<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita si Abril &#187; arsitektur</title>
	<atom:link href="http://abril.susiloadhy.net/tag/arsitektur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abril.susiloadhy.net</link>
	<description>yang asam.pedes.manis.asin.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 14:07:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Istana Pagaruyuang…..burned!!!</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2007 06:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Momentum]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin ada kabar yang sangat menyedihkan, karena satu lagi dari peninggalan pusaka di indonesia hilang. Pusaka tersebut adalah Istana Basa Pagaruyuang, Kanagrian (kecamatan) Pagaruyuang, Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat yang telah habis terbakar oleh sambaran petir pada hari Selasa, 27 Februari 2007 kemarin, sekitar pukul 20.00 WIB. Api dikabarkan sangat cepat menjalar di atap bangunan <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kemarin ada kabar yang sangat menyedihkan, karena satu lagi dari peninggalan pusaka di indonesia hilang.</span></p>
<p>Pusaka tersebut adalah Istana Basa Pagaruyuang, Kanagrian (kecamatan) Pagaruyuang, Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat yang telah habis terbakar oleh sambaran petir pada hari Selasa, 27 Februari 2007 kemarin, sekitar pukul 20.00 WIB. Api dikabarkan sangat cepat menjalar di atap bangunan yang terbuat dari ijuk itu. Sedihnya lagi peninggalan Kerajaan Pagaruyuang berupa benda-benda bersejarah juga ikut terbakar habis&#8230; (tapi kok kabar dari Puti Raudha Thain, ahli waris Kerajaan Pagaruyuang, kok bilangnya ga ada barang bernilai sejarah didalamnya? so, yang mana yang bener sih?).</p>
<p>Walaupun sebenarnya Istana yang terbakar kemarin merupakan replika dari istana aslinya yang juga terbakar pada tahun 1961, tapi tetap amat disayangkan salah satu objek wisata terbesar di Sumatera Barat ini harus musnah tanpa bekas. Padahal saya dan mungkin juga banyak dari teman-teman belum sempat berkunjung kesana&#8230;.</p>
<p>Istana Pagaruyuang atau dalam bahasa Minang disebut Ustano Basa Pagaruyuang dibangun karena Ustano Si Linduang Bulan, tempat Kerajaan Pagaruyuang, terbakar pada tahun 1804. Namun sayang pada tahun 1961 yang telah dibangun terbakar lagi. Kemudian pada tahun 1975, ada inisiatif dari Pemda Provinsi Sumbar yang didukung pemerintah pusat untuk membangun kembali Ustano (Istana) yang terbakar dengan syarat tidak untuk diperuntukkan bagi tempat tinggal. Untuk keperluan itu maka, pihak keluarga istana menyerahkan tanah ulayat ahli waris Daulat Yang Dipertuan Raya Pagaruyuang yang terletak di Padang Siminyak, Jorong Balai Jango, Kenagarian Pagaruyuang, Kabupaten Tanah Datar guna dibangunnya kembali Iistana yang kembali terbakar selasa malam kemarin.</p>
<p>yah, semoga saja pemda setempat dapat segera merehabilitasi kembali Istana Pagaruyung yang bersejarah ini, seperti yang terjadi pada tahun 1975 lampau&#8230;.</p>
<p>semoga&#8230;</p>
<p>berita lebih lanjut dapat dilihat di:<br />
&gt; <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/27/time/203933/idnews/747766/idkanal/10">detik.com</a><br />
&gt; blog <a href="http://priyatna.blogspot.com/2007/02/istana-pagaruyung-terbakar.html">mpri</a> dan <a href="http://www.baledesain.com/2007/02/in-memoriam-istana-pagaruyung.html">ikeow</a><br />
&gt; <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/28/utama/3349441.htm">kompas</a><br />
&gt; <a href="http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=125887">media indonesia online</a><br />
&gt; <a href="http://www.indonesia.go.id/index.php/content/view/3186/707/">portal nasional</a> RI<br />
atau foto-foto cantik istana ini di:<br />
&gt; <a href="http://www.fotografer.net/isi/galeri/index.php?katakunci=Pagaruyung&amp;searchid=5&amp;bSubmit=Cari">fotografer.net</a><br />
