<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita si Abril &#187; Kliping</title>
	<atom:link href="http://abril.susiloadhy.net/tag/kliping/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abril.susiloadhy.net</link>
	<description>yang asam.pedes.manis.asin.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 14:07:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>omah sendok, minum kopi sambil adu gagasan</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 06:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/</guid>
		<description><![CDATA[update: senin, 17/07/2006, 16:55 wib sumber: kompas cybermedia&#62;makan dan plesiran Berbincang, adu gagasan sambil minum kopi, atau melahap tahu cocol (pakai sambal kecap) dan makan makanan asli Indonesia. Itulah mungkin konsep sederhana yang mau disodorkan oleh pemrakarsa Omah Sendok, sebuah tempat bertemu dan makan di kawasan hunian di Taman Mpu Sendok, Jalan Senopati, Kebayoran Baru, <a href="http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993333;">update: senin, 17/07/2006,  16:55 wib<br />
sumber: </span><a href="http://www.kompas.co.id/jalanjalan/news/0607/17/045540.htm"><span style="color: #993333;">kompas cybermedia&gt;makan dan plesiran<br />
</span></a></p>
<p><a href="http://www.kompas.co.id/jalanjalan/news/0607/17/045540.htm"> </a></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><br />
Berbincang, adu gagasan sambil minum kopi, atau melahap tahu cocol (pakai sambal kecap) dan makan makanan asli Indonesia. Itulah mungkin konsep sederhana yang mau disodorkan oleh pemrakarsa Omah Sendok, sebuah tempat bertemu dan makan di kawasan hunian di Taman Mpu Sendok, Jalan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><img id="image77" style="width: 122px; height: 111px;" src="http://abril.susiloadhy.net/wp-content/uploads/2006/12/omah-sendok.thumbnail.jpg" alt="omah-sendok.jpg" align="left" /><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Tempat makan dan tempat ngopi yang bisa dipakai sebagai <em><span style="font-family: Verdana;">meeting point</span></em> seperti Omah Sendok ini memang banyak menjamur di Jakarta, terutama di kawasan hunian yang rada elite seperti Kemang dan juga Senopati di Kebayoran Baru, atau bahkan Menteng di Jakarta Pusat.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Meski tidak persis seperti suasana kafeâ€“kafe di Paris, Perancis, tempatâ€“tempat makan seperti Omah Sendok di Senopati ini bolehlah, cukup teduh. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Setidaknya, tempat ini bukan tempat untuk semataâ€“mata makan atau melahap menu santapan melulu. Anda bisa berlamaâ€“lama, ngobrol, rapat, dan tukar pikiran sambil menyantap menu Indonesia yang tak kalah sedap dengan menu makanan Barat jika disajikan dengan cita rasa diutamakan.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Ada juga perpustakaan (bukuâ€“buku spiritual yang mereka anggap punya nilai universal) di tengahâ€“tengah tempat makan yang lebih mirip sebuah rumah tinggal ini. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Anda pun bebas mengetik dengan laptop Anda sembari mencocol tahu. Atau meneguk dawet, atau jus sirsak. Berbincang sambil dudukâ€“duduk (bisa 30 orang) di pinggir kolam renang, di halaman belakang Omah Sendok pun boleh.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Membuang waktukah? Tentu tidak. Coba tengok Cafe Deux Magots dan Cafe de Flor di kawasan Saintâ€“Germainâ€“desâ€“Pres di Paris. Dua kafe paling terkenal di seantero Perancis ini dulu dan juga kini adalah merupakan tempat kongko paling terkemuka di dunia.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bagaimana tidak? Di kedua kafe inilah dua pemikir terkenal Perancis, Simone de Beauvoir dan juga Jeanâ€“Paul Sartre, dalam keseharian (dulu) berbincang sebelum â€™menduniakanâ€™ gagasanâ€“gagasan eksistensialis mereka. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Konon, mereka bisa menghabiskan waktu berjamâ€“jam berdebat sambil ngopi di kafe. Selain bangunan asli kafe tua di Paris itu sampai kini tak diubah, juga coretâ€“coretan tangan para pemikir terkenal dunia itu pun masih tertinggal.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Kebiasaan duduk berbincang dan adu gagasan sambil minum kopi tidak hanya dilakukan Beauvoir maupun Sartre, tetapi juga para pemikir Perancis lainnya. Tidak heran jika jalanâ€“jalan di sekitar kafeâ€“kafe yang bertebaran di Paris itu diabadikan dengan namaâ€“nama mereka: Visconti, Mazarrine, Buci, de Seine, du Vieux Colombier, Bonaparte, Genegaud&#8230;.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><br />
Nenek dan eyang</span></strong></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">&#8220;Kalau <em><span style="font-family: Verdana;">weekend</span></em>, pengunjungnya malah yang berusia 25â€“40 tahun ke atas. Ada malah nenekâ€“nenek, eyangâ€“eyang. Mungkin untuk mengenang makanan tempo doeloe&#8230;,&#8221; ungkap Ely, panggilan akrab Nurlaely Wicahyuni, sang manajer Omah Sendok yang sebenarnya seorang arsitek lulusan Universitas Brawijaya, Malang.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><img id="image78" src="http://abril.susiloadhy.net/wp-content/uploads/2006/12/omah-sendok-2.thumbnail.jpg" alt="omah-sendok-2.jpg" width="115" height="131" align="left" /><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Tak mengherankan. Selain tak terlalu mahal, meski juga tak bisa dibilang murah, tempat makan dan ngopi di Taman Mpu Sendok ini menyediakan berbagai menu asal daerah, seperti sate ikan (Bali), rawon, nasi petis madura, sate ayam ponorogo (Jatim), bakmoy, garang asem, bestik jawa (Jateng), nasi pasundan, ayam bakar (Jabar), dan juga nasi ulam (Betawi).</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">&#8220;Tetapi yang paling laris menu soto tangkar, asli Betawi. Serta minuman khas Betawi, bir pletok. Sungguh, meski namanya bir, tetapi halal lho, nonâ€“alkohol, terbuat dari jahe, kayu secang, rempahâ€“rempah, rasanya anget&#8230;,&#8221; ujar Ely pula.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Riwayat Omah Sendok yang belum dua tahun pun berliku. Merupakan usaha patungan, dengan 10 shareâ€“holder. Mereka merupakan temanâ€“teman sekomunitas, kelompok kajian spiritual dan sudah menjadi teman dekat bertahunâ€“tahun.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">&#8220;Awalnya kami <em><span style="font-family: Verdana;">bikin</span></em> toko buku, galeri bukuâ€“buku spiritual yang bernilai universal di Kemang. Kurang lebih bertahan setahun. Lalu cari tempat. Mulanya, tempat ini hanya merupakan tempat <em><span style="font-family: Verdana;">ngumpul</span></em> di antara kami, lamaâ€“lama dikelola jadi tempat makan. Sekarang perpustakaannya menjadi pelengkap,&#8221; ungkap sang Manajer Omah Sendok pula.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Dan memang, tak hanya acara makanâ€“makan saja dilangsungkan di tempat ini. Sering digelar bedah buku (Selasar Omah) sampai lokakarya yang dilakukan oleh kelompok pasar besar, Carrefour. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Ada juga komunitas spiritual kajian semesta ataupun komunitas puisi yang mempergunakan tempat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">&#8220;Ada 25 orang di Omah Sendok, dari staf dapur, bagian pelayanan seperti waiter, kasir, keamanan&#8230;,&#8221; tutur Ely pula mengenai pengelola dan karyawannya. Dan rumah di kawasan Taman Mpu Sendok yang seluas 1.400 meter persegi ini pun jadi salah satu tempat bertemu yang terbilang teduh di kawasan Senopati. Tempat adu gagasan, berbincang, sambil menyantap tahu cocol&#8230;. <strong><span style="font-family: Verdana;">(</span></strong><em><strong><span style="font-family: Verdana;">Kompas</span></strong></em><strong><span style="font-family: Verdana;">/Jimmy S Harianto)</span></strong><a href="http://www.kompas.co.id/jalanjalan/news/0607/17/045540.htm"><br />
</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

