<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita si Abril &#187; Kliping</title>
	<atom:link href="http://abril.susiloadhy.net/category/kliping/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abril.susiloadhy.net</link>
	<description>yang asam.pedes.manis.asin.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 14:07:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Renaisans Perkotaan</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2011/03/09/renaisans-perkotaan/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2011/03/09/renaisans-perkotaan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 08:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Prof. Eko Budihardjo sumber: Kompas Cetak, 9 Maret 2011 Berita tentang kemubaziran dana rakyat triliunan rupiah akibat telantarnya ribuan unit rumah susun sewa di DKI Jakata (Kompas, 1-2 Maret 2011) sungguh terasa amat menyesakkan dada. Betapa tidak. Begitu banyak saudara kita sebangsa dan setanah air yang masih tinggal di kolong jembatan, sepanjang tepi rel <a href="http://abril.susiloadhy.net/2011/03/09/renaisans-perkotaan/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #666699">oleh: Prof. Eko Budihardjo<br />
sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/2011/03/09/04544030/renaisans.perkotaan">Kompas Cetak, 9 Maret 2011<br />
</a></span></p>
<p style="text-align: justify">Berita tentang kemubaziran dana rakyat triliunan rupiah akibat  telantarnya ribuan unit rumah susun sewa di DKI Jakata (Kompas, 1-2  Maret 2011) sungguh terasa amat menyesakkan dada.</p>
<p style="text-align: justify">Betapa  tidak. Begitu banyak saudara kita sebangsa dan setanah air yang masih  tinggal di kolong jembatan, sepanjang tepi rel kereta api, bahkan di  kuburan, dengan kondisi mengenaskan. Kok, bisa-bisanya di negara  Pancasilais ini ada 74 dari 78 menara kembar rumah susun yang sudah  terbangun ternyata mangkrak atau telantar. Kendalanya, menurut pihak  berwenang, karena tak tersedia prasarana (infrastruktur) seperti air  bersih dan listrik, serta sarana pendidikan dan akses transportasi.</p>
<p style="text-align: justify">Ajaib  betul. Bagaimana mungkin rumah susun dibangun tanpa kelengkapan air  bersih dan jaringan listrik. Orang pasti  geleng-geleng kepala tak habis  pikir mendengar adanya rumah susun di Kemayoran yang tak bisa dihuni  karena lift yang dijanjikan Pemprov belum juga dipasang. Menyebalkan,  menggelikan, sekaligus memalukan kisah tragis ini terjadi di ibu kota  negara di era milenium ketiga. Bukan di kota kecil terpencil.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>”Pancasila” perencanaan kota</strong></p>
<p style="text-align: justify">Konon,  dari begitu banyak dosa para pejabat pemerintah, dosa  terbesar adalah  dalam ranah perencanaan. Cukup banyak rencana dan program disusun tanpa  melalui studi, kajian, atau penelitian mendalam. Termasuk program seribu  menara yang sebetulnya maksudnya amat mulia, tetapi proses  perencanaannya serba instan. Mang Usil dalam Pojok-nya di Kompas dengan  amat cerdas menyarikannya: ”Ribuan rumah susun telantar, yang penting  uang masuk”.<br />
<span id="more-263"></span>Jika kita semua mau belajar dan merunut jauh ke  belakang, sudah beberapa dekade  silam Koes Hadinoto merumuskan lima  unsur dasar dalam perencanaan kota. Kita bisa menyebutnya dengan  predikat keren ”Pancasila Perencanaan Kota”, yaitu Wisma (perumahan),  Karya (lapangan kerja), Marga (jaringan jalan), Suka (rekreasi, taman),  dan Prasarana (air bersih, listrik, drainase, persampahan).</p>
<p style="text-align: justify">Kisah  memilukan berupa telantarnya ribuan rusunami dan rusunawa adalah akibat  tak diterapkannya kaidah ini. Kebijakan dan program pemerintah terlalu  teknokratik, tertutup, terpasung pada sisi pasokan, berlandaskan prinsip  konvensional: predict and provide. Padahal, di era Reformasi, mestinya  kebijakan dan program lebih demokratik, terbuka, mengutamakan sisi  pemenuhan kebutuhan yang aktual dan terukur, berlandaskan prinsip  kontemporer debate and decide (baca William Saunders, Urban Planning  Today, 2006).</p>
<p style="text-align: justify">Seyogianya sebelum rencana perumahan disusun, sudah  ada studi tentang siapa kelompok sasarannya, berapa jumlahnya,  bagaimana seluk-beluk dan gaya hidupnya, apa lapangan kerjanya,  bagaimana kemampuan ekonominya, dan sebagainya. Perumahan dengan  penghuninya itu ibarat cangkang dengan kerangnya. Pas, tak terlalu  besar, tak terlalu kecil. Kokoh dan kuat konstruksinya, tidak gampang  retak. Tak kalah penting, indah dipandang mata atau estetis.</p>
<p style="text-align: justify">Sesudah  mendalami berbagai hal terkait unit rumah dengan berbagai jenis,  ukuran, dan biaya sesuai tingkat keterjangkauan kelompok sasaran, mesti  dilanjutkan dengan kajian tentang lokasi yang tepat sesuai lapangan  kerjanya. Sangat tak masuk akal jika rusun untuk nelayan terletak di  lokasi terlalu jauh dari pantai. Berikutnya yang ternyata juga sering  terlupakan, keterkaitannya dengan jaringan transportasi dan ketersediaan  prasarana dasar, seperti air bersih, listrik, drainase, persampahan.  Namanya saja prasarana, seharusnya disiapkan lebih dulu sebelum  dipastikan untuk membangun sarana berupa perumahannya.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Generasi Renaisans</strong></p>
<p style="text-align: justify">Sesuai  pesan Romo Mangunwijaya (almarhum), yang sudah telanjur, sikap kita tak  bisa lain kecuali ”apa boleh buat”. Namun,   mesti dipancangkan tekad  membaja untuk tak mengulang kesalahan sama. Sudah banyak bahkan terlalu  banyak kecaman atas  ”absurd”-nya rencana kota dan perumahan di segenap  pelosok Tanah Air. Sampai planologi dipelesetkan jadi plan–no–logic,  alias rencana tanpa penalaran. Kebetulan saya baru saja membaca buku  Patricia Ward, pakar budaya, berjudul Renaissance Generation (2009). Dia  menyatakan, ketika di abad ini suatu kota, atau bahkan negara, sudah  menunjukkan gejala keruntuhan, itulah saatnya lahir Generasi Renaisans  jilid kedua. Pengertian Renaisans secara ringkas dan bernas: ”A movement  or period of robust creative and intellectual activity that is  associated with a rebirth of civilization”.</p>
<p style="text-align: justify">Yang paling penting,  usulannya tentang pendayagunaan seoptimal mungkin apa yang diistilahkan  dengan infrastruktur intelektual. Maksudnya, pelibatan para ilmuwan,  cendekiawan, pakar profesional yang betul-betul kompeten di bidangnya.  Mereka bukan hanya milik kampus perguruan tingginya, melainkan juga jadi  milik bangsa. Sekadar contoh, gagasan menangani masalah lalu lintas di  Beijing dengan inovasi baru berupa pengoperasian bus mengangkang dua  meter di atas tanah datang dari ilmuwan Universitas Shanghai.</p>