&gt; <a href="http://www.west-sumatra.com/">west-sumatra.com</a></p>
<p>sekali lagi, turut berduka (lagi) untuk pusaka indonesia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>candirejo: sebuah pembelajaran dari kaki pegunungan menoreh</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Dec 2006 03:36:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Interesting Spot]]></category>
		<category><![CDATA[JalanJalan]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[candirejo]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/</guid>
		<description><![CDATA[Berlokasi sekitar 3 km ke arah tenggara Candi Borobudur, atau kira-kira 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang bernama Candirejo. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki luas sekitar 3 kilometer persegi dan dihuni oleh 4.056 penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) <a href="http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="ES-CO">Berlokasi sekitar 3 km ke arah tenggara Candi Borobudur, atau kira-kira 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang bernama Candirejo. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki luas sekitar 3 kilometer persegi dan dihuni oleh 4.056 penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) dusun. Lokasi desa ini terletak pada bentang alam yang merupakan gabungan antara dataran rendah dan kaki pegunungan yang tererosi, sehingga banyak dijumpai keunikan geologi seperti adanya mata air asin serta bongkahan bebatuan sisa gunung api (<em>Watu Kendil</em>, <em>Watu Tambak</em>, <em>Watu Ambeng</em>, dan lainnya). Secara geologis, wilayah Desa Candirejo berupa daerah berbukit yang termasuk ke dalam kawasan Pegunungan Menoreh, yang merupakan bekas gunung api tua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="ES-CO">Menurut cerita turun temurun, nama Candirejo awalnya berasal dari kata <em>Candighra</em> yang seiring dengan waktu berubah menjadi <em>Candirga,</em> lalu <em>Candirja</em> dan terakhir Candirejo. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%">Kata Candi sendiri berarti batu, sedangkan <em>Rejo</em> berarti subur, sehingga Candirejo dapat berarti desa berbatu yang subur. Cerita lain menyebutkan bahwa nama Candirejo berasal dari ditemukannya sebuah candi di tempat ini. Berdasarkan penemuan berupa batu candi, arca dan yoni, membuktikan bahwa memang pernah ada sebuah candi di desa ini, yang oleh penduduk sekitar disebut Candi Brangkal.</span></p>
<p><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/329856670/candirejo_1.html"></a></p>
<div style="text-align: center"><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/329856670/candirejo_1.html"><img src="http://farm1.static.flickr.com/126/329856670_1c42423e6b.jpg" border="0" alt="candirejo 1" width="422" height="301" /></a></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%"><br />
Wilayah Candirejo yang berada dalam kawasan Cagar Budaya Borobudur membuat kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya berkaitan erat dengan perkembangan Borobudur. Pengaruh ekonomi dan gegar budaya akibat pertumbuhan pariwisata di Borobudur merupakan dampak yang dengan mudah ditemui. Kehidupan masyarakat Candirejo yang saat ini masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan perhutanan (<em>social argo-forestry</em>) perlahan tapi pasti berubah akibat pariwisata. Kaum muda lebih senang menawarkan jasa sebagai <em>guide</em> atau berjualan di kawasan Candi Borobudur. Faktor ekonomi pertanian yang makin lama dianggap kurang berkembang, membuat penduduk Candirejo banyak yang akhirnya mengalihkan mata pencahariannya pada sektor jasa pariwisata. Akibatnya â€™bebanâ€™ Candi Borobudur yang disebabkan oleh pariwisata menjadi sangat berat. Kencenderungan ini membuat resah berbagai pihak, khususnya pemerintah dan pemerhati pelestarian pusaka. Salah satu alasannya adalah bila kondisi fisik dan budaya masyarakat di sekitar kawasan Borobudur berubah, maka akan berdampak negatif bagi keberlanjutan Borobudur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span id="more-76"></span><br />
