia 25–40 tahun ke atas. Ada malah nenek–nenek, eyang–eyang. Mungkin untuk mengenang makanan tempo doeloe…,” ungkap Ely, panggilan akrab Nurlaely Wicahyuni, sang manajer Omah Sendok yang sebenarnya seorang arsitek lulusan Universitas Brawijaya, Malang.

omah-sendok-2.jpgTak mengherankan. Selain tak terlalu mahal, meski juga tak bisa dibilang murah, tempat makan dan ngopi di Taman Mpu Sendok ini menyediakan berbagai menu asal daerah, seperti sate ikan (Bali), rawon, nasi petis madura, sate ayam ponorogo (Jatim), bakmoy, garang asem, bestik jawa (Jateng), nasi pasundan, ayam bakar (Jabar), dan juga nasi ulam (Betawi).

“Tetapi yang paling laris menu soto tangkar, asli Betawi. Serta minuman khas Betawi, bir pletok. Sungguh, meski namanya bir, tetapi halal lho, non–alkohol, terbuat dari jahe, kayu secang, rempah–rempah, rasanya anget…,” ujar Ely pula.

Riwayat Omah Sendok yang belum dua tahun pun berliku. Merupakan usaha patungan, dengan 10 share–holder. Mereka merupakan teman–teman sekomunitas, kelompok kajian spiritual dan sudah menjadi teman dekat bertahun–tahun.

“Awalnya kami bikin toko buku, galeri buku–buku spiritual yang bernilai universal di Kemang. Kurang lebih bertahan setahun. Lalu cari tempat. Mulanya, tempat ini hanya merupakan tempat ngumpul di antara kami, lama–lama dikelola jadi tempat makan. Sekarang perpustakaannya menjadi pelengkap,” ungkap sang Manajer Omah Sendok pula.

Dan memang, tak hanya acara makan–makan saja dilangsungkan di tempat ini. Sering digelar bedah buku (Selasar Omah) sampai lokakarya yang dilakukan oleh kelompok pasar besar, Carrefour. Ada juga komunitas spiritual kajian semesta ataupun komunitas puisi yang mempergunakan tempat ini.

“Ada 25 orang di Omah Sendok, dari staf dapur, bagian pelayanan seperti waiter, kasir, keamanan…,” tutur Ely pula mengenai pengelola dan karyawannya. Dan rumah di kawasan Taman Mpu Sendok yang seluas 1.400 meter persegi ini pun jadi salah satu tempat bertemu yang terbilang teduh di kawasan Senopati. Tempat adu gagasan, berbincang, sambil menyantap tahu cocol…. (Kompas/Jimmy S Harianto)

warung batagor ririrasanya ga afdol kalo postingan yang sebelumnya ga dibarengi sama postingan ini, kenapa? jawabannya simple, karena batagor kan juga termasuk makanan khas-nya bandung, sodara deket malah sama si baso tahu hehehe… ada sebuah tempat makan batagor yang kayanya ‘wajib’ dikunjungi kalo datang ke bandung, esp. buat org2 jakarta yang emang suka cari makanan ke bandung. tempatnya apalagi kalo bukan warung makan batagor yang bernama batagor riri. buat yang belom tau batagor dan susah bedainnya sama baso tahu, gampang aja kok kalo batagor itu digoreng (BAso TAhu diGOReng = BATAGOR) sedangkan kalo baso tahu dikukus. tapi pengertian itu langsung rancu begitu ada menu baru yaitu batagor kuah…. apalagi bedanya tuh? sebenernya sama aja kok, batagor2 juga cuman dikuah-in kaya baso gitu deh, jadi agak mirip baso malang.

batagor riri 2back to batagor riri, tempat makan batagor yang sudah berdiri sejak tahun 1985 ini dari hari ke hari semakin berjaya saja. malahan sekarang jadi top three-nya tempat makan batagor yang enak. lokasinya ada di jalan burangrang dan sekarang ada cabangnya di pascal hypersquare, gampang kok nyarinya, kalo nyasar bisa liat peta ini. specialities tempat makan ini apalagi kalo bukan batagor, ada dua jenis batagor yaitu batagor bumbu kacang dan batagor kuah. masing2 bisa terdiri dari siomay (kulit pangsit yang dikasih adonan batagor) dan tahu. satu porsi batagor kuah dihargai 10000 perak dengan 1 buah siomay dan 1 buah tahu + kuah yang buanyak, kalo mau batagor bumbu kacang, per-buahnya dihitung 4000 rupiah, emang agak mahal sih dibandingin sama batagor2 lainnya, tapi dijamin ga nyesel deh makan disini. selain batagor ada juga menu lainnya, seperti baso kuah, baso malang, kue2 basah seperti lemper, pastel, beraneka jenis kerupuk, dan minuman. di sini juga ada pojok cemilan, yang jual beraneka keripik2an khas bandung. jadi sekalian makan bisa juga belanja oleh2 di tempat ini. jangan lupa juga beli batagor setengah matang untuk oleh2 orang dirumah ya…

nasi pepes oia ada satu makanan yang lupa, disini juga jual yang namanya nasi pepes. tadinya sih gw pikir biasa aja, tapi tenyata ueenak banget dan emang sesuai dengan tulisan yang tertera… dijamin ketagihan. sebenernya nasinya biasa aja, terbungkus daun pisang, dibumbui santan dan agak berwarna kuning karena pakai kunyit, didalamnya ada irisan ayam, ati ampela, ikan asin jambal roti, kemangi dan cabe rawit. porsinya sih standar, cukup kenyang untuk nasi seharga 7500 rupiah.

beberapa tips yang bisa gw bagi antara lain, kalau mau makan dengan ‘tenang’ dan santai di warung batagor riri (apalagi yang di burangrang) jangan datang pas weekend atau hari libur lainnya, karena dijamin penuh sesak dan ga nyaman. kalo udah pengen banget, bisa dibungkus kok, pesennya pake bumbu kacang sama kuah aja, boleh kok, kuah-nya dihargai sekitar 2000 perak untuk ukuran setengah plastik. tips lain mix and match sendiri rasa kuah-nya kalo dirasa kurang pas, karena emang sering kurang asin, tapi setelah ditambah kecap, garam, saos sambal, sambal cabe rawit, dijamin enak deh… just mix your own taste!!!