update: rabu, 21 februari 2007
sumber: kompas cetak>humaniora
Kontekstualisasi Ziarah (1)
Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak
oleh: Evy Rachmawati
Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat.
Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Sejak pagi para peziarah datang silih berganti, sebagian datang bersama rombongannya dari berbagai daerah. Begitu masuk pintu gapura sebelah timur kompleks makam, mereka dikerumuni belasan anak dan orang dewasa peminta sedekah.
Para peziarah lalu memasuki pintu serambi muka untuk berpamitan pada salah seorang juru kunci yang menunggu di ruang itu. Mereka kemudian menuju ke arah Barat, yaitu ruang di depan pintu pasujudan (pintu Selama Tangkep). Pada dinding di lorong menuju ruangan itu terdapat barang-barang keramik atau porselen dari Tiongkok.
Setelah berwudu, puluhan peziarah duduk bersimpuh di depan pintu pasujudan yang tertutup rapat. Mereka lalu memanjatkan doa sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam di Jawa Barat. Seusai berdoa, mereka bergantian menghampiri pintu pasujudan untuk menaburkan bunga maupun sekadar menyentuh pintu.
Read the rest of this entry »
hari ini di jam 4 sore di kantor ada acara nonton DVD bareng. awalnya sih gw cuek dan merasa nggak terlalu penting, soalnya disebutnya cuman “nonton bareng film kampanyenya Al Gore”… males dong, karena emang gue pikir isinya tentang politik gitu. apalagi gue juga belom pernah denger ada DVD ini. ternyata, film yang mau ditonton itu judulnya an inconvenient truth yang menceritakan kampanye lingkungan hidup-nya Al Gore tentang global warming atawa pemanasan global.
film yang juga menyisipkan sisi-sisi kehidupan Al Gore ini sangat menarik dan menurut gue penting banget untuk ditonton. kenapa? karena isu yang diangkat sangat terkait erat dengan keberlanjutan kehidupan, keberlanjutan bumi sebagai rumah kita dan tentunya terkait dengan keberlanjutan manusia. dari fakta-fakta yang disebutkan bisa disimpulkan kalau sekarang ini kita hidup dalam sebuah bom waktu yang dapat meledak kapan saja akibat pemanasan global. jika prediksi para peneliti dunia benar, maka kira-kira sepuluh tahun dari sekarang pemanasan global secara drastis akan mengubah siklus di bumi ini menjadi putaran kehancuran yang dapat menyebabkan perubahan cuaca ekstrim, banjir, kekeringan, epidemi dan bahkan gelombang panas mematikan yang belum pernah kita alami. kondisi ini tentunya akan sangat membahayakan makhluk hidup dibumi, termasuk kita….manusia.
Read the rest of this entry »
Berlokasi sekitar 3 km ke arah tenggara Candi Borobudur, atau kira-kira 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang bernama Candirejo. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki luas sekitar 3 kilometer persegi dan dihuni oleh 4.056 penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) dusun. Lokasi desa ini terletak pada bentang alam yang merupakan gabungan antara dataran rendah dan kaki pegunungan yang tererosi, sehingga banyak dijumpai keunikan geologi seperti adanya mata air asin serta bongkahan bebatuan sisa gunung api (Watu Kendil, Watu Tambak, Watu Ambeng, dan lainnya). Secara geologis, wilayah Desa Candirejo berupa daerah berbukit yang termasuk ke dalam kawasan Pegunungan Menoreh, yang merupakan bekas gunung api tua.
Menurut cerita turun temurun, nama Candirejo awalnya berasal dari kata Candighra yang seiring dengan waktu berubah menjadi Candirga, lalu Candirja dan terakhir Candirejo. Kata Candi sendiri berarti batu, sedangkan Rejo berarti subur, sehingga Candirejo dapat berarti desa berbatu yang subur. Cerita lain menyebutkan bahwa nama Candirejo berasal dari ditemukannya sebuah candi di tempat ini. Berdasarkan penemuan berupa batu candi, arca dan yoni, membuktikan bahwa memang pernah ada sebuah candi di desa ini, yang oleh penduduk sekitar disebut Candi Brangkal.

Wilayah Candirejo yang berada dalam kawasan Cagar Budaya Borobudur membuat kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya berkaitan erat dengan perkembangan Borobudur. Pengaruh ekonomi dan gegar budaya akibat pertumbuhan pariwisata di Borobudur merupakan dampak yang dengan mudah ditemui. Kehidupan masyarakat Candirejo yang saat ini masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan perhutanan (social argo-forestry) perlahan tapi pasti berubah akibat pariwisata. Kaum muda lebih senang menawarkan jasa sebagai guide atau berjualan di kawasan Candi Borobudur. Faktor ekonomi pertanian yang makin lama dianggap kurang berkembang, membuat penduduk Candirejo banyak yang akhirnya mengalihkan mata pencahariannya pada sektor jasa pariwisata. Akibatnya ’beban’ Candi Borobudur yang disebabkan oleh pariwisata menjadi sangat berat. Kencenderungan ini membuat resah berbagai pihak, khususnya pemerintah dan pemerhati pelestarian pusaka. Salah satu alasannya adalah bila kondisi fisik dan budaya masyarakat di sekitar kawasan Borobudur berubah, maka akan berdampak negatif bagi keberlanjutan Borobudur.
Read the rest of this entry »

workshop greenmap bandung
———————-
1 syawal 1427 H
lebaran tahun ini
masih tetap dilalui berdua, dengan keluarga tentunya
karena kesibukan kantor dan yang lainnya
tidak ada lagi waktu tersisa untuk sekedar bikin kue atau puding
paling cuma bikin pastel kering as special request by ibuÂ

lainnya cuma kue-kue biasa dan itu pun dibeli
untuk dirumah, dirumah ibu, dirumah mama
dan baru sadar kalau lebaran ini ga ada kastangel sama nastar
yang biasanya selalu ada di tiap rumah, tiap lebaran datang

tapi tak apa
yang penting tradisi mudik
alias pulang ke kota bagi kita
kemana lagi kalau bukan ke jakarta

dekat, cepat, praktis, lewat jalanan yang lenggang tentunya

apalagi kalau bukan tol cipularang
Â
tapi apa masih bisa disebut mudik ya?
…
hari yang dinanti akhirnya tiba
setelah sholat ied di lapangan/masjid
tradisi lainnya yang paling ditunggu yaitu makan ketupat
tahun ini, ketupat berganti dengan nasi kebuli
kenyang makan dan minum, tradisi berlanjut
dilanjutkan kumpulkumpul dengan keluarga

silaturahmi, family gathering, makanmakan, tukar cerita
dan yang paling utama bermaafmaafan
serta sungkeman pada orang tua
selanjutnya saling mengunjungi kerabat, tetangga, saudara
hal yang sama berulang
datang, bersalamsalaman, sedikit bertukar cerita, makan minum
lalu kembali pamit untuk mengulang kembali hal yang sama
di tempat yang berbeda
selanjutnya tiap keluarga punya tradisi yang berbeda
meneruskan silaturahmi pada hari-hari berikutnya
atau berekreasi bersama keluarga
atau bahkan harus kembali bekerja
…
hanya satu yang sama
semua mendapatkan keberkahan
di hari lebaran ini
1 syawal 1427 H
———————-