<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita si Abril &#187; Things to Share</title>
	<atom:link href="http://abril.susiloadhy.net/category/things-to-share/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abril.susiloadhy.net</link>
	<description>yang asam.pedes.manis.asin.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 14:07:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>membantu bumi, harus mau nggak nyaman…</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2011/04/18/membantu-bumi-harus-mau-nggak-nyaman/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2011/04/18/membantu-bumi-harus-mau-nggak-nyaman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 03:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[a Must List]]></category>
		<category><![CDATA[Inside Out]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[seorang teman pernah berkata: &#8220;andaikan umur bumi ini 24 jam, manusia (homo sapiens) pertama muncul 3 menit sebelum tengah malam&#8230;&#8221; manusia muncul terakhir dari siklus kehidupan bumi, tapi manusia pula yang memulai kehancuran di muka bumi. padahal menurut agama yang saya anut, manusia itu makhluk paling sempurna, artinya manusia juga harusnya bisa bersikap sempurna dan <a href="http://abril.susiloadhy.net/2011/04/18/membantu-bumi-harus-mau-nggak-nyaman/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">seorang teman pernah berkata:<br />
<em>&#8220;andaikan umur bumi ini 24 jam, manusia (homo sapiens) pertama muncul 3 menit sebelum tengah malam&#8230;&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">manusia muncul terakhir dari siklus kehidupan bumi, tapi manusia pula yang memulai kehancuran di muka bumi. padahal menurut agama yang saya anut, manusia itu makhluk paling sempurna, artinya manusia juga harusnya bisa bersikap sempurna dan bisa menjaga kehidupannya supaya tidak punah kan? supaya tetap hidup dengan nyaman dan dapat berdampingan dengan makhluk hidup lainnya, tanpa saling menghancurkan. tapi, kenyataannya apa yang terjadi sekarang?<br />
manusia ada, maka ada perubahan<br />
manusia ada, maka ada ekploitasi besar-besaran dengan dalih kesejahteraan<br />
manusia ada, maka ekosistem di bumi tidak lagi seimbang<br />
manusia ada, maka  ada kehancuran di bumi juga semakin nyata<br />
&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">sebagai manusia, kita sebenarnya pernah berpikir gak sih untuk bisa hidup seimbang dengan alam&#8230;<br />
pernah tidak sih kita berpikir kalau kita hidup tidak sendiri, kita hidup  dalam  satu ekosistem berantai yang saling bergantung&#8230;<br />
berpikir untuk bisa meninggalkan warisan kehidupan ini bagi generasi selanjutnya&#8230;<br />
berpikir bahwa kita bisa melakukan sesuatu, walau kontribusi kita tidak akan terlihat dari mikroskop elektron sekalipun&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">sepuluh tahun yang lalu saya pun sama dengan manusia lain pada umumnya, tidak peduli dengan apa itu keberlanjutan lingkungan, tidak peduli saya mendapatkan air bersih dari mana, tidak peduli sampah yang saya buang akan bermuara ke mana, tidak peduli kalau sewaktu-waktu saya tidak akan bisa bernafas karena oksigen di bumi ini sudah habis, lenyap tak berbekas.<br />
kesadaran itu dimulai secara bertahap, pertama dari obrolan santai sana-sini dengan teman2 (baru) yang kebanyakan aktivis lingkungan atau apalah sebutannya (salah satu kutipannya sudah tersebut di atas); kedua dari secara tidak sengaja terjebak untuk ikutan nonton video <em>inconvenient truth</em>-nya Al-Gore; dan terakhir saat berhari-hari harus mengalami penghematan air besar-besaran, karena sumber air bersih di kost-an waktu jaman kuliah ngadat.</p>
<p><span id="more-109"></span><br />
smua itu bikin saya tersadar dan akhirnya tergerak untuk ikut berbuat sesuatu yang ber-bau lingkungan. karena umur masih muda dan semangat masih meluap-luap, saya sempat ikutan jadi sukarelawan (bhs kerennya <em>volunteer</em>) organisasi lingkungan hidup bermaskot panda, trus pernah juga ikutan kegiatan sana sini plus ikut kepanitiaan ini-itu (baca: bantu-bantu teman) dari mulai bikin poster, nempel poster, bagiin stiker/selebaran,  ikut bersih-bersih lingkungan, sampe ikutan demo lingkungan. setelah dijalani beberapa saat kok ya malah nambah kegiatan saya yang sebelumnya memang sudah banyak, takut kuliah keteteran trus diomelin orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk pelan-pelan menjauh dari segala aktivitas (yg menurut saya) ber-bau lingkungan itu. tapi, entah kenapa rasanya kok saya merasa sudah saatnya untuk berbuat sesuatu, membuat <em>at least </em>perubahan untuk diri sendiri, daripada sekedar ikutan kegiatan sana-sini yang seringnya cuman bikin energi fisik terkuras dan buntutnya jadi sakit atau tugas kuliah gak selesai. pelan-pelan saya mulai merubah kebiasaan hidup, mulai dari yang kecil dan kelihatan sepele tapi kalau jadi kebiasaan seenggaknya ke depannya bisa ditularkan ke lingkungan di sekitar saya.  kebiasaan-kebiasaan baru saya semakin bertambah seiring dengan bertambahnya faktor U serta bertambahnya tanggung jawab saya yang kini menjadi seorang ibu, isteri, dan seorang pegawai pemerintah.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008080;"><strong>membuang sampah</strong> <strong>pada tempatnya</strong></span> merupakan kebiasaan baru dan menjadi janji pertama saya untuk diri sendiri sejak saat itu, tentunya tidak sekedar membuang sampah pada tempatnya, tapi makin lama makin berkembang menjadi menyimpan sampah dalam tas jika tidak menemukan tempat sampah yang layak, <span style="color: #008080;"><strong>memilah sampah</strong></span> organik-anorganik, memilah sampah (khususnya plastik, botol, kaleng) jika masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain. intinya 3R seperti yang banyak disebutkan di kampanye2 lingkungan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">saya <span style="color: #008080;"><strong>berhemat air</strong></span> melalui mandi dengan shower (bukan dengan tidak mandi lho!), menadah air hujan untuk menyiram tanaman, menyimpan air sisa berendam anak untuk membersihkan kamar mandi, mencuci baju menggunakan mesin cuci jika sudah banyak, dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">saya juga sedapat mungkin <span style="color: #008080;"><strong>menghindari pemakaian kantong plastik, styrofoam, maupun produk kemasan tidak ramah lingkungan</strong></span>. solusinya saya menggunakan kantong belanja yang saya bawa sendiri (istilah populer sekarang sih sering disebut &#8216;diet kantong plastik&#8217;) atau menggunakan wadah sendiri  untuk mengganti produk styrofoam jika misalnya harus membungkus makanan atau membeli makanan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #008080;">mengurangi pemakaian tissue</span></strong>, menggunakan kertas bekas hingga kedua sisinya digunakan, menyumbangkan buku bacaan dan pakaian yang sudah tidak diperlukan lagi.</p>
<p>saya dan suami <strong><span style="color: #008080;">berhemat listrik</span></strong> dengan pantang menyalakan listrik saat siang hari (kecuali jika mendung, gelap, itu pun cuma di ruang tengah saja), malam hari menyalakan lampu hanya di ruangan yang dihuni/digunakan bersktivitas saja, mematikan lampu jika tidur, mencabut stop kontak jika sudah tidak digunakan (mis. setelah men-charge HP), <strong><span style="color: #008080;">menyalakan AC secara moderat </span></strong>dan jika diperlukan saja.</p>
<p style="text-align: justify;">saya <strong><span style="color: #008080;">pengguna segala macam <em>public transportasi</em> </span></strong>(dari mulai ojeg, angkot, kopaja, metromini, bis damri, trans jakarta, kereta api, hingga taksi) dan seringnya hanya menggunakan kendaraan pribadi (roda empat) hanya jika pergi minimal 3 orang/lebih atau hanya untuk perjalanan jauh; selebihnya saya sangat suka berjalan kaki.</p>
<p style="text-align: justify;">secara garis besar itulah kebiasaan hidup saya sekarang.</p>
<p>memang saya akui terkadang begitu besar godaan untuk keluar dari kebiasaan yang sudah dilakukan, apalagi jika setannya mengatasnamakan kenyamanan, wah kadang saya juga tergoda!<br />
misalnya saja saya sudah bertekad setelah pulang kerja akan berjalan kaki untuk mencapai halte metromini dan kemudian dilanjutkan dengan naik angkot,tapiiiiii kadang tak terduga hujan turun dengan derasnya atau debu dan panas sedemikian mendera atau kadang lelah dan <em>mood </em>tidak beraturan membuat saya (kadang) kesal dan mulai berandai-andai, seandainya nebeng suami naik motor, seandainya bawa mobil ke kantor, seadainya punya supir dan dengan enaknya bisa duduk nyaman dalam mobil ber-AC, berkursi empuk, mendengar lagu menenangkan, dan bisa tidur. seandainya saya tidak perlu repot-repot (baca: idealis) ingin menyelamatkan bumi-lah, ingin berkontribusi mengurangi karbon-lah, sok jadi pahlawan-lah, saya pasti sudah nyaman pulang dan pergi pulang kantor.<br />
atau ketika saya harus mengadapi tatapan penuh tanya cenderung jijik  orang-orang di sekitar saya ketika saya memasukkan sampah entah berupa plastik, kertas, bahkan kulit pisang ke dalam tas saya untuk dibuang kemudian di tempat sampah terdekat.<br />
atau pada sebuah pusat perbelanjaan, saya harus menjelaskan berkali-kali ketika mbak/mas penjaga kasir bertanya kenapa tidak mau menggunakan tas plastik mereka dan memilih berepot-repot sendiri memasukkan semua belanjaan  ke dalam tas yang saya bawa sendiri.<br />
atau mendapatkan tatapan menyebalkan (cenderung merendahkan) dari pramusaji, saat saya menyodorkan wadah plastik untuk membawa makanan pesanan anak saya yang tidak habis dimakannya di sebuah restoran.</p>
<p>semua terkadang membuat saya dipandang berbeda&#8230;<br />
membuat saya terlihat salah, aneh, freak, asing di mata orang-orang itu&#8230;<br />
membuat saya terlihat kecil, sendiri, di antara kerumunan orang-orang asing&#8230;<br />
membuat saya kadang lelah dan berpikir untuk bergabung dengan orang-orang kebanyakan&#8230;</p>
<p>memang sih akhir-akhir ini kesadaran lingkungan semakin meluas, tapi (mohon maaf) terkadang beberapa orang yang saya lihat hanya mengubah kebiasaan dari kulit luarnya saja. contohnya nih, seorang ibu juga ikut membawa tas belanjaan dari rumah tapi tetap saja dia menyuruh kasir menaruh belanjaannya di kantong plastik sebelum memasukkannya ke dalam tas belanjaannya, aneh kan&#8230;</p>
<p>bukan berarti saya lebih baik dari kebanyakan orang, mungkin juga iya, atau bahkan saya lebih buruk dari sebagian orang lainnya. terserah-lah&#8230;<br />
apapun itu, saya sudah cukup bangga dengan diri sendiri, bangga dengan cara saya sendiri melakukan  perubahan, bangga dapat melakukan &#8216;sesuatu&#8217; dan bangga bisa berkontribusi (walaupun hanya  sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit sekali), bangga bangga berani menghadapi  ketidaknyamanan untuk lingkungan kita, untuk bumi kita, yang (akhirnya toh) kita  nikmati bersama juga.</p>
<p>bagaimana dengan anda, apakah anda berani sebentar saja mengesampingkan  kenyamanan hidup untuk sekedar menyapa bumi dengan hangat? apakah anda  berani menghadapi tatapan cemooh orang-orang asing di sekitar anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2011/04/18/membantu-bumi-harus-mau-nggak-nyaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rumah beres tanpa PRT</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/20/rumah-beres-tanpa-prt/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/20/rumah-beres-tanpa-prt/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 09:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inside Out]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[rumahtangga]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Rumah semua beres, rapi, bersih, apalagi kalau ditambah wangi, siapa sih yang gak mau? Apalagi kalau semua dikerjain tanpa bantuan PRT, pastinya bangga dan puas banget dong ya hehehe… Tapi nih, sebelum menuju ke rumah beres, rapi, bla, bla, bla itu, banyak banget halangannya, contohnya nih, gw aja, ada lebih kali sejuta alasan dari yang <a href="http://abril.susiloadhy.net/2010/09/20/rumah-beres-tanpa-prt/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Rumah semua beres, rapi, bersih, apalagi kalau ditambah wangi, siapa sih yang gak mau? Apalagi kalau semua dikerjain tanpa bantuan PRT, pastinya bangga dan puas banget dong ya hehehe…<br />
Tapi nih, sebelum menuju ke rumah beres, rapi, bla, bla, bla itu, banyak banget halangannya, contohnya nih, gw aja, ada lebih kali sejuta alasan dari yang mulai gak ada waktu, sibuk, waktu mepet, capek karena udah seharian kerja, mendingan waktunya dipake untuk ‘<em>quality time</em>’ sm anak, sampe males beneran berakhir dengan ketiduran atau kesiangan bangun.</p>
<p style="text-align: justify">Di masa-masa gak punya PRT seperti sekarang ini (baca: pasca-lebaran) rutinitas kembali seperti sediakala sama seperti sebelum kita ‘<em>addict</em>’ sama yang namanya PRT. Di hari-hari kerja harus bangun lebih pagi dan rela tidur lebih malam (pdhal jam tidur gw udah dini hari) dan di hari-hari <em>weekend</em> harus menyiapkan tenaga ekstra untuk bebersih yang rada ‘berat’.</p>
<p style="text-align: justify">Beberes urusan rumah emang gak ada habisnya…*sigh, dan kalau dipikir-pikir ngapain juga sih capek-capek nyapu lantai kalau besok juga udah kita sapu lagi haha… Tapi, maaf, maaf nih ya, keperfeksionisan gw membuat urusan beberes rumah ini jadi urusan wajib yang gak boleh terlewatkan, males kan kalau pulang kantor, udah capek, kena macet, laper, trus begitu buka pintu yang ada lantai kotor, cucian piring numpuk, atau baju dan buku bertebaran di mana-mana (mau marah gak sih???).<br />
<span id="more-239"></span>Sekali-kali ceritanya bagi-bagi beberapa tips nih untuk para ibu bekerja yang tidak punya PRT atau memang tidak ‘percaya’ dengan PRT-nya dalam urusan beberes rumah:<br />
<span style="color: #800080"><strong>1. bersihkan rumah secara rutin dan dalam waktu yang sudah ditargetkan.</strong></span><br />
di hari kerja, ritme kerja dibagi 2 yaitu:<br />
a.  pagi hari +/- 30 menit s/d 1 jam: sapu lantai, mengepel lantai, cuci piring, beberes mainan anak/baju, beberes kamar tidur, siram tanaman, siapin sarapan dan bekal, persiapan anak sekolah, suami dan gw ke kantor.<br />
b.  pada malam, setelah pulang kantor (seringnya setelah anak tidur) +/- 30 menit – 1 jam: cuci baju, siapkan menu sarapan dan bekal besok, (kadang) menyeterika, beberes kamar anak.<br />
di hari libur:<br />
membersihkan kamar mandi, dapur, bersihkan debu, cuci sprei, atau pekerjaan yg butuh ekstra waktu+tenaga.</p>
<p><strong><span style="color: #800080">2. lakukan pekerjaan yang dapat dikerjakan secara periodik</span></strong>, misalnya mengepel lantai 2 hari sekali, mencuci dan menyetrika baju 2 hari sekali, mencuci piring 1 atau 2 kali sehari saja.</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #800080"><strong>3. Berbagi pekerjaan rumah dengan pasangan</strong></span>, kalau gw biasanya punya tugas mencuci baju, sementara hubby menyeterika baju.<br />
<span style="color: #800080"><br />
<strong>4. selesaikan apa yang sedang dikerjakan, jangan menunda</strong></span>. Contohnya nih sebelum menyapu lantai bersihkan dulu meja dan debu2 atau sebelum mencuci piring selesaikan dulu memasak, jangan sampai deh udah selesai smua ternyata ada pekerjaan yg harus diulang.</p>
<p><strong><span style="color: #800080">5. lakukan 1 atau 2 pekerjaan sekaligus (multitasking)</span></strong>, misalnya sembari mencuci baju di mesin cuci bisa sekaligus mencuci piring dan merebus kaldu. Gw percaya smua perempuan punya bakat multitasking yang terpendam dan makin ok jika sering terasah hehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #800080">6. bersihkan langsung!</span></strong> Misalnya saat anak menumpahkan makanan, jangan tunda, langsung bersihkan saat itu juga. It helps a lot moms <img src='http://abril.susiloadhy.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
<!--more--><br />
<a class="tt-flickr tt-flickr-Medium" title="cleaningtools8" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/5383548139/cleaningtools8.html"><img class="alignleft" src="http://farm6.static.flickr.com/5211/5383548139_da57ba4c82.jpg" alt="cleaningtools8" width="219" height="173" /></a>Selain beberapa tips sebelumnya, jenis peralatan juga penting untuk menunjang proses beberes rumah terutama dari segi efisiensi dan efektivitas waktu dan hasilnya. Beberapa peralatan yang menurut gw wajib dimiliki (terutama jika tanpa PRT) yaitu:</p>
<p><strong><span style="color: #808000">1. Mesin Cuci<span style="color: #000000">.</span></span><span style="color: #000000"> </span></strong>Ini menurut gw penting banget karena cuci mencuci baju biasanya memakan waktu lama, jadi kalau punya mesin cuci bisa ditinggal mengerjakan kerjaan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #808000">2. Sapu dan Pel bergagang ergonomis</span></strong>. Dua benda ini pastinya wajib dipunyai smua rumah tangga kan? J biar ok pel-nya pilih yg otomatis bisa diperas sendiri cukup dengan menginjak mesin di ember-nya, ih, pokoknya ok banget-lah (#bukanpromosi).</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #808000"><strong>3. Lap Serba Guna</strong></span>. Kalau lap ini harusnya kita punya beberapa, untuk lap basah semisal kanebo, lap kering, lap debu yang paling ok yang berbahan microfiber. Tips lain, sebaiknya kita memilih lap yang berukuran sedang sampai besar dan men-stok agak banyak (apalagi klo udah seneng sm bahannya) supaya gak sedikit2 beli lagi beli lagi.</p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #808000">4. Cairan Pembersih Serbaguna</span></strong>. Nah kalau yang ini sebaiknya dipilih yang bisa membersihkan smua jenis permukaan, dari mulai kayu, kaca, sampai besi (emang rada mahal sih hehe).</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #808000"><strong>5. Spons</strong></span>. Kalau benda ini penting untuk cuci-cuci, termasuk cuci piring sampai cuci mobil (tapi harus dibedain ya, jangan cuman satu spons aja hehe).</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #808000"><strong>6. Spons Kawat</strong></span>. Penting untuk cuci wajan atau panci yang berpantat hitam atau gelas-gelas bernoda akibat kopi atau teh.</p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #808000">7. Baking Soda, Pembersih Keramik, dan Pembersih Toilet</span></strong>. Tiga sekawan ini ampuh+mujarab untuk bebersih kotoran2 yg nempel dimana2, khususnya di area kamar mandi dan di lantai seputaran rumah.</p>
<p style="text-align: justify"><strong><span style="color: #808000">8. Karbol, Kapur Barus</span></strong>. Terus terang gw <em>addict</em> banget sm kedua benda ini, selain bisa bikin wangi dan segar, bisa juga buat pengusir serangga misalnya kecoa dalam waktu singkat.</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #808000"><strong>9. Vacuum Cleaner</strong></span>. Penting gak penting sih kalau yang ini, masuk ke list ini karena alat ini bisa ngebersihin macem2 dengan bersih, mulai dari pojok dapur sampe plafond rumah.</p>
<p>Sekian dulu ya emak-emak upik abu sekalian, selamat bekerja membersihkan rumah, jangan patah arang, tetap semangat, kita semua tetep cantik kok walau pake daster+apron+penutup hidung di saat yang bersamaan… tosss <img src='http://abril.susiloadhy.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/20/rumah-beres-tanpa-prt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>balada PRT</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/16/balada-prt/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/16/balada-prt/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Sep 2010 06:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inside Out]]></category>
		<category><![CDATA[Momentum]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[dilema]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[prt]]></category>
		<category><![CDATA[rumahtangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Lebaran biasanya merupakan masa-masa PRT berjaya, kenapa gw sebut berjaya karena pada masa inilah para PRT 1).mendapatkan jatah cuti tahunan alias pulang kampung dengan (plus) seabrek bawaan hasil kerja setahun di rumah majikan masing-masing; 2).saat dimana mereka bisa pilih-pilih, maksudnya kalau masih betah di rumah majikan lama pasti para PRT ini menagih kenaikan gaji atau <a href="http://abril.susiloadhy.net/2010/09/16/balada-prt/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #993300;"><span style="color: #008080;"><strong><a class="tt-flickr tt-flickr-Medium" title="for blogging" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/album/72157624870407057/for-blogging.html"><img src="http://farm5.static.flickr.com/4149/5007875028_43ea23ff67.jpg" alt="for blogging" width="580" height="127" /></a><br />
</strong></span></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lebaran biasanya merupakan masa-masa PRT berjaya, kenapa gw sebut berjaya karena pada masa inilah para PRT 1).mendapatkan jatah cuti tahunan alias pulang kampung dengan (plus) seabrek bawaan hasil kerja setahun di rumah majikan masing-masing; 2).saat dimana mereka bisa pilih-pilih, maksudnya kalau masih betah di rumah majikan lama pasti para PRT ini menagih kenaikan gaji atau perbaikan fasilitas (bisa apa ajah), tapi kalau udah bosan, masa lebaran ini masa yang tepat untuk pindah majikan, atau malah tidak balik sama sekali karena (biasanya) dinikahkan. Bosan yang dimaksud di sini tentunya subyektif, tergantung perspektif dari masing-masing PRT tadi: ada yang memang tidak ‘klop’ sama majikan; kesel sama anak majikan atau majikan yang rewel, bawel, cerewet, dst, dst; kerjaan seabrek tapi gaji minim dan ga ada istirahatnya; ingin cari suasana baru; atau malah dapat perlakuan (sangat) buruk. Pastinya para PRT ini sebelum memutuskan ‘hendak kerja dimana’ sudah terlebih dahulu menimbang-nimbang termasuk bisik sana-sini ke sesama rekan seprofesi, dari situ para PRT ini bisa menyimpulkan ‘kok tempat kerja lo lebih enak, sementara gw nggak’. Yah, akhirnya giliran para majikan yang kedodoran.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebaran juga saatnya para PRT dadakan atau istilahnya PRT infal menambang rejeki. PRT infal sebenarnya merupakan PRT pengganti PRT ‘resmi’ yang biasanya sehari-hari bekerja di sebuah rumah pada saat lebaran. Jangan salah loh, walaupun bekerja cuman 1 atau 2 bulan pada masa lebaran penghasilannya bisa lebih gede dari para abdi negara (*tersenyum kecut). Info ini gw dapet dari hasil baca artikel di koran terbesar ibukota, bahkan kabarnya hasil kerja mereka ini sebagian besar untuk membiayai gaya hidup para suaminya, misalnya: untuk beli motor terbaru. Sudah sedemikian pentingnya-kah gaya hidup di kota kecil/pedesaan sehingga seorang wanita/ibu/isteri rela meninggalkan keluarganya di saat seharusnya mereka dan juga sebagian besar orang berkumpul bersama untuk merayakan hari raya?</p>
<p style="text-align: justify;">Pengalaman gw pribadi sih baru tahun ini aja bermasalah dengan yang namanya PRT, soalnya emang baru tahun kemarin bener-bener ada PRT yang nginep dan kerja 24/7 di rumah. Kenapa? Sebelumnya gw merasa ga terlalu butuh PRT nginep, semua bisa diurus dan dikerjain sendiri, kalau pun butuh bantuan terkadang ‘pinjam’ PRT-nya nyokap (pastinya dibayar dong hehe). <span id="more-213"></span>Mulai tahun lalu merasa perlu karena Chey udah mulai gede dan masuk playgroup, jadi si PRT rencananya emang buat nemenin Chey (aka baby sitter jadinya). Tapi yah gitu deh, akhirnya si PRT ikutan bantuin juga kerjaan rumah yang seringnya ga rutin gw kerjain, seperti nyapu, ngepel, nyiram tanaman, bebersih halaman depan, dan tentunya yang paling penting nyetrika (oh gosh, I really hate ironing).</p>
<p style="text-align: justify;">Setahun (tepatnya 11 bulan) berlalu sejak si PRT bekerja di rumah gw. Kita semua jadi ‘addict’ sama bantuannya dia, bahkan makin lama makin cenderung males buat melakukan hal-hal yang sebelumnya gak perlu dibantu, si Chey aja udah jadi lengket dan akrab sama si PRT, sampe lebih milih pergi sekolah naik angkot sama si PRT ketimbang di-drop sama Ayah-Bunda-nya di sekolah (*sigh). Setelah terbiasa… setalah beradaptasi… makin pintar… makin gak perlu disuruh-suruh… ternyata… H+1 lebaran kemarin si PRT cuman mengirimkan pesan singkat (baca: sms) yang mengabarkan dia gak akan balik lagi… dengan alasan harus nunggu neneknya di kampung (alah, paling juga pindah kerja ato dikawinin) sh*t happens…</p>
<p style="text-align: justify;">Yah sudahlah, kita kembali ke dua tahun sebelum ada si PRT, kembali mengerjakan semuanya sendiri, kembali menitipkan Chey 100 % ke nyokap, kembali pada saat-saat penting ‘pinjam’ PRT-nya nyokap, kembali after hours saat orang lain istirahat atau malah hang-out, gw dan hubby kembali ‘banting tulang’ berjibaku sama kerjaan rumah</p>
<p style="text-align: justify;">Yah itulah hidup…</p>
<p style="text-align: justify;">Ada saatnya PRT datang… Ada saatnya PRT pergi…</p>
<p style="text-align: justify;">PRT… oh PRT… dirimu kadang dihina, tak terlihat, tapi selalu dirindukan…</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #999999;"><em>(kisah nyata seorang ibu-pekerja yang kehilangan PRT, berharap dalam waktu dekat ada PRT baru yang lebih baik dan lebih loyal)</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/16/balada-prt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lebaran 2010</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/14/lebaran-2010/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/14/lebaran-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Sep 2010 07:07:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Momentum]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[greetings]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="tt-flickr tt-flickr-Medium" title="lebaran 2010" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/5006629811/lebaran-2010.html"><img class="alignnone" src="http://farm5.static.flickr.com/4106/5006629811_0a63e468c1.jpg" alt="lebaran 2010" width="500" height="352" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2010/09/14/lebaran-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>martabak jamur</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2008/09/15/152/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2008/09/15/152/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 17:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Recipes]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[cemilan]]></category>
		<category><![CDATA[resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[mumpung weekend di bulan puasa enaknya masak, kapan lagi soalnya hari-hari biasa udah penat dan sibuk sm si kecil. lagian ada dua request nih, satunya dari hubby yang pengen makan martabak, tapi kalo beli mmm..ga ada yang sesuai selera dan lagi kita pada abis batuk, kan menggoreng dengan minyak rumahan jauh lebih sehat. request yang <a href="http://abril.susiloadhy.net/2008/09/15/152/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>mumpung weekend di bulan puasa enaknya masak, kapan lagi soalnya hari-hari biasa udah penat dan sibuk sm si kecil. lagian ada dua request nih, satunya dari hubby yang pengen makan martabak, tapi kalo beli mmm..ga ada yang sesuai selera dan lagi kita pada abis batuk, kan menggoreng dengan minyak rumahan jauh lebih sehat. request yang kedua datang dari dita yang katanya lagi seneng masak dan pengen &#8216;mencoba&#8217; resep a la gw yang katanya lagi nih gampang dibuat hehehe</p>
<p><a class="tt-flickr tt-flickr-Small" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/2855911573/martabak-jamur.html"><img class="alignleft" style="border: 0pt none; margin-left: 5px; margin-right: 5px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3088/2855911573_2cfa6f5fa9_m.jpg" border="0" alt="martabak jamur" width="240" height="270" /></a> bahan-bahan:<br />
20 lembar kulit lumpia siap pakai<br />
3 butir telur bebek (mentah)<br />
5 butir telur ayam<br />
150 gram daging sapi/ayam cincang<br />
4 tangkai sedang daun bawang, iris halus<br />
6 bonggol besar jamur tiram putih, iris kasar<br />
2 siung bawang bombay, iris kecil<br />
2 siung bawang putih, cincang kasar<br />
1 sendok teh lada bubuk<br />
garam secukupnya<br />
margarine secukupnya untuk menumis<br />
putih telur untuk merekatkan<br />
minyak untuk menggoreng</p>
<p><span id="more-152"></span>cara membuat:<br />
- tumis bawang putih hingga harum, kemudian masukkan bawang bombay, tunggu sampai agak layu<br />
- masukkan daging cincang, tunggu sampai agak matang dan air hilang<br />
- masukkan daun bawang, jamur, lada bubuk dan garam, koreksi rasanya (kalau nggak puasa xixixi)<br />
- masukkan telur bebek dan 3 butir telur ayam, aduk cepat hingga setengah matang dan matikan api<br />
- pindahkan isi kedalam mangkuk, kemudian tambahkan sisa telur<br />
- isi lembaran kulit lumpia dengan isian tersebut, lipat dan olesi putih telur pada sisi penutup<br />
- goreng martabak hingga kecokelatan<br />
- sajikan hangat dengan cocolan sambal botol atau cabe rawit</p>
<p>pelengkap:<br />
kalau ada acar timun enak juga, plus teh hangat</p>
<p>tips:<br />
rasanya lebih nendang kalau pakai daging sapi, oia trus biar isian martabak tidak terburai, sebaiknya begitu selesai membungkus dengan kulitnya langsung digoreng, jangan menunggu terlalu lama apalagi pakai disimpan dalam kulkas. enaknya sih ada 2 orang, satu mengisi dan yang satunya lagi khusus menggoreng</p>
<p>nah sekian dulu deh blogging tentang resep masakannya<br />
selamat mencoba dan selamat ketagihan hehehe ;p</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2008/09/15/152/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>baby cheryn</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/12/24/baby-cheryn/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/12/24/baby-cheryn/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 05:00:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inside Out]]></category>
		<category><![CDATA[Momentum]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[baby]]></category>
		<category><![CDATA[cheryn]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/12/24/baby-cheryn/</guid>
		<description><![CDATA[Baby itu kita beri nama Cheryn Alisya Wulandari, anak perempuan yang cantik sekali dengan bobot lahir 3,2 kg dan panjang 47 cm. Dia lahir dengan normal di RSIA Buah Hati di daerah Kedaung. Sebelumnya kelahiranku harus melewati waktu-waktu kontraksi akibat induksi yang panjang dan melelahkan karena ketuban pecah 16 jam sebelumnya. Untuk proses yang telah <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/12/24/baby-cheryn/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a class="tt-flickr tt-flickr-Small" href="http://abril.susiloadhy.net/gallery/photo/2852583755/my-lovely-cheryn.html"><img class="alignleft" style="border: 0pt none; margin-left: 5px; margin-right: 5px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3176/2852583755_14a0817026_m.jpg" border="0" alt="my lovely cheryn" width="148" height="198" /></a><br />
Baby itu kita beri nama Cheryn Alisya Wulandari, anak perempuan yang cantik sekali dengan bobot lahir 3,2 kg dan panjang 47 cm. Dia lahir dengan normal di RSIA Buah Hati di daerah Kedaung. Sebelumnya kelahiranku harus melewati waktu-waktu kontraksi akibat induksi yang panjang dan melelahkan karena ketuban pecah 16 jam sebelumnya.<br />
Untuk proses yang telah dijalani, hanya ada satu kata untuk semuanya: its so AMAZINGâ€¦</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/12/24/baby-cheryn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bandung lautan api</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/24/bandung-lautan-api/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/24/bandung-lautan-api/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Mar 2007 13:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Do You Know?]]></category>
		<category><![CDATA[Momentum]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/03/24/bandung-lautan-api/</guid>
		<description><![CDATA[tepat hari ini, 61 tahun yang lalu, di bandung telah terjadi suatu peristiwa perjuangan heroik yang kini dikenal dengan peristiwa bandung lautan api. mungkin tidak sedikit dari generasi sekarang yang tidak tau sebenarnya &#8216;cerita&#8217; seperti apa yang terjadi di peristiwa itu. memang sih setiap tahun selalu ada acara peringatan bandung lautan api yang biasanya diadakan <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/03/24/bandung-lautan-api/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tepat hari ini, 61 tahun yang lalu, di bandung telah terjadi suatu peristiwa perjuangan heroik yang kini dikenal dengan peristiwa bandung lautan api. mungkin tidak sedikit dari generasi sekarang yang tidak tau sebenarnya &#8216;cerita&#8217; seperti apa yang terjadi di peristiwa itu. memang sih setiap tahun selalu ada acara peringatan bandung lautan api yang biasanya diadakan oleh pemda kota bandung. tapi menurut gue acara yang diselenggarakan kok kurang &#8216;berjiwa&#8217; bandung lautan api ya&#8230; kaya tahun ini aja malah bikin bazaar, panggung hiburan dan malah cari orang sebanyak-banyaknya untuk ikutan long march obor supaya bisa masuk MURI&#8230; huh ga penting banget sih.</p>
<p>kegiatan yang agak lumayan sih adalah acara long march alias napak tilas dengan berjalan kaki yang biasanya diwajibkan bagi perwakilan sekolah. agak lumayan karena pertama rutenya kok kebalik ya kenapa mulai dari tegalega dan berakhir di gedung sate, padahal gedung sate nggak terlalu bernilai sejarah bagi peristiwa bandung lautan api ini (lagian ngungsinya kan ke bagian selatan bandung, ini kok rutenya malah masuk kota???). udah gitu ga ada penjelasan atau interpretasi tentang kenapa? apa? dan gimana sejarahnya&#8230;. yah gitu deh karena wajib yang keliatan malah pesta kostum dan pawai obornya aja. bahkan mungkin dari peserta yang ikutan juga banyak yang ga ngerti mereka lagi ngapain&#8230;&#8230;</p>
<p><span style="color: #990000;"><strong>Sejarah Singkat</strong><br />
sejarah bangsa ini mencatat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada tanggal 17 agustus 1945, namun ternyata perjuangan bangsa kita belum berakhir. kedatangan tentara sekutu (Inggris) yang diboncengi Belanda memaksa para pejuang bangsa harus kembali bertempur kembali demi mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. perlawanan terjadi di berbagai daerah, termasuk bandung yang pada akhirnya menimbulkan peristiwa bandung lautan api.</span></p>
<p><span style="color: #990000;">tentara Inggris dibawah komando Brigjen MacDonald mendarat di bandung pada bulan Oktober 1945. awalnya misi mereka adalah melucuti tentara Jepang serta membebaskan tawanan perang. namun dalam perkembangannya, mereka malah membuka jalan bagi Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan rakyat sehingga peperangan tidak dapat terelakkan.</span></p>
<p><span id="more-95"></span><br />
<span style="color: #990000;">kondisi tentara di bandung saat itu tidak menguntungkan dan sangat tidak seimbang. para pejuang hanya memiliki 100 pucuk senjata api dan sisanya hanya berupa senjata tajam serta bambu runcing. sedangkan pasukan Inggris berkekuatan 12.000 tentara ditambah pula pasukan Belanda yang telah siap dengan berbagai perlengkapan perang modernnya. keadaan ini diperparah dengan meluapnya sungai cikapundung sejak tanggal 25 november 1945, akibatnya terjadilah banjir besar di kawasan balubur, lengkong, sasakgantung, kebonjati dan wilayah lain di sekitarnya. ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal, tentu saja keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang saat itu sedang lemah.</span></p>
<p><span style="color: #990000;">keadaan semakin parah ketika pada tanggal 27 november 1945, Brigjen MacDonald mengeluarkan ultimatum pertama yaitu &#8220;wilayah bandung dibagi dua dengan batasan rel kereta api, bagian utara diperuntukkan bagi orang Belanda, Eropa dan sebagian Cina, sedangkan wilayah selatan diperuntukkan bagi pribumi&#8221;. setelah ultimatum ini ratusan pribumi yang tinggal di wilayah utara segera mengungsi dibawah tekanan para tentara sekutu.</span></p>
<p><span style="color: #990000;">berbagai serangan terus dilakukan oleh pihak musuh. di bulan november 1945, Inggris melakukan pengeboman di daerah lengkong dan cicadas yang menewaskan banyak korban. salah satu pertempuran yang terkenal yaitu pertempuran yang terjadi di daerah fokkerweg (sekarang jl. garuda). pada pertempuran tersebut, tembakan mortir pejuang RI yang tidak tepat sasaran menimbulkan korban sipil Eropa. Akibat kejadian iniInggris membalas dengan membombardir tegalega yang menimbulkan banyak korban sipil pribumi.</span></p>
<p><span style="color: #990000;">Inggris kembali mengeluarkan ultimatum kedua oleh Letjen Montagu Stophord pada tanggal 17 maret 1946, yang berisi &#8220;memerintahkan Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk meninggalkan bandung selatan hingga radius 11 km dari pusat kota selambat- lambatnya tanggal 24 maret 1946 pada pukul 24.00 dan jika ultimatum ini tidak dilaksanakan, Inggris akan membombardir bandung selatan&#8221;.</span></p>
<p><span style="color: #990000;">setelah perundingan yang cukup alot diantara pimpinan pejuang, diputuskan bahwa rakyat diminta untuk meninggalkan kota bandung. langkah ini akan diikuti oleh pejuang setelah sebelumnya akan dilakukan bumi hangus terhadap bangunan-bangunan penting. keputusan ini diambil agar pihak musuh tidak dapat memanfaatkan kota bandung pasca pribumi mengungsi. Kolonel A.H. Nasution selaku Komandan Divisi III mengumumkan hasil musyawarah tersebut pada tanggal 24 maret 1946 pukul 14.00. maka hari itu juga rombongan besar penduduk kota bandung dengan suka rela meninggalkan kota serta rumahnya dengan membawa barang-barang seadanya, tanpa tau tujuan dan berapa lama harus mengungsi&#8230; mereka kebanyakan mengungsi ke ciapay, ciwidey, garut, majalaya, dan wilayah lain disekitarnya.</span></p>
<p><span style="color: #990000;">malamnya, pembakaran kota berlangsung besar-besaran, hingga tengah malam bandung telah kosong dan hanya meninggalkan puing-puing bangunan yang masih menyala. pembumihangusan kota bandung ini merupakan langkah yang tepat, karena kekuatan TRI tidak akan sanggup melawan musuh yang berkekuatan besar.<br />
pengorbanan dan perjuangan penduduk dan pejuang kota bandung yang heroik ini kemudian memberikan inspirasi hingga terciptanya sebuah lagu yang berjudul &#8220;Halo-Halo Bandung&#8221;. apabila kini kita mendengarkan kembali lagu ini, bisa dipastikan kita masih dapat merasakan semangat juang yang terjadi pada peristiwa bandung lautan api.</span></p>
<p><span style="color: #990000;">(lets sing together)<br />
&#8230;..<br />
</span> <em><span style="color: #990000;">&#8220;halo-halo bandung&#8230;. ibukota pariangan<br />
halo-halo bandung&#8230;. kota kenang-kenangan<br />
sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau<br />
sekarang, telah menjadi lautan api<br />
mari bung, rebut kembali&#8230;&#8221;</span></em></p>
<p>to be continued&#8230;. next posting i will write about bandung lautan api walking tour<em><br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/24/bandung-lautan-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Istana Pagaruyuang…..burned!!!</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2007 06:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Momentum]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[arsitektur]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin ada kabar yang sangat menyedihkan, karena satu lagi dari peninggalan pusaka di indonesia hilang. Pusaka tersebut adalah Istana Basa Pagaruyuang, Kanagrian (kecamatan) Pagaruyuang, Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat yang telah habis terbakar oleh sambaran petir pada hari Selasa, 27 Februari 2007 kemarin, sekitar pukul 20.00 WIB. Api dikabarkan sangat cepat menjalar di atap bangunan <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 9pt; font-family: Verdana;">Kemarin ada kabar yang sangat menyedihkan, karena satu lagi dari peninggalan pusaka di indonesia hilang.</span></p>
<p>Pusaka tersebut adalah Istana Basa Pagaruyuang, Kanagrian (kecamatan) Pagaruyuang, Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat yang telah habis terbakar oleh sambaran petir pada hari Selasa, 27 Februari 2007 kemarin, sekitar pukul 20.00 WIB. Api dikabarkan sangat cepat menjalar di atap bangunan yang terbuat dari ijuk itu. Sedihnya lagi peninggalan Kerajaan Pagaruyuang berupa benda-benda bersejarah juga ikut terbakar habis&#8230; (tapi kok kabar dari Puti Raudha Thain, ahli waris Kerajaan Pagaruyuang, kok bilangnya ga ada barang bernilai sejarah didalamnya? so, yang mana yang bener sih?).</p>
<p>Walaupun sebenarnya Istana yang terbakar kemarin merupakan replika dari istana aslinya yang juga terbakar pada tahun 1961, tapi tetap amat disayangkan salah satu objek wisata terbesar di Sumatera Barat ini harus musnah tanpa bekas. Padahal saya dan mungkin juga banyak dari teman-teman belum sempat berkunjung kesana&#8230;.</p>
<p>Istana Pagaruyuang atau dalam bahasa Minang disebut Ustano Basa Pagaruyuang dibangun karena Ustano Si Linduang Bulan, tempat Kerajaan Pagaruyuang, terbakar pada tahun 1804. Namun sayang pada tahun 1961 yang telah dibangun terbakar lagi. Kemudian pada tahun 1975, ada inisiatif dari Pemda Provinsi Sumbar yang didukung pemerintah pusat untuk membangun kembali Ustano (Istana) yang terbakar dengan syarat tidak untuk diperuntukkan bagi tempat tinggal. Untuk keperluan itu maka, pihak keluarga istana menyerahkan tanah ulayat ahli waris Daulat Yang Dipertuan Raya Pagaruyuang yang terletak di Padang Siminyak, Jorong Balai Jango, Kenagarian Pagaruyuang, Kabupaten Tanah Datar guna dibangunnya kembali Iistana yang kembali terbakar selasa malam kemarin.</p>
<p>yah, semoga saja pemda setempat dapat segera merehabilitasi kembali Istana Pagaruyung yang bersejarah ini, seperti yang terjadi pada tahun 1975 lampau&#8230;.</p>
<p>semoga&#8230;</p>
<p>berita lebih lanjut dapat dilihat di:<br />
&gt; <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/02/tgl/27/time/203933/idnews/747766/idkanal/10">detik.com</a><br />
&gt; blog <a href="http://priyatna.blogspot.com/2007/02/istana-pagaruyung-terbakar.html">mpri</a> dan <a href="http://www.baledesain.com/2007/02/in-memoriam-istana-pagaruyung.html">ikeow</a><br />
&gt; <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/28/utama/3349441.htm">kompas</a><br />
&gt; <a href="http://www.media-indonesia.com/berita.asp?id=125887">media indonesia online</a><br />
&gt; <a href="http://www.indonesia.go.id/index.php/content/view/3186/707/">portal nasional</a> RI<br />
atau foto-foto cantik istana ini di:<br />
&gt; <a href="http://www.fotografer.net/isi/galeri/index.php?katakunci=Pagaruyung&amp;searchid=5&amp;bSubmit=Cari">fotografer.net</a><br />
&gt; <a href="http://www.west-sumatra.com/">west-sumatra.com</a></p>
<p>sekali lagi, turut berduka (lagi) untuk pusaka indonesia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/28/istana-pagaruyuangburned/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>menanti kebangkitan wisata ziarah</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 09:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/</guid>
		<description><![CDATA[update: rabu, 21 februari 2007 sumber: kompas cetak&#62;humaniora Kontekstualisasi Ziarah (2-Habis) Menanti Kebangkitan Wisata Ziarah oleh: Evy Rachmawati Tradisi ziarah biasanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, maupun anggota keluarga yang dicintai. Di Indonesia, ziarah dalam artian umum merupakan kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya, dan terutama ke makam para wali penyebar agama <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #cc0000;">update: rabu, 21 februari 2007<br />
sumber: <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/21/humaniora/">kompas cetak&gt;humaniora</a></span></p>
<p><span style="color: #663300;"><strong>Kontekstualisasi Ziarah (2-Habis)<br />
Menanti Kebangkitan Wisata Ziarah</strong></span><br />
oleh: Evy Rachmawati</p>
<p>Tradisi ziarah biasanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, maupun anggota keluarga yang dicintai. Di Indonesia, ziarah dalam artian umum merupakan kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya, dan terutama ke makam para wali penyebar agama Islam sebagai wujud kecintaan.</p>
<p>Karisma para leluhur ini begitu melekat di dalam hati masyarakat sampai sekarang.</p>
<p>Dalam terminologi Arab, perjalanan atau wisata diistilahkan sebagai as-Safar atau az-Ziyarah. Jadi, wisata ziarah merupakan sebuah bentuk kunjungan ritual dan dilakukan ke makam dan masjid bersejarah. Dari prosesnya, wisata ziarah juga dipahami sebagai perjalanan batin seseorang, sehingga memiliki muatan emosi dan kontemplasi tinggi.</p>
<p>Secara umum, kita mengenal konsepsi ziarah ke makam dalam berbagai konteksnya, antara lain ziarah sebagai wujud rasa bakti seorang anak ke makam orangtua atau kerabat, ziarah ke makam pahlawan sebagai bentuk peringatan. Selain itu, ziarah sebagai penghayatan nilai-nilai keulamaan.</p>
<p>Tradisi ziarah ke makam para wali sudah cukup populer, terutama Walisanga yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Para wali itu di antaranya Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus.</p>
<p>Sebenarnya, hampir seluruh wilayah di Tanah Air memiliki makam-makam wali. Ini memperlihatkan bahwa di hampir semua daerah di Indonesia pernah hidup dan berjuang seorang ulama besar.</p>
<p>Kini, makam para wali si seluruh Indonesia hampir tiap hari dikunjungi umat sebagai pertanda kecintaan terhadap para walinya. Sebagai dampak dari berkembangnya budaya ziarah ke makam, terutama makam para wali, pemrintah maupun swasta merespons positif dengan mengembangkan tempat ziarah sebagai obyek wisata ziarah.</p>
<p><span id="more-88"></span><br />
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dalam pencanangan Tahun Kebangkitan Wisata Ziarah 2006 di Lamongan, Jawa Timur, akhir tahun lalu, menjelaskan, wisata ziarah merupakan bagian dari wisata budaya yang berpotensi besar dari sisi jumlah dan daya tarik obyek yang tersebar di pelosok Tanah Air. Karena itu, wisata ziarah perlu terus dikembangkan sebagai salah satu program unggulan pariwisata nasional.</p>
<p>Menurut arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary dalam bukunya Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, dalam paket wisata ziarah setidaknya terdapat tiga komponen terkait, yakni wisata sebagai kegiatan perjalanan yang diorganisasi biro perjalanan, masyarakat pengguna jasa wisata, dan obyek wisata yang meliputi alam, sejarah, dan arkeologi.</p>
<p>Sejauh ini ada beberapa kecenderungan kuat yang dapat dijadikan rujukan dalam mengarahkan wisata ziarah Islam agar lebih profesional. Antara lain, luasnya sebaran dan tingginya variasi jenis obyek wisata, masih kuatnya apresiasi mayoritas masyarakat Muslim Nusantara yang berdampak pada ramainya kunjungan terhadap peninggalan sejarah purbakala dari masa awal masuknya Islam ke Nusantara.</p>
<p>Pengelolaan obyek-obyek wisata ziarah Islam, di seluruh Nusantara, pada dasarnya berada dalam pengelolaan lembaga formal-struktural, yakni pemerintah, dan lembaga maupun organisasi nonformal seperti kerapatan adat, badan kesejahteraan masjid, keturunan atau para ahli waris, khususnya untuk istana dan keraton.</p>
<p>Pengelolaan kompleks Makam Sunan Drajat di Lamongan, misalnya, dilakukan oleh para ahli waris wali tersebut. R Edi Santoso (38), salah seorang juru kunci Makam Sunan Gunung Drajat, menuturkan, sampai sekarang ada sembilan juru kunci dan sejumlah orang bertugas memelihara kompleks Makam Sunan Gunung Drajat.</p>
<p>Biaya operasional pengelolaan kompleks itu terutama berasal dari sumbangan peziarah. Jumlah pemasukan dari para pengunjung mencapai lebih dari Rp 10 juta per bulan. Uang ini antara lain digunakan untuk biaya pemeliharaan makam, honor bagi para petugas kebersihan dan keamanan, kesejahteraan bagi para juru kunci dan keturunan Sunan Gunung Drajat, ritual tradisional, serta kegiatan sosial lain.</p>
<p>Jika hanya mengandalkan honor dari dinas kebudayaan dan pariwisata setempat, lanjut Edi, nilainya sangat kecil, berkisar Rp 200.000 per bulan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) juga hanya memfokuskan perhatian pada pemugaran dan pelestarian peninggalan di dalam kompleks makam. Apalagi, banyak makam di kompleks itu hanya terdiri dari tumpukan batu, tanpa ada nisan.</p>
<p>Pihak pemerintah daerah (pemda) setempat mendapatkan pemasukan dari uang retribusi pengunjung. Pemda juga mengelola retribusi lahan usaha puluhan pedagang cendera mata, makanan, dan aneka produk lain. &#8220;Jadi, ada pembagian lahan dengan pemda,&#8221; kata Edi.</p>
<p>Sedangkan di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, terdapat 108 orang petugas makam yang terbagi dalam sembilan kelompok. Semua petugas makam, termasuk Bekel Sepuh dan Bekel Anom 12 orang, dipimpin seorang Jeneng dan diangkat Sultan. Tugas mereka meliputi seluruh areal Pasambangan mulai alun-alun, gapura, serambi, serta bagian dalam Pasambangan sampai gedongan (jinem).</p>
<p><strong>Kurang informasi</strong><br />
Sayangnya, hingga kini sebagian besar kunjungan peziarah masih bersifat spontan atau tak terorganisasi. Hal ini diperparah oleh masih rendahnya tingkat pengelolaan aspek informasi yang menjadi latar belakang kesejarahan dari peninggalan-peninggalan itu, baik yang dimiliki agen perjalanan atau para pemandu, informan, termasuk juru kunci dan juru pelihara.</p>
<p>Sejauh ini sebagian besar wisatawan ziarah Islam tidak memiliki pengetahuan yang benar dan lengkap terhadap obyek-obyek yang dikunjungi. Ditambah lagi, faktor pihak penyelenggara atau informan di lokasi kunjungan juga tidak memberikan penjelasan dengan baik. Akibatnya, nilai informasi yang disampaikan pada wisatawan belum optimal.</p>
<p>Padahal, tujuan kunjungan wisatawan ke obyek wisata ziarah itu beraneka ragam. Ada yang hanya ingin berziarah, ada juga yang ingin berziarah sekaligus rekreasi, serta memperoleh tambahan informasi langsung untuk penelitian. Bahkan, di sejumlah obyek wisata ziarah Islam, makam dijadikan sebagai media untuk berdoa meminta rezeki, jodoh, menebak kode buntut, dan kesembuhan penyakit.</p>
<p>Maka dari itu, Hasan menilai pengelolaan obyek wisata ziarah masih memerlukan penerangan lebih lanjut dari aparat terkait, termasuk lembaga-lembaga keagamaan dan organisasi kemasyarakatan Islam. Hal ini bertujuan untuk menjauhkan obyek-obyek wisata ziarah Islam dari hal-hal yang mengarah pada sikap permisif terhadap pelanggaran nilai, etika, dan akhlak Islamiyah.</p>
<p>Kontribusi arkeologi terhadap program wisata ziarah juga diperlukan untuk menyajikan data yang benar, berakurasi tinggi, dan logis bagi pengunjung. Dengan demikian, obyek-obyek wisata ziarah Islam tidak akan berkembang jadi aktivitas yang melanggar akhlak dan pusat syirik.</p>
<p><strong>Pengembangan wisata</strong><br />
Jero Wacik menyatakan, pengembangan wisata ziarah nantinya membawa serta nilai-nilai edukasi yang luhur dalam bentuk keteladanan, penghargaan terhadap para tokoh yang diziarahi karena jasa-jasanya terhadap kehidupan keagamaan dan kemanusiaan, serta kesalehannya kepada Allah. &#8220;Karena itu, wisata ziarah akan dibangkitkan lagi, terutama untuk menarik wisatawan domestik. Tahap awal adalah pengembangan wisata ziarah makam Wali Songo. Obyek wisata ziarah juga akan dikembangkan di seluruh Tanah Air,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Depbudpar telah mencanangkan Tahun Kebangkitan Wisata Ziarah bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jadi, PBNU berperan serta dalam membuat panduan agar aktivitas peziarah tidak melanggar etika dan akhlak Islam.</p>
<p>Menurut Hasan Muarif Ambary, pengembangan wisata ziarah seharusnya dititikberatkan pada aktivitas yang diselenggarakan badan atau biro perjalanan wisata, dan masyarakat pengguna jasa kepariwisataan sehingga wisata ziarah menjadi kebutuhan pokok bersifat spiritual, relaksasi, dan rekreatif.</p>
<p>Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi mengatakan, program itu hendaknya menjadi gerakan wisata sehat lahir dan batin. &#8220;Dengan berwisata ziarah, kita bisa meneladani cara para wali dalam membawakan Islam secara damai dan moderat agar tidak ada konflik antar-agama. Ini yang harus ditemukan kembali untuk membangun bangsa ini,&#8221; ujar Hasyim Muzadi. (Kompas/Evy Rachmawati)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>perjalanan pencari berkah di tengah artefak</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 09:05:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[JalanJalan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/</guid>
		<description><![CDATA[update: rabu, 21 februari 2007sumber: kompas cetak&#62;humaniora Kontekstualisasi Ziarah (1)Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak oleh: Evy Rachmawati Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat. Jarum jam menunjukkan pukul satu <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #990000;">update: rabu, 21 februari 2007</span><br style="color: #990000" /><span style="color: #990000;">sumber: <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/20/humaniora/3332107.htm">kompas cetak&gt;humaniora</a></span></p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #663300;">Kontekstualisasi Ziarah (1)</span><br style="color: #663300; font-weight: bold" /><span style="font-weight: bold; color: #663300;">Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak</span><br />
oleh: Evy Rachmawati</p>
<p>Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat.</p>
<p>Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Sejak pagi para peziarah datang silih berganti, sebagian datang bersama rombongannya dari berbagai daerah. Begitu masuk pintu gapura sebelah timur kompleks makam, mereka dikerumuni belasan anak dan orang dewasa peminta sedekah.</p>
<p>Para peziarah lalu memasuki pintu serambi muka untuk berpamitan pada salah seorang juru kunci yang menunggu di ruang itu. Mereka kemudian menuju ke arah Barat, yaitu ruang di depan pintu pasujudan (pintu Selama Tangkep). Pada dinding di lorong menuju ruangan itu terdapat barang-barang keramik atau porselen dari Tiongkok.</p>
<p>Setelah berwudu, puluhan peziarah duduk bersimpuh di depan pintu pasujudan yang tertutup rapat. Mereka lalu memanjatkan doa sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam di Jawa Barat. Seusai berdoa, mereka bergantian menghampiri pintu pasujudan untuk menaburkan bunga maupun sekadar menyentuh pintu.</p>
<p><span id="more-89"></span></p>
<p>Uniknya, di antara para pengunjung itu ada yang berasal dari etnis China yang beragama Buddha dan Konghucu. Mereka sengaja datang ke kompleks makam ini untuk nyekar ke makam Ong Tien, putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming, dan salah seorang istri Sunan Gunung Jati. Untuk itu disediakan tempat khusus di sisi barat serambi depan kompleks pemakaman.</p>
<p>Di depan pintu makam putri dari China Nyi Ong Tien atau Nyai Ratu Rara Sumanding, istri Sunan Gunung Jati, terdapat satu meja tempat hio. Para peziarah dari komunitas Tionghoa datang silih berganti, membakar hio dan memanjatkan doa di depan pintu makam itu. Seorang perempuan peziarah siang itu sibuk membersihkan tempat ziarah tersebut.</p>
<p>Ada beberapa tradisi saat berziarah ke makam wali. Di makam Sunan Gunung Jati, misalnya, ada tradisi menyediakan bunga campur-baur sebagai tanda belasungkawa dan penghormatan, dan hio dibakar agar timbul bau harum.</p>
<p>Karena letaknya berdampingan, peziarah juga menziarahi makam Syekh Dzatil Kahfi di Gunung Jati setelah dari makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung.</p>
<p><strong>Pengendalian Diri</strong><br />
Banyak peziarah melaksanakan tradisi mandi tujuh sumur, terutama Jumat pertengahan bulan Hijriah dan pada peringatan tradisional Maulud. Empat sumur yakni Kanoman, Kasepuhan, Waluyajati, dan Masjid, berlokasi di kompleks pemakaman Gunung Sembung. Sedangkan tiga sumur lain yaitu Tegangpati, Jalatunda, dan Kejayan, berada di kompleks pemakaman Gunung Jati.</p>
<p>Sedangkan di makam Sunan Drajad, Lamongan, Jawa Timur, ada beberapa ritual yang diselenggarakan pemangku makam, antara lain haul yang diadakan pada tanggal 25 Syaâ€™ban.</p>
<p>Acara ini didahului dengan babat makam oleh warga setempat yang dilakukan pada 24 Syaâ€™ban. Untuk menyambut Maulud Nabi juga diadakan perayaan arak-arakan dan tumpengan.</p>
<p>Makam para wali juga ramai dikunjungi banyak orang setiap hari sebagaimana terlihat di makam Sunan Drajad, Lamongan, dan makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Mereka berziarah sebagai bentuk penghormatan kepada para wali, bahkan banyak peziarah datang untuk meminta berkah.</p>
<p>Kardisi (27), warga Cilangcang, Cirebon, datang bersama dengan ibu dan Darsini, kerabatnya, ke makam Sunan Gunung Jati untuk berziarah. Ketiga perempuan itu tampak khusyuk berdoa, dilanjutkan dengan tabur bunga dan menyentuh pintu pasujudan.</p>
<p>Kardisi mengaku baru pertama kali berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Kedatangannya ini diawali dari keinginannya mengais rezeki ke Arab Saudi sebagai pekerja rumah tangga. Karena itu, selain berziarah, ia pun memanjatkan doa di depan pintu pasujudan agar selamat dan mencapai kesuksesan saat merantau ke negeri orang. &#8220;Saya mau ke Arab,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ny Entay (50), salah seorang peziarah, mengaku kerap datang ke makam Sunan Gunung Jati seorang diri, terutama ketika tengah dirundung masalah rumah tangga. Setiap kali berziarah ia bermalam sampai berhari-hari lamanya untuk berzikir dan melakukan kegiatan ritual lain. &#8220;Saya lagi pusing,&#8221; tuturnya, saat ditemui di salah satu sudut kompleks makam.</p>
<p>Ia mengaku tengah dibelit utang. Padahal suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan anak-anaknya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah menamatkan sekolah. &#8220;Siapa tahu dengan sering berzikir di sini, masalah rumah tangga saya jadi terselesaikan. Anak-anak saya bisa cepat dapat kerja,&#8221; kata Entay.</p>
<p>Pada fase seperti itu, ziarah menjadi sebuah arena pengendalian diri dan doa.</p>
<p>Hal serupa juga diungkapkan Salamah (36), warga Pelumbon, Cirebon. Ia datang ke makam Sunan Gunung Jati hanya berbekal beberapa lembar uang ribuan rupiah dan telah menginap selama beberapa malam di tempat itu. &#8220;Daripada stres, saya memilih menenangkan diri di sini. Biasanya, suami saya akan menjemput. Dia sudah tahu ke mana saya pergi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Perempuan yang sehari-hari berjualan makanan ini mengaku sudah tidak tahan dan ingin cerai lantaran tidak tahan dengan ulah suami dan anak tirinya yang terus merongrong usahanya. Suaminya tidak pernah memberi nafkah padanya sejak beberapa tahun menikah. &#8220;Uang yang saya kasih malah enggak jelas larinya,&#8221; tutur Salamah dengan wajah lesu.</p>
<p><strong>Wisata Sejarah</strong><br />
Dalam sumber-sumber babad, Wali Sanga dianggap sebagai peletak fondasi terbentuknya pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan.</p>
<p>Menurut arkeolog Tri Hatmadji dan Nadjib Hassan dalam buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Wali Sanga merupakan penasihat para penguasa Islam pada waktu itu dan diduga punya peranan penting dalam pergantian kekuasaan dari Majapahit ke Demak.</p>
<p>Tersebarnya agama Islam di Jawa, khususnya, merupakan keberhasilan para wali melalui strategi dan metode dakwah yang tepat sesuai petunjuk Al Quran.</p>
<p>Sebagai tokoh penyebar Islam di Jawa, khususnya, para wali diyakini sebagai orang yang keramat. Mereka dianggap memiliki kelebihan dibandingkan dengan masyarakat lain, dan diyakini memiliki karunia tenaga-tenaga gaib.</p>
<p>Bahkan, sesudah wafat pun mereka masih dianggap mempunyai karisma dan sangat dihormati. Hal ini dapat diketahui dari perlakuan masyarakat terhadap makam para wali dan banyaknya peziarah yang mengunjungi makam para wali itu hingga saat ini.</p>
<p><strong>Karisma Leluhur</strong><br />
Tradisi ziarah kubur erat kaitannya dengan karisma leluhur yang makamnya banyak dikunjungi orang. Karisma leluhur itu dapat diwujudkan dengan bentuk dan hiasan bangunan kubur yang beragam sesuai tradisi seni bangunan yang dikuasai atau disukai. Dan karisma para wali penyebar agama Islam begitu melekat di hati masyarakat, sehingga banyak di antaranya yang berziarah ke makam mereka.</p>
<p>Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengungkapkan, ziarah merupakan suatu kegiatan keagamaan berupa berkunjung ke magrabah atau kuburan para wali atau ulama yang telah mendedikasikan hidupnya bagi pengembangan Islam. Ziarah juga jadi media untuk mengingatkan manusia pada maut yang suatu saat akan menjemputnya.</p>
<p>&#8220;Ziarah telah jadi tradisi masyarakat Islam dunia,&#8221; ujarnya, ketika memberi pengantar program pencanangan Wisata Ziarah, Desember 2006. Ziarah, katanya, juga menjadi media edukasi kepada masyarakat mengenai nilai-nilai positif yang diajarkan para ulama.</p>
<p>Para wali umumnya menyiarkan agama secara damai, tidak melalui perang dan tidak melakukan formalisasi agama.</p>
<p>Oleh karena itu, ajaran Islam yang dibawa para wali juga beradaptasi dengan budaya lokal. &#8220;Ini perlu diteladani agar kita tidak terjebak pada formalisasi agama. Tetapi jangan sampai menganggap makam para wali sebagai tempat yang dikeramatkan,&#8221; kata Hasyim menegaskan.</p>
<p>Berziarah biasanya dilakukan sendiri-sendiri atau berkelompok. Ziarah sendiri-sendiri umumnya dilakukan dengan mengunjungi makam orangtua atau para leluhur, sedangkan ziarah berkelompok, misalnya ke makam Rasullullah saat beribadah haji. &#8220;Di Indonesia, ziarah berkelompok biasa dilakukan dengan mengunjungi kuburan para Wali Sembilan atau ziarah Walisongo,&#8221; kata Hasyim.</p>
<p><strong>Persebaran Peradaban</strong><br />
Dalam versi arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary (buku Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia), obyek-obyek wisata ziarah Islam secara sempit dihubungkan dengan benda-benda berupa makam, masjid, atau relik-relik para tokoh keagamaan dan politik, ulama dan raja.</p>
<p>Obyek wisata ziarah itu tersebar di berbagai jenis lokasi, ada yang terpencil di pelosok daerah atau di tengah bekas kota lama dari sesuatu pusat politik, ekonomi dan peradaban Islam. Banyak bukti mendukung asumsi bahwa muslim dari berbagai kawasan India, Arab dan Persi telah mengadakan kontak intensif dengan komunitas di Jawa atau Nusantara pada abad tujuh sampai delapan masehi dan berabad-abad sesudahnya.</p>
<p>Tanda tertua kedatangan orang Islam di Jawa misalnya tampak pada sebuah kuburan di Leran, Gresik, Jawa Timur, yang bertanggal tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi dengan nama wafat Fatimah binti Maemun bin Hibatallah.</p>
<p>Sejumlah nisan makam Islam Awal mengandung petikan ayat atau hadist yang berhubungan dengan ajaran sufi.</p>
<p>Pola sebaran dan tipologi nisan serta kompleks makam Islam di Jawa sekaligus menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan perpindahan pusat kekuasaan dan pola sebaran pusat-pusat pengajaran Islam. Maulana Malik Ibrahim yang berangka tahun 822 H (1419 M), misalnya, mengandung inskripsi bergaya tulis Kufique, dibuat dari batuan marmer, diduga berasal dari Cambay, Gujarat.</p>
<p>Hal ini memperlihatkan adanya proses sosialisasi Islam di Jawa yang kemudian pada masa puncaknya berkembang jadi pusat-pusat peradaban, lalu dikuasai elit-elit politik yang masih memiliki hubungan darah. Hal yang sama tampak pula pada elit politik kerajaan Mataram Islam, yang memiliki pertautan dengan para wali di Kadilangu, Ampel dan Giri.</p>
<p>Pertautan itu menumbuhkan dugaan, bahwa salah satu faktor legitimasi kekuasaan di Jawa seringkali dikaitkan dengan hubungannya terhadap para wali penyebar Islam.</p>
<p>Lebih dari itu, upaya legitimasi serupa juga dilakukan dengan menghubungkannya pada para raja-raja Hindu-Jawa sebelumnya, baik melalui hubungan darah, perkawinan atau perpindahan pulung keraton.</p>
<p>Kendati demikian, obyek-obyek wisata ziarah Islam tidak hanya makam atau kompleks makam dengan segala ekspresinya. Makam para raja atau wali juga merupakan sebagian dari produk kesenian istana.</p>
<p>Obyek-obyek wisata ziarah Islam harus pula memperhitungkan dan memasukkan obyek lain seperti istana, benteng, perpustakaan, masjid dan benda-benda rerelik lain. (Kompas/Evy Rachmawati)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