<p style="text-align: justify">Yang  juga amat menarik dari paparannya tentang Renaisans Perkotaan, bahwa  dalam era globalisasi ini kita justru bisa lebih banyak belajar  dari-kota menengah seperti Providence (AS), Barcelona (Spanyol), dan  Curitiba (Brasil). Bukannya dari New York, Madrid, atau London. Serupa  dengan Indonesia, keteladanan dalam perencanaan dan pembangunan kota  malah ditunjukkan kota-kota sekunder seperti Solo. Misalnya, penanganan  pedagang kaki lima, pembangunan pasar tradisional, penataan kawasan  pusaka budaya, dan paling mutakhir rintisan rail-bus dan bus tingkat  wisata.</p>
<p style="text-align: justify">Mari memancangkan tekad  bersama membenahi kota-kota kita  dengan semangat Renaisans, merintis terbentuknya peradaban baru  perkotaan. Tanpa harus saling menyalahkan dan merasa paling benar  sendiri seperti sering dipertontonkan para politikus di puncak  kekuasaan.</p>
<p style="text-align: justify"><span style="color: #808080">(Eko Budihardjo<em> Guru Besar Arsitektur dan Perkotaan Universitas Diponegoro; Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia)</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2011/03/09/renaisans-perkotaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>makam rahasia pangeran jayakarta</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/30/makam-rahasia-pangeran-jayakarta/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/30/makam-rahasia-pangeran-jayakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2007 06:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[batavia]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/04/12/makam-rahasia-pangeran-jayakarta/</guid>
		<description><![CDATA[update: jumat, 30 maret 2007 sumber: kompas&#62;metropolitan Wisata Ziarah Makam Rahasia Pangeran Jayakarta oleh: Muyawan Karim Makam Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum kini bisa dikunjungi siapa saja. Lokasinya pun relatif mudah ditemukan dan dicapai. Padahal, tempat peristirahatan terakhir bangsawan Banten itu pernah selama lebih dari tiga abad dirahasiakan anak-cucunya. &#8220;Waktu masih hidup, Pangeran Jayakarta pernah <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/03/30/makam-rahasia-pangeran-jayakarta/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #cc9933;">update: jumat, 30 maret 2007<br />
sumber: <a href="http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/30/metro/3417595.htm">kompas&gt;metropolitan</a></span><br />
<span style="color: #336600;"><strong><br />
Wisata Ziarah<br />
Makam Rahasia Pangeran Jayakarta</strong></span><br />
oleh: Muyawan Karim</p>
<p>Makam Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum kini bisa dikunjungi siapa saja. Lokasinya pun relatif mudah ditemukan dan dicapai. Padahal, tempat peristirahatan terakhir bangsawan Banten itu pernah selama lebih dari tiga abad dirahasiakan anak-cucunya.</p>
<p>&#8220;Waktu masih hidup, Pangeran Jayakarta pernah berpesan agar jika mati kuburannya dirahasiakan sampai Belanda angkat kaki dari Jakarta,&#8221; kata Raden Supriyadi Rosyid, penjaga makam Pangeran Jayakarta yang terletak di pekarangan Masjid As-Salafiyah, Jalan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. &#8220;Sebab, kalau sampai ketahuan Belanda, makam itu pasti dimusnahkan,&#8221; lanjut pria berusia 58 tahun itu.  Wasiat itulah yang kemudian berusaha dipenuhi kerabat dan keturunannya. Sejak sang pangeran wafat dan dimakamkan tahun 1640, mereka menutup rapat-rapat segala informasi tentang keberadaan kuburannya. Rahasia terus dijaga dari generasi ke generasi selama lebih dari tiga abad, sampai penjajah Belanda benar-benar hengkang dari bumi Nusantara. &#8220;Baru pada zaman Gubernur Henk Ngantung keberadaan makam ini diungkapkan kepada umum,&#8221; ujar Rosyid yang mengaku termasuk keturunan ke-13 dari Pangeran Jayakarta. Henk Ngantung adalah gubernur DKI Jakarta antara 1964-1965.</p>
<p>Setelah itu, makam Pangeran Jayakarta tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Mereka tak cuma datang dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi bahkan dari berbagai daerah di luar Jawa. Kata Rosyid, &#8220;Peziarah banyak, terutama pada setiap malam Jumat.&#8221; Sebagai pejuang yang melawan Belanda di Jakarta, Pangeran Jayakarta dianggap sebagai salah seorang pahlawan Jakarta. Karenanya, sudah jadi tradisi bagi gubernur Jakarta untuk berziarah ke makamnya setiap hari ulang tahun Ibu Kota.</p>
<p>Hal sama juga dilakukan Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Kodam Jaya) dalam rangka memperingati hari jadi kesatuan militer, setiap tanggal 24 Desember.</p>
<p><span id="more-101"></span><br />
<strong>Bangsawan Banten</strong><br />
Asal-usul Pangeran Jayakarta, atau Jayakerta, masih samar. Dalam situs internet Pemerintah Jakarta Timur disebutkan, Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari Pangeran Akhmad Jakerta, putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten.<br />
Namun, menurut sebuah sumber sejarah lain, Pangeran Jayakarta adalah putra Ratu Bagus Angke, juga bangsawan asal Banten. Ratu Bagus Angke alias Pangeran Hasanuddin adalah menantu Fatahillah atau Falatehan yang konon menantu Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.</p>
<p>Pangeran Jayakarta mewarisi kekuasaan atas Jayakerta dari Ratu Bagus Angke, yang sebelumnya memperoleh kekuasaan itu dari Fatahillah, yang memutuskan pulang ke Banten (Banten Lama sekarang) setelah berhasil merebut pelabuhan itu dari Kerajaan Pajajaran pada pertengahan Februari 1527. Waktu itu, ia juga berhasil menghalau pasukan Portugis yang juga berambisi menguasai bandar samudra nan ramai itu.</p>
<p>Jayakerta atau Jayakarta adalah nama yang diberikan Fatahillah bagi pelabuhan yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa. Nama baru disahkan pada 22 Juni 1527, tanggal yang hingga kini dianggap sebagai hari jadi Kota Jakarta.</p>
<p>Sejarah mencacat, di bawah kepemimpinan Pangeran Jayakarta kota bandar itu maju pesat, terutama di bidang perdagangan hasil bumi. Hal itu membuat Belanda, lewat perusahaan dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), ingin berusaha di sana. VOC sebelumnya sudah malang-melintang dan menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku.</p>
<p>Pada November 1610, Belanda berhasil mendapat hak atas tanah seluas 94 meter persegi di sisi timur muara Kali Ciliwung. Sebagai imbalan, kepada Pangeran Jayakarta Belanda membayar sebesar 2.700 florin atau 1.200 real. Namun, di pelabuhan yang ketika itu juga disebut Jakerta, Belanda mempraktikkan sistem dagang monopoli yang licik, yang merugikan Pangeran Jayakarta. Perselisihan pun pecah dan merebak antara tahun 1610-1619.</p>
<p>Dalam konflik itu, Pangeran Jayakarta dibantu pasukan kiriman Sultan Banten yang juga merasa dicurangi serta pasukan Inggris, yang waktu itu juga sudah punya markas di sisi barat muara Ciliwung. Tak tahan dikeroyok, Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen kabur ke Ambon, meminta tambahan pasukan.</p>
<p>Saat Coen masih di Maluku dan pasukan kompeni (VOC) sudah terpojok, muncul konflik baru antara Banten dan Inggris, yang berakhir dengan terusirnya Inggris dari Jayakarta. Akan tetapi, pada saat sama, Coen tiba-tiba muncul lagi dengan membawa pasukan yang masih segar dari Ambon.</p>
<p>Mengusung semboyan &#8220;despereet niet&#8221; (jangan putus asa) Coen langsung memorakporandakan pasukan koalisi Banten-Jayakarta yang sudah loyo gara-gara pertempuran dengan Inggris. Bala tentara Banten melarikan diri ke arah barat dan selatan, sementara Pangeran Jayakarta dan para pengikutnya mundur ke arah tenggara. Setelah menguasai Jakerta pada 12 Maret 1619, Coen mengganti nama kota pelabuhan itu menjadi Batavia.</p>
<p><strong>Mengecoh dengan jubah </strong><br />
Meski terusir dari Jakerta, Pangeran Jayakarta belum menyerah. Ajakan Belanda untuk berdamai selalu ia tolak. Pangeran Jayakarta bahkan terus melancarkan perlawanan. Dalam sebuah pertempuran yang terjadi di daerah Mangga Dua, ia kehilangan Syekh Badar Alwi Alidrus, panglima perangnya yang tertangkap dan dikuliti anak buah JP Coen.</p>
<p>Dalam pertempuran pada sekitar Mei 1619 itu, pasukan Pangeran Jayakarta dikabarkan terdesak. Mereka dikepung pasukan Belanda dari arah Senen, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Tanjung Priok.</p>
<p>Pangeran Jayakarta dikabarkan juga gugur dalam pertempuran itu. Akan tetapi, ada pula kisah yang menyebut beliau berhasil lolos dari maut. Kisah sejarah ini pun ada beberapa versi, termasuk yang bernuansa gaib, yang menyebut bahwa, saat dikejar Belanda, Pangeran Jayakarta tiba-tiba menghilang di sebuah sumur di daerah Angke, tetapi kemudian muncul lagi di Mangga Dua dan melepaskan diri dari kejaran.</p>
<p>Versi lain, yang pernah diceritakan Raden Jayanegara, juga keturunan Pangeran Jayakarta, menyebut, saat jadi buronan Belanda, kakek moyangnya itu berhasil mengelabui tentara kompeni dengan melepas jubah dan sorbannya, yang lantas dibuang ke dalam sebuah sumur di Mangga Dua. Belanda menyangka Pangeran Jayakarta tewas setelah menembaki jubah dan sorban di sumur itu, yang kini berada di Jalan Pangeran Jayakarta dan dikenal sebagai keramat Pangeran Jayakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/30/makam-rahasia-pangeran-jayakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>termenung di kuburan gubernur jenderal van de eerens</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/23/termenung-di-kuburan-gubernur-jenderal-van-de-eerens/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/23/termenung-di-kuburan-gubernur-jenderal-van-de-eerens/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Mar 2007 11:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/03/23/termenung-di-kuburan-gubernur-jenderal-van-de-eerens/</guid>
		<description><![CDATA[update: jumat, 23 maret 2007 sumber: kompas&#62;metropolitan termenung di kuburan gubernur jendral van de eerens oleh: mulyawan karim &#8220;Rustplaats van DJ de Eerens Luitn-Generaal Gouverneur Generaal van Nederlandsch-Indie&#8221; RIP (Tempat peristirahatan DJ de Eerens. Letnan Jenderal. Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Beristirahat dalam Damai) Hanya begitu catatan yang ada di nisan makam Gubernur Jenderal Dominique Jacques <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/03/23/termenung-di-kuburan-gubernur-jenderal-van-de-eerens/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #cc0000;">update: jumat, 23 maret 2007<br />
sumber: <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/23/metro/3402083.htm">kompas&gt;metropolitan</a></span></p>
<p><span style="color: #333399;"><strong>termenung di kuburan gubernur jendral van de eerens</strong><br />
oleh: mulyawan karim</span></p>
<p><span style="color: #333399;"><br />
<span style="color: #666666;"><em>&#8220;Rustplaats<br />
van<br />
DJ de Eerens<br />
Luitn-Generaal<br />
Gouverneur Generaal<br />
van<br />
Nederlandsch-Indie&#8221;<br />
RIP</em><br />
(Tempat peristirahatan DJ de Eerens. Letnan Jenderal. Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Beristirahat dalam Damai)</span></span></p>
<p><span style="color: #666666;">Hanya begitu catatan yang ada di nisan makam Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens yang ada di Kebun Raya Bogor (KRB). Meski terpahat di batu pualam yang abadi, epitaf bahkan tak menyebut tempat dan tanggal lahir serta di mana dan kapan ia wafat. Amat sederhana.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Akan tetapi, sejarah tetap mencatat, De Eerens adalah Gubernur Jenderal Hindia Belandaâ€”negeri yang kini bernama Indonesiaâ€”antara 1836-1840. Ia lahir di Alkmaar, Belanda, 17 Maret 1781, dan wafat di Buitenzorg, kini Bogor, pada 30 Mei 1840. De Eerens wafat mendadak saat masih menjabat gubernur jenderal.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">De Eerens yang perwira militer tiba di Batavia pada 22 Februari 1835. Setahun kemudian, 29 Februari 1836, ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-44, menggantikan Jean Chretien Baud.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Tugas utama De Eerens adalah melanjutkan kebijakan cultuur stelsel alias tanam paksa. Kebijakan ini adalah buah gagasan Johannes van den Bosch, gubernur jenderal antara 1830-1833.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Dalam masa jabatan De Eerens, dampak buruk cultuur stelsel, yang mewajibkan petani padi di Jawa menyisihkan sebagian lahan untuk memproduksi tanaman komoditas ekspor, mulai nyata. Di daerah-daerah perkebunan tebu, rakyat menderita akibat perebutan sumber air antara petani padi dan pabrik gula. Paceklik merajalela. Harga beras melonjak.</span></p>
<p><span style="color: #666666;"><span id="more-92"></span><br />
</span></p>
<p><span style="color: #666666;"><strong>Putra-putri Van den Bosch</strong><br />
Makam De Eerens adalah salah satu dari 38 kuburan yang ada di pemakaman Belanda di dalam lingkungan KRB. Pemakaman itu, yang sudah ada sebelum taman botani itu didirikan pada 1817, lokasinya tersembunyi di tengah rumpun-rumpun bambu yang rimbun.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Kuburan tertua adalah milik Cornelis Potmans, yang meninggal dan dikubur pada 2 Mei 1784. Dalam buku Graveyards in the Bogor Botanical Gardens yang diterbitkan LIPI (1999), disebutkan Potmans adalah karyawan administrasi sebuah toko obat. Di batu kuburnya tertulis umur persis laki-laki Belanda itu, yakni 42 tahun, 10 bulan, dan 23 hari.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Sebaliknya, makam Andre Joseph Guillaume Henri Kostermans adalah yang terbaru. Ahli ilmu botani ternama itu wafat di Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta pada 10 Juli 1994. Saat masih hidup, laki-laki Belanda kelahiran Purworejo, Jawa tengah, 1 Juli 1901, itu sudah bilang, jika mati, ia ingin dikubur di KRB, di antara pepohonan yang ia cintai.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Kostermans menjadi warga negara Indonesia pada 1958 dan mengganti nama jadi Achmad Jahya Go Hartono.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">De Eerens adalah satu-satunya gubernur jenderal Belanda yang dikubur di kompleks pemakaman seluas sekitar 700 meter persegi itu. Akan tetapi, di sana banyak kuburan anak-istri gubernur jenderal lain yang berkuasa pada abad ke-19 dan sempat menghuni Istana Bogor.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Di antara makam-makam yang umumnya berbentuk monumen batu segi empat pendek, paling tidak ada dua kuburan istri gubernur jenderal. Mereka adalah Jeannette Antoinette Pietermaat, istri Gubernur Jenderal Pieter Mijer (1866-1872), dan Elizabeth Charlotte Vincent, istri kedua Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen (1845-1851).</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Menurut ahli silsilah Belanda, PC Boys van Treslong, dalam bukunya Genealogische en herhaldische gedenkwaardigheden bettrefende Europeanen op Java (Keturunan Eropa di Jawa yang Layak Diingat, 1934), Elizabeth Charlotte Vincent adalah perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, 6 Juni 1827. Ia meninggal di Buitenzorg, 14 Agustus 1851, setelah melahirkan bayinya, yang juga meninggal saat dilahirkan pada 21 Juni 1851.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Putri gubernur jenderal lain yang wafat dan dikubur di tempat sama adalah Gertrude Jacqueline Gerarde van Rees, putri Gubernur Jenderal Otto van Rees (1884-1888). Gertrude, yang wafat pada 28 September 1886, adalah anak Van Rees dari istri keduanya, Johanna Sara Wilhelmina van Braam Morris.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Di KRB pun terbaring jasad dua anak Van den Bosch, gubernur jenderal yang terkenal itu. Mereka adalah Adriana, putrinya, yang wafat dalam usia 23 tahun pada 18 September 1831, dan Johannes Hendrik Lodewijk Otto, putranya, yang meninggal dalam usia dua tahun, 20 Juni 1836. Johannes dilahirkan dan meninggal di vila keluarga Van den Bosch di Pondok Gede di utara Bogor.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Sebuah kuburan penting lain adalah milik Ary Prins, ahli hukum Belanda yang meninggal di Jakarta pada 28 Januari 1876. Prins yang juga ketua Raad van Nederlansch-Indie (Parlemen Hindia Belanda) pernah dua kali jadi penjabat gubernur jenderal, yakni antara 2 September-19 Oktober 1861 dan 25 Oktober-28 Desember 1866.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Di pemakaman Belanda di KRB, kuburan Prins adalah yang paling besar. Terbuat dari batu cadas kelabu, makam itu berbentuk monumen dengan dasar dasar berukuran 2 meter x 2 meter dan tinggi sekitar empat meter.</span></p>
<p><span style="color: #666666;"><strong>Tempat sepeda Megawati</strong><br />
Menurut Kepala Bagian Humas KRB Ugi Sugiarti, meski hampir selalu sepi, tak ada yang menganggap kuburan Belanda itu angker. &#8220;Mantan Presiden Megawati dulu sering menaruh sepedanya di sana kalau ia sedang berjalan-jalan di Kebun Raya. Mungkin karena dianggap aman,&#8221; Ugi mengutip cerita yang pernah ia dengar. Kebiasaan itu, dilakukan setiap kali Megawati kecil diajak ayahnya, Presiden Soekarno, menginap di Istana Bogor.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Pemakaman Belanda di KRB itu, yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari pintu gerbang pagar belakang Istana Bogor, bahkan sebuah obyek wisata yang menarik.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">&#8220;Hampir tiap hari saya membawa satu-dua turis Belanda ke sana. Mereka senang membaca tulisan yang ada di batu nisan,&#8221; kata Jusuf Ismail, Koordinator Pemandu Wisata KRB. &#8220;Pada musim liburan, Juni sampai Agustus, wisatawan Belanda yang datang ke Kebun Raya, termasuk ke kuburan itu, setiap harinya bahkan bisa mencapai puluhan orang,&#8221; lanjut karyawan KRB berumur 52 tahun itu.</span></p>
<p><span style="color: #666666;">Kini, setelah zaman berganti dan dendam memudar, tak ada salahnya sesekali mengunjungi makam Gubernur Jenderal De Eerens di Bogor.</span></p>
<p><span style="color: #333399;"><span style="color: #666666;">Jangan bayangkan dia sebagai penguasa penjajah, kepanjangan tangan rezim feodal di Den Haag. Bayangkan De Eerens dan orang-orang Belanda lain yang terbaring di KRB sebagai manusia biasa. Sebab, siapa tahu, mereka sesungguhnya adalah pribadi-pribadi yang merana, yang terpaksa hidup, mati, dan dikuburkan di negeri orang, jauh dari sanak keluarga (kompas/mulyawan karim)</span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/03/23/termenung-di-kuburan-gubernur-jenderal-van-de-eerens/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>menanti kebangkitan wisata ziarah</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 09:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/</guid>
		<description><![CDATA[update: rabu, 21 februari 2007 sumber: kompas cetak&#62;humaniora Kontekstualisasi Ziarah (2-Habis) Menanti Kebangkitan Wisata Ziarah oleh: Evy Rachmawati Tradisi ziarah biasanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, maupun anggota keluarga yang dicintai. Di Indonesia, ziarah dalam artian umum merupakan kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya, dan terutama ke makam para wali penyebar agama <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #cc0000;">update: rabu, 21 februari 2007<br />
sumber: <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/21/humaniora/">kompas cetak&gt;humaniora</a></span></p>
<p><span style="color: #663300;"><strong>Kontekstualisasi Ziarah (2-Habis)<br />
Menanti Kebangkitan Wisata Ziarah</strong></span><br />
oleh: Evy Rachmawati</p>
<p>Tradisi ziarah biasanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, maupun anggota keluarga yang dicintai. Di Indonesia, ziarah dalam artian umum merupakan kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya, dan terutama ke makam para wali penyebar agama Islam sebagai wujud kecintaan.</p>
<p>Karisma para leluhur ini begitu melekat di dalam hati masyarakat sampai sekarang.</p>
<p>Dalam terminologi Arab, perjalanan atau wisata diistilahkan sebagai as-Safar atau az-Ziyarah. Jadi, wisata ziarah merupakan sebuah bentuk kunjungan ritual dan dilakukan ke makam dan masjid bersejarah. Dari prosesnya, wisata ziarah juga dipahami sebagai perjalanan batin seseorang, sehingga memiliki muatan emosi dan kontemplasi tinggi.</p>
<p>Secara umum, kita mengenal konsepsi ziarah ke makam dalam berbagai konteksnya, antara lain ziarah sebagai wujud rasa bakti seorang anak ke makam orangtua atau kerabat, ziarah ke makam pahlawan sebagai bentuk peringatan. Selain itu, ziarah sebagai penghayatan nilai-nilai keulamaan.</p>
<p>Tradisi ziarah ke makam para wali sudah cukup populer, terutama Walisanga yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Para wali itu di antaranya Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus.</p>
<p>Sebenarnya, hampir seluruh wilayah di Tanah Air memiliki makam-makam wali. Ini memperlihatkan bahwa di hampir semua daerah di Indonesia pernah hidup dan berjuang seorang ulama besar.</p>
<p>Kini, makam para wali si seluruh Indonesia hampir tiap hari dikunjungi umat sebagai pertanda kecintaan terhadap para walinya. Sebagai dampak dari berkembangnya budaya ziarah ke makam, terutama makam para wali, pemrintah maupun swasta merespons positif dengan mengembangkan tempat ziarah sebagai obyek wisata ziarah.</p>
<p><span id="more-88"></span><br />
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dalam pencanangan Tahun Kebangkitan Wisata Ziarah 2006 di Lamongan, Jawa Timur, akhir tahun lalu, menjelaskan, wisata ziarah merupakan bagian dari wisata budaya yang berpotensi besar dari sisi jumlah dan daya tarik obyek yang tersebar di pelosok Tanah Air. Karena itu, wisata ziarah perlu terus dikembangkan sebagai salah satu program unggulan pariwisata nasional.</p>
<p>Menurut arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary dalam bukunya Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, dalam paket wisata ziarah setidaknya terdapat tiga komponen terkait, yakni wisata sebagai kegiatan perjalanan yang diorganisasi biro perjalanan, masyarakat pengguna jasa wisata, dan obyek wisata yang meliputi alam, sejarah, dan arkeologi.</p>
<p>Sejauh ini ada beberapa kecenderungan kuat yang dapat dijadikan rujukan dalam mengarahkan wisata ziarah Islam agar lebih profesional. Antara lain, luasnya sebaran dan tingginya variasi jenis obyek wisata, masih kuatnya apresiasi mayoritas masyarakat Muslim Nusantara yang berdampak pada ramainya kunjungan terhadap peninggalan sejarah purbakala dari masa awal masuknya Islam ke Nusantara.</p>
<p>Pengelolaan obyek-obyek wisata ziarah Islam, di seluruh Nusantara, pada dasarnya berada dalam pengelolaan lembaga formal-struktural, yakni pemerintah, dan lembaga maupun organisasi nonformal seperti kerapatan adat, badan kesejahteraan masjid, keturunan atau para ahli waris, khususnya untuk istana dan keraton.</p>
<p>Pengelolaan kompleks Makam Sunan Drajat di Lamongan, misalnya, dilakukan oleh para ahli waris wali tersebut. R Edi Santoso (38), salah seorang juru kunci Makam Sunan Gunung Drajat, menuturkan, sampai sekarang ada sembilan juru kunci dan sejumlah orang bertugas memelihara kompleks Makam Sunan Gunung Drajat.</p>
<p>Biaya operasional pengelolaan kompleks itu terutama berasal dari sumbangan peziarah. Jumlah pemasukan dari para pengunjung mencapai lebih dari Rp 10 juta per bulan. Uang ini antara lain digunakan untuk biaya pemeliharaan makam, honor bagi para petugas kebersihan dan keamanan, kesejahteraan bagi para juru kunci dan keturunan Sunan Gunung Drajat, ritual tradisional, serta kegiatan sosial lain.</p>
<p>Jika hanya mengandalkan honor dari dinas kebudayaan dan pariwisata setempat, lanjut Edi, nilainya sangat kecil, berkisar Rp 200.000 per bulan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) juga hanya memfokuskan perhatian pada pemugaran dan pelestarian peninggalan di dalam kompleks makam. Apalagi, banyak makam di kompleks itu hanya terdiri dari tumpukan batu, tanpa ada nisan.</p>
<p>Pihak pemerintah daerah (pemda) setempat mendapatkan pemasukan dari uang retribusi pengunjung. Pemda juga mengelola retribusi lahan usaha puluhan pedagang cendera mata, makanan, dan aneka produk lain. &#8220;Jadi, ada pembagian lahan dengan pemda,&#8221; kata Edi.</p>
<p>Sedangkan di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, terdapat 108 orang petugas makam yang terbagi dalam sembilan kelompok. Semua petugas makam, termasuk Bekel Sepuh dan Bekel Anom 12 orang, dipimpin seorang Jeneng dan diangkat Sultan. Tugas mereka meliputi seluruh areal Pasambangan mulai alun-alun, gapura, serambi, serta bagian dalam Pasambangan sampai gedongan (jinem).</p>
<p><strong>Kurang informasi</strong><br />
Sayangnya, hingga kini sebagian besar kunjungan peziarah masih bersifat spontan atau tak terorganisasi. Hal ini diperparah oleh masih rendahnya tingkat pengelolaan aspek informasi yang menjadi latar belakang kesejarahan dari peninggalan-peninggalan itu, baik yang dimiliki agen perjalanan atau para pemandu, informan, termasuk juru kunci dan juru pelihara.</p>
<p>Sejauh ini sebagian besar wisatawan ziarah Islam tidak memiliki pengetahuan yang benar dan lengkap terhadap obyek-obyek yang dikunjungi. Ditambah lagi, faktor pihak penyelenggara atau informan di lokasi kunjungan juga tidak memberikan penjelasan dengan baik. Akibatnya, nilai informasi yang disampaikan pada wisatawan belum optimal.</p>
<p>Padahal, tujuan kunjungan wisatawan ke obyek wisata ziarah itu beraneka ragam. Ada yang hanya ingin berziarah, ada juga yang ingin berziarah sekaligus rekreasi, serta memperoleh tambahan informasi langsung untuk penelitian. Bahkan, di sejumlah obyek wisata ziarah Islam, makam dijadikan sebagai media untuk berdoa meminta rezeki, jodoh, menebak kode buntut, dan kesembuhan penyakit.</p>
<p>Maka dari itu, Hasan menilai pengelolaan obyek wisata ziarah masih memerlukan penerangan lebih lanjut dari aparat terkait, termasuk lembaga-lembaga keagamaan dan organisasi kemasyarakatan Islam. Hal ini bertujuan untuk menjauhkan obyek-obyek wisata ziarah Islam dari hal-hal yang mengarah pada sikap permisif terhadap pelanggaran nilai, etika, dan akhlak Islamiyah.</p>
<p>Kontribusi arkeologi terhadap program wisata ziarah juga diperlukan untuk menyajikan data yang benar, berakurasi tinggi, dan logis bagi pengunjung. Dengan demikian, obyek-obyek wisata ziarah Islam tidak akan berkembang jadi aktivitas yang melanggar akhlak dan pusat syirik.</p>
<p><strong>Pengembangan wisata</strong><br />
Jero Wacik menyatakan, pengembangan wisata ziarah nantinya membawa serta nilai-nilai edukasi yang luhur dalam bentuk keteladanan, penghargaan terhadap para tokoh yang diziarahi karena jasa-jasanya terhadap kehidupan keagamaan dan kemanusiaan, serta kesalehannya kepada Allah. &#8220;Karena itu, wisata ziarah akan dibangkitkan lagi, terutama untuk menarik wisatawan domestik. Tahap awal adalah pengembangan wisata ziarah makam Wali Songo. Obyek wisata ziarah juga akan dikembangkan di seluruh Tanah Air,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Depbudpar telah mencanangkan Tahun Kebangkitan Wisata Ziarah bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jadi, PBNU berperan serta dalam membuat panduan agar aktivitas peziarah tidak melanggar etika dan akhlak Islam.</p>
<p>Menurut Hasan Muarif Ambary, pengembangan wisata ziarah seharusnya dititikberatkan pada aktivitas yang diselenggarakan badan atau biro perjalanan wisata, dan masyarakat pengguna jasa kepariwisataan sehingga wisata ziarah menjadi kebutuhan pokok bersifat spiritual, relaksasi, dan rekreatif.</p>
<p>Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi mengatakan, program itu hendaknya menjadi gerakan wisata sehat lahir dan batin. &#8220;Dengan berwisata ziarah, kita bisa meneladani cara para wali dalam membawakan Islam secara damai dan moderat agar tidak ada konflik antar-agama. Ini yang harus ditemukan kembali untuk membangun bangsa ini,&#8221; ujar Hasyim Muzadi. (Kompas/Evy Rachmawati)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/menanti-kebangkitan-wisata-ziarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>perjalanan pencari berkah di tengah artefak</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Feb 2007 09:05:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[Things to Share]]></category>
		<category><![CDATA[JalanJalan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/</guid>
		<description><![CDATA[update: rabu, 21 februari 2007sumber: kompas cetak&#62;humaniora Kontekstualisasi Ziarah (1)Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak oleh: Evy Rachmawati Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat. Jarum jam menunjukkan pukul satu <a href="http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #990000;">update: rabu, 21 februari 2007</span><br style="color: #990000" /><span style="color: #990000;">sumber: <a href="http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/20/humaniora/3332107.htm">kompas cetak&gt;humaniora</a></span></p>
<p><span style="font-weight: bold; color: #663300;">Kontekstualisasi Ziarah (1)</span><br style="color: #663300; font-weight: bold" /><span style="font-weight: bold; color: #663300;">Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak</span><br />
oleh: Evy Rachmawati</p>
<p>Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat.</p>
<p>Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Sejak pagi para peziarah datang silih berganti, sebagian datang bersama rombongannya dari berbagai daerah. Begitu masuk pintu gapura sebelah timur kompleks makam, mereka dikerumuni belasan anak dan orang dewasa peminta sedekah.</p>
<p>Para peziarah lalu memasuki pintu serambi muka untuk berpamitan pada salah seorang juru kunci yang menunggu di ruang itu. Mereka kemudian menuju ke arah Barat, yaitu ruang di depan pintu pasujudan (pintu Selama Tangkep). Pada dinding di lorong menuju ruangan itu terdapat barang-barang keramik atau porselen dari Tiongkok.</p>
<p>Setelah berwudu, puluhan peziarah duduk bersimpuh di depan pintu pasujudan yang tertutup rapat. Mereka lalu memanjatkan doa sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam di Jawa Barat. Seusai berdoa, mereka bergantian menghampiri pintu pasujudan untuk menaburkan bunga maupun sekadar menyentuh pintu.</p>
<p><span id="more-89"></span></p>
<p>Uniknya, di antara para pengunjung itu ada yang berasal dari etnis China yang beragama Buddha dan Konghucu. Mereka sengaja datang ke kompleks makam ini untuk nyekar ke makam Ong Tien, putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming, dan salah seorang istri Sunan Gunung Jati. Untuk itu disediakan tempat khusus di sisi barat serambi depan kompleks pemakaman.</p>
<p>Di depan pintu makam putri dari China Nyi Ong Tien atau Nyai Ratu Rara Sumanding, istri Sunan Gunung Jati, terdapat satu meja tempat hio. Para peziarah dari komunitas Tionghoa datang silih berganti, membakar hio dan memanjatkan doa di depan pintu makam itu. Seorang perempuan peziarah siang itu sibuk membersihkan tempat ziarah tersebut.</p>
<p>Ada beberapa tradisi saat berziarah ke makam wali. Di makam Sunan Gunung Jati, misalnya, ada tradisi menyediakan bunga campur-baur sebagai tanda belasungkawa dan penghormatan, dan hio dibakar agar timbul bau harum.</p>
<p>Karena letaknya berdampingan, peziarah juga menziarahi makam Syekh Dzatil Kahfi di Gunung Jati setelah dari makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung.</p>
<p><strong>Pengendalian Diri</strong><br />
Banyak peziarah melaksanakan tradisi mandi tujuh sumur, terutama Jumat pertengahan bulan Hijriah dan pada peringatan tradisional Maulud. Empat sumur yakni Kanoman, Kasepuhan, Waluyajati, dan Masjid, berlokasi di kompleks pemakaman Gunung Sembung. Sedangkan tiga sumur lain yaitu Tegangpati, Jalatunda, dan Kejayan, berada di kompleks pemakaman Gunung Jati.</p>
<p>Sedangkan di makam Sunan Drajad, Lamongan, Jawa Timur, ada beberapa ritual yang diselenggarakan pemangku makam, antara lain haul yang diadakan pada tanggal 25 Syaâ€™ban.</p>
<p>Acara ini didahului dengan babat makam oleh warga setempat yang dilakukan pada 24 Syaâ€™ban. Untuk menyambut Maulud Nabi juga diadakan perayaan arak-arakan dan tumpengan.</p>
<p>Makam para wali juga ramai dikunjungi banyak orang setiap hari sebagaimana terlihat di makam Sunan Drajad, Lamongan, dan makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Mereka berziarah sebagai bentuk penghormatan kepada para wali, bahkan banyak peziarah datang untuk meminta berkah.</p>
<p>Kardisi (27), warga Cilangcang, Cirebon, datang bersama dengan ibu dan Darsini, kerabatnya, ke makam Sunan Gunung Jati untuk berziarah. Ketiga perempuan itu tampak khusyuk berdoa, dilanjutkan dengan tabur bunga dan menyentuh pintu pasujudan.</p>
<p>Kardisi mengaku baru pertama kali berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Kedatangannya ini diawali dari keinginannya mengais rezeki ke Arab Saudi sebagai pekerja rumah tangga. Karena itu, selain berziarah, ia pun memanjatkan doa di depan pintu pasujudan agar selamat dan mencapai kesuksesan saat merantau ke negeri orang. &#8220;Saya mau ke Arab,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Ny Entay (50), salah seorang peziarah, mengaku kerap datang ke makam Sunan Gunung Jati seorang diri, terutama ketika tengah dirundung masalah rumah tangga. Setiap kali berziarah ia bermalam sampai berhari-hari lamanya untuk berzikir dan melakukan kegiatan ritual lain. &#8220;Saya lagi pusing,&#8221; tuturnya, saat ditemui di salah satu sudut kompleks makam.</p>
<p>Ia mengaku tengah dibelit utang. Padahal suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan anak-anaknya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah menamatkan sekolah. &#8220;Siapa tahu dengan sering berzikir di sini, masalah rumah tangga saya jadi terselesaikan. Anak-anak saya bisa cepat dapat kerja,&#8221; kata Entay.</p>
<p>Pada fase seperti itu, ziarah menjadi sebuah arena pengendalian diri dan doa.</p>
<p>Hal serupa juga diungkapkan Salamah (36), warga Pelumbon, Cirebon. Ia datang ke makam Sunan Gunung Jati hanya berbekal beberapa lembar uang ribuan rupiah dan telah menginap selama beberapa malam di tempat itu. &#8220;Daripada stres, saya memilih menenangkan diri di sini. Biasanya, suami saya akan menjemput. Dia sudah tahu ke mana saya pergi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Perempuan yang sehari-hari berjualan makanan ini mengaku sudah tidak tahan dan ingin cerai lantaran tidak tahan dengan ulah suami dan anak tirinya yang terus merongrong usahanya. Suaminya tidak pernah memberi nafkah padanya sejak beberapa tahun menikah. &#8220;Uang yang saya kasih malah enggak jelas larinya,&#8221; tutur Salamah dengan wajah lesu.</p>
<p><strong>Wisata Sejarah</strong><br />
Dalam sumber-sumber babad, Wali Sanga dianggap sebagai peletak fondasi terbentuknya pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan.</p>
<p>Menurut arkeolog Tri Hatmadji dan Nadjib Hassan dalam buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Wali Sanga merupakan penasihat para penguasa Islam pada waktu itu dan diduga punya peranan penting dalam pergantian kekuasaan dari Majapahit ke Demak.</p>
<p>Tersebarnya agama Islam di Jawa, khususnya, merupakan keberhasilan para wali melalui strategi dan metode dakwah yang tepat sesuai petunjuk Al Quran.</p>
<p>Sebagai tokoh penyebar Islam di Jawa, khususnya, para wali diyakini sebagai orang yang keramat. Mereka dianggap memiliki kelebihan dibandingkan dengan masyarakat lain, dan diyakini memiliki karunia tenaga-tenaga gaib.</p>
<p>Bahkan, sesudah wafat pun mereka masih dianggap mempunyai karisma dan sangat dihormati. Hal ini dapat diketahui dari perlakuan masyarakat terhadap makam para wali dan banyaknya peziarah yang mengunjungi makam para wali itu hingga saat ini.</p>
<p><strong>Karisma Leluhur</strong><br />
Tradisi ziarah kubur erat kaitannya dengan karisma leluhur yang makamnya banyak dikunjungi orang. Karisma leluhur itu dapat diwujudkan dengan bentuk dan hiasan bangunan kubur yang beragam sesuai tradisi seni bangunan yang dikuasai atau disukai. Dan karisma para wali penyebar agama Islam begitu melekat di hati masyarakat, sehingga banyak di antaranya yang berziarah ke makam mereka.</p>
<p>Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengungkapkan, ziarah merupakan suatu kegiatan keagamaan berupa berkunjung ke magrabah atau kuburan para wali atau ulama yang telah mendedikasikan hidupnya bagi pengembangan Islam. Ziarah juga jadi media untuk mengingatkan manusia pada maut yang suatu saat akan menjemputnya.</p>
<p>&#8220;Ziarah telah jadi tradisi masyarakat Islam dunia,&#8221; ujarnya, ketika memberi pengantar program pencanangan Wisata Ziarah, Desember 2006. Ziarah, katanya, juga menjadi media edukasi kepada masyarakat mengenai nilai-nilai positif yang diajarkan para ulama.</p>
<p>Para wali umumnya menyiarkan agama secara damai, tidak melalui perang dan tidak melakukan formalisasi agama.</p>
<p>Oleh karena itu, ajaran Islam yang dibawa para wali juga beradaptasi dengan budaya lokal. &#8220;Ini perlu diteladani agar kita tidak terjebak pada formalisasi agama. Tetapi jangan sampai menganggap makam para wali sebagai tempat yang dikeramatkan,&#8221; kata Hasyim menegaskan.</p>
<p>Berziarah biasanya dilakukan sendiri-sendiri atau berkelompok. Ziarah sendiri-sendiri umumnya dilakukan dengan mengunjungi makam orangtua atau para leluhur, sedangkan ziarah berkelompok, misalnya ke makam Rasullullah saat beribadah haji. &#8220;Di Indonesia, ziarah berkelompok biasa dilakukan dengan mengunjungi kuburan para Wali Sembilan atau ziarah Walisongo,&#8221; kata Hasyim.</p>
<p><strong>Persebaran Peradaban</strong><br />
Dalam versi arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary (buku Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia), obyek-obyek wisata ziarah Islam secara sempit dihubungkan dengan benda-benda berupa makam, masjid, atau relik-relik para tokoh keagamaan dan politik, ulama dan raja.</p>
<p>Obyek wisata ziarah itu tersebar di berbagai jenis lokasi, ada yang terpencil di pelosok daerah atau di tengah bekas kota lama dari sesuatu pusat politik, ekonomi dan peradaban Islam. Banyak bukti mendukung asumsi bahwa muslim dari berbagai kawasan India, Arab dan Persi telah mengadakan kontak intensif dengan komunitas di Jawa atau Nusantara pada abad tujuh sampai delapan masehi dan berabad-abad sesudahnya.</p>
<p>Tanda tertua kedatangan orang Islam di Jawa misalnya tampak pada sebuah kuburan di Leran, Gresik, Jawa Timur, yang bertanggal tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi dengan nama wafat Fatimah binti Maemun bin Hibatallah.</p>
<p>Sejumlah nisan makam Islam Awal mengandung petikan ayat atau hadist yang berhubungan dengan ajaran sufi.</p>
<p>Pola sebaran dan tipologi nisan serta kompleks makam Islam di Jawa sekaligus menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan perpindahan pusat kekuasaan dan pola sebaran pusat-pusat pengajaran Islam. Maulana Malik Ibrahim yang berangka tahun 822 H (1419 M), misalnya, mengandung inskripsi bergaya tulis Kufique, dibuat dari batuan marmer, diduga berasal dari Cambay, Gujarat.</p>
<p>Hal ini memperlihatkan adanya proses sosialisasi Islam di Jawa yang kemudian pada masa puncaknya berkembang jadi pusat-pusat peradaban, lalu dikuasai elit-elit politik yang masih memiliki hubungan darah. Hal yang sama tampak pula pada elit politik kerajaan Mataram Islam, yang memiliki pertautan dengan para wali di Kadilangu, Ampel dan Giri.</p>
<p>Pertautan itu menumbuhkan dugaan, bahwa salah satu faktor legitimasi kekuasaan di Jawa seringkali dikaitkan dengan hubungannya terhadap para wali penyebar Islam.</p>
<p>Lebih dari itu, upaya legitimasi serupa juga dilakukan dengan menghubungkannya pada para raja-raja Hindu-Jawa sebelumnya, baik melalui hubungan darah, perkawinan atau perpindahan pulung keraton.</p>
<p>Kendati demikian, obyek-obyek wisata ziarah Islam tidak hanya makam atau kompleks makam dengan segala ekspresinya. Makam para raja atau wali juga merupakan sebagian dari produk kesenian istana.</p>
<p>Obyek-obyek wisata ziarah Islam harus pula memperhitungkan dan memasukkan obyek lain seperti istana, benteng, perpustakaan, masjid dan benda-benda rerelik lain. (Kompas/Evy Rachmawati)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2007/02/21/perjalanan-pencari-berkah-di-tengah-artefak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>omah sendok, minum kopi sambil adu gagasan</title>