<span style="font-size: 8pt; line-height: 150%">Cagar budaya Borobudur memiliki nilai historis dan budaya yang saling terkait dengan kawasan dan masyarakat disekitarnya. Kondisi ini sudah berlangsung sejak awal dibangunnya Borobudur pada abad ke-8, jadi bisa dipastikan tanpa keterkaitan antara alam dan budaya, Borobudur akan kehilangan â€™jiwanyaâ€™. Oleh karena itu konservasi terhadap <em>intangible cultural heritage</em> dan penguatan masyarakat sekitar kawasan Borobudur menjadi penting untuk dilakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%">Pegunungan Menoreh merupakan bentang alam yang berfungsi sebagai penyangga Borobudur. </span><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="ES-CO">Wilayah Candirejo sendiri memiliki cakupan luas permukaan 48.735 kilometer persegi dari Pegunungan Menoreh. Kawasan ini menjadi daerah tangkapan air dari ke tiga sungai, yaitu Sungai Progo, Sungai Sileng dan Sungai Serayu. Jika kawasan ini gundul, selain menyebabkan ketidaksuburan ladang pertanian juga akan mengakibatkan banjir di wilayah Borobudur. Kondisi ini akan semakin memperburuk kehidupan warga sekitar dan juga meningkatkan arus urbanisasi yang pada akhirnya akan mengurangi keterikatan kultur masyarakatnya dengan Candi Borobudur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="ES-CO">Berdasarkan latar belakang tersebut di atas serta kesadaran bersama, maka penduduk Desa Candirejo sepakat membuat solusi untuk keberlanjutan kawasan Borobudur sekaligus meningkatkan â€™nilaiâ€™ desanya. Salah satu langkah awal adalah dengan menjadikan Desa Candirejo sebagai desa wisata berbasis masyarakat. Pengembangan desa wisata ini juga dimaksudkan agar aktivitas pariwisata tidak hanya terpusat di Borobudur, namun juga ke wilayah di sekitarnya sehingga, wisatawan yang datang akan lebih mengenal Candi Borobudur dan ikut melestarikannya. Tujuan lainnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesadaran akan konservasi budaya di kawasan Borobudur. Dalam pengembangannya, desa wisata yang diresmikan tanggal 18 April 2003 ini, difasilitasi oleh Yayasan Patra-Pala <em>Institute for Social Ecology and Ecotourism</em> dengan bantuan dana dari JICA (<em>Japan International Cooperation Agency</em>).</span></p>
<p><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/329856819/candirejo_2.html"></a></p>
<div style="text-align: center"><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/329856819/candirejo_2.html"><img src="http://farm1.static.flickr.com/152/329856819_5ef92db6a1.jpg" border="0" alt="candirejo 2" width="413" height="291" /></a></div>
<div><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="SV"></p>
<p>Desa wisata ini sepenuhnya dikelola oleh masyarakat desanya secara mandiri melalui koperasi. Pengelolaannya mencakup penyediaan <em>local guide</em>, <em>home stay </em>di rumah tradisional Jawa, konsumsi, transportasi lokal, cenderamata, paket wisata hingga atraksi hiburan dan kesenian. Paket wisata yang ditawarkan berkisar antara Rp. 50.000,- sampai dengan Rp. 350.000,- tergantung dari pengalaman berwisata yang diinginkan. Misalnya saja, untuk paket wisata tinggal bersama penduduk (<em>home stay</em>) dipatok hanya dengan harga Rp. 50.000,- per-malam sudah termasuk makan 3 kali dan <em>snack</em>. Daya tarik yang ditawarkan diantaranya wisata jelajah desa dengan bersepeda atau <em>andong, home industry</em> penduduk, <em>trekking/hiking</em> ke Pegunungan Menoreh, agro wisata, dan tentunya berwisata ke Borobudur. Pemandangannya yang indah dengan siluet Candi Borobudur dikejauhan serta suasana desa beserta penduduknya yang ramah, merupakan keunggulan desa wisata ini.</p>
<p></span></p>
<p><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/334717359/candirejo_3.html"></a></p>
<div style="text-align: center"><a class="tt-flickr" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/334717359/candirejo_3.html"><img src="http://farm1.static.flickr.com/166/334717359_25481d4adf.jpg" border="0" alt="candirejo 3" width="408" height="288" /></a></div>
</div>
<p align="justify"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="SV">Candirejo juga memiliki tradisi dan seni budaya lokal yang masih dipertahankan, diantaranya <em>nyadran</em>, yaitu upacara mengirim doa untuk arwah leluhur setiap bulan <em>Ruwah</em> (kalender Jawa) dan Bersih Desa, yang merupakan ritual syukuran atas keberhasilan panen. Selain acara tahunan, Candirejo juga menyuguhkan acara kesenian berupa <em>jathilan</em> (kuda lumping), wayang kulit, dan tari-tarian seperti <em>Gatholocol</em>, <em>Wulangsunu</em>, <em>Kubrosiswo</em> dan Shalawatan. Acara kesenian diadakan secara periodik maupun atas permintaan khusus dari wisatawan. Selain menikmati kesenian tradisional, wisatawan yang datang ke Candirejo juga bisa belajar kesenian rakyat, seperti tari tradisional, kerajinan tangan dan gamelan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%" align="justify"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="SV">Keberhasilan Desa Candirejo semakin dikuatkan dengan adanya program <em>digital village</em> (kampung digital) dari telkom flexi bersama-sama dengan 9 desa lainnya di Jawa Tengah. Program ini diadakan dengan tujuan agar Desa Candirejo semakin dikenal, terutama di dunia internasional, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke desa wisata ini. Program ini juga dilaksanakan dalam rangka pengembangan telekomunikasi bagi keperluan wisatawan serta pengenalan teknologi informasi bagi penduduk desa sendiri. Rencana kedepannya akan dikembangkan <em>internet goes to school</em>, yaitu pemasangan jaringan internet di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Magelang, termasuk Desa Candirejo, sehingga diharapkan para siswa dapat memperoleh informasi lebih luas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 8pt; line-height: 150%" lang="SV">Upaya yang dilakukan secara bersama-sama oleh penduduk Desa Candirejo sudah memberikan dampak positif bagi keberlanjutan desa tersebut, sehingga kekayaan budaya masyarakat di sekitar Candi Borobudur dapat terpelihara dengan baik. Dalam perkembangan desa ini, terlihat adanya sistem kerjasama yang baik antara masyarakat, pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat, sehingga semua pihak merasa senang dan diuntungkan. Namun yang terpenting adalah pusaka saujana Borobudur akan semakin lestari, sehingga masih dapat dinikmati oleh generasi mendatang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%"><span style="font-size: 5pt; line-height: 150%; color: black;">____________________________<br />
Disarikan dari berbagai sumber dalam rangkaian kegiatan <em>3<sup>rd</sup> Borobudur Field School on Borobudur Cultural Landscape Heritage Conservation</em> di Yogyakarta, 27 Maret â€“ 2 April 2006 dan media internet (<a href="http://www.desa-digital.com/"><span style="text-decoration: none; color: black;">www.desa-digital.com</span></a>, <a href="http://www.central-java-tourism.com/"><span style="text-decoration: none; color: black;">www.central-java-tourism.com</span></a>, <a href="http://cybertravel.cbn.net.id/"><span style="text-decoration: none; color: black;">http://cybertravel.cbn.net.id/</span></a>). Telah dimuat dalam Warta Pariwisata, sebuah buletin terbitan Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) ITB.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/22/candirejo-sebuah-pembelajaran-dari-kaki-pegunungan-menoreh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