		<link>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/</link>
		<comments>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Dec 2006 06:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abril</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/</guid>
		<description><![CDATA[update: senin, 17/07/2006, 16:55 wib sumber: kompas cybermedia&#62;makan dan plesiran Berbincang, adu gagasan sambil minum kopi, atau melahap tahu cocol (pakai sambal kecap) dan makan makanan asli Indonesia. Itulah mungkin konsep sederhana yang mau disodorkan oleh pemrakarsa Omah Sendok, sebuah tempat bertemu dan makan di kawasan hunian di Taman Mpu Sendok, Jalan Senopati, Kebayoran Baru, <a href="http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/"> read more <span class="meta-nav">&#187;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #993333;">update: senin, 17/07/2006,  16:55 wib<br />
sumber: </span><a href="http://www.kompas.co.id/jalanjalan/news/0607/17/045540.htm"><span style="color: #993333;">kompas cybermedia&gt;makan dan plesiran<br />
</span></a></p>
<p><a href="http://www.kompas.co.id/jalanjalan/news/0607/17/045540.htm"> </a></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><br />
Berbincang, adu gagasan sambil minum kopi, atau melahap tahu cocol (pakai sambal kecap) dan makan makanan asli Indonesia. Itulah mungkin konsep sederhana yang mau disodorkan oleh pemrakarsa Omah Sendok, sebuah tempat bertemu dan makan di kawasan hunian di Taman Mpu Sendok, Jalan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><img id="image77" style="width: 122px; height: 111px;" src="http://abril.susiloadhy.net/wp-content/uploads/2006/12/omah-sendok.thumbnail.jpg" alt="omah-sendok.jpg" align="left" /><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Tempat makan dan tempat ngopi yang bisa dipakai sebagai <em><span style="font-family: Verdana;">meeting point</span></em> seperti Omah Sendok ini memang banyak menjamur di Jakarta, terutama di kawasan hunian yang rada elite seperti Kemang dan juga Senopati di Kebayoran Baru, atau bahkan Menteng di Jakarta Pusat.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Meski tidak persis seperti suasana kafeâ€“kafe di Paris, Perancis, tempatâ€“tempat makan seperti Omah Sendok di Senopati ini bolehlah, cukup teduh. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Setidaknya, tempat ini bukan tempat untuk semataâ€“mata makan atau melahap menu santapan melulu. Anda bisa berlamaâ€“lama, ngobrol, rapat, dan tukar pikiran sambil menyantap menu Indonesia yang tak kalah sedap dengan menu makanan Barat jika disajikan dengan cita rasa diutamakan.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Ada juga perpustakaan (bukuâ€“buku spiritual yang mereka anggap punya nilai universal) di tengahâ€“tengah tempat makan yang lebih mirip sebuah rumah tinggal ini. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Anda pun bebas mengetik dengan laptop Anda sembari mencocol tahu. Atau meneguk dawet, atau jus sirsak. Berbincang sambil dudukâ€“duduk (bisa 30 orang) di pinggir kolam renang, di halaman belakang Omah Sendok pun boleh.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Membuang waktukah? Tentu tidak. Coba tengok Cafe Deux Magots dan Cafe de Flor di kawasan Saintâ€“Germainâ€“desâ€“Pres di Paris. Dua kafe paling terkenal di seantero Perancis ini dulu dan juga kini adalah merupakan tempat kongko paling terkemuka di dunia.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Bagaimana tidak? Di kedua kafe inilah dua pemikir terkenal Perancis, Simone de Beauvoir dan juga Jeanâ€“Paul Sartre, dalam keseharian (dulu) berbincang sebelum â€™menduniakanâ€™ gagasanâ€“gagasan eksistensialis mereka. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Konon, mereka bisa menghabiskan waktu berjamâ€“jam berdebat sambil ngopi di kafe. Selain bangunan asli kafe tua di Paris itu sampai kini tak diubah, juga coretâ€“coretan tangan para pemikir terkenal dunia itu pun masih tertinggal.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Kebiasaan duduk berbincang dan adu gagasan sambil minum kopi tidak hanya dilakukan Beauvoir maupun Sartre, tetapi juga para pemikir Perancis lainnya. Tidak heran jika jalanâ€“jalan di sekitar kafeâ€“kafe yang bertebaran di Paris itu diabadikan dengan namaâ€“nama mereka: Visconti, Mazarrine, Buci, de Seine, du Vieux Colombier, Bonaparte, Genegaud&#8230;.</span></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"> </span></strong></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;"><br />
Nenek dan eyang</span></strong></p>
<p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">&#8220;Kalau <em><span style="font-family: Verdana;">weekend</span></em>, pengunjungnya malah yang berusia 25â€“40 tahun ke atas. Ada malah nenekâ€“nenek, eyangâ€“eyang. Mungkin untuk mengenang makanan tempo doeloe&#8230;,&#8221; ungkap Ely, panggilan akrab Nurlaely Wicahyuni, sang manajer Omah Sendok yang sebenarnya seorang arsitek lulusan Universitas Brawijaya, Malang.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><img id="image78" src="http://abril.susiloadhy.net/wp-content/uploads/2006/12/omah-sendok-2.thumbnail.jpg" alt="omah-sendok-2.jpg" width="115" height="131" align="left" /><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Tak mengherankan. Selain tak terlalu mahal, meski juga tak bisa dibilang murah, tempat makan dan ngopi di Taman Mpu Sendok ini menyediakan berbagai menu asal daerah, seperti sate ikan (Bali), rawon, nasi petis madura, sate ayam ponorogo (Jatim), bakmoy, garang asem, bestik jawa (Jateng), nasi pasundan, ayam bakar (Jabar), dan juga nasi ulam (Betawi).</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">&#8220;Tetapi yang paling laris menu soto tangkar, asli Betawi. Serta minuman khas Betawi, bir pletok. Sungguh, meski namanya bir, tetapi halal lho, nonâ€“alkohol, terbuat dari jahe, kayu secang, rempahâ€“rempah, rasanya anget&#8230;,&#8221; ujar Ely pula.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Riwayat Omah Sendok yang belum dua tahun pun berliku. Merupakan usaha patungan, dengan 10 shareâ€“holder. Mereka merupakan temanâ€“teman sekomunitas, kelompok kajian spiritual dan sudah menjadi teman dekat bertahunâ€“tahun.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">&#8220;Awalnya kami <em><span style="font-family: Verdana;">bikin</span></em> toko buku, galeri bukuâ€“buku spiritual yang bernilai universal di Kemang. Kurang lebih bertahan setahun. Lalu cari tempat. Mulanya, tempat ini hanya merupakan tempat <em><span style="font-family: Verdana;">ngumpul</span></em> di antara kami, lamaâ€“lama dikelola jadi tempat makan. Sekarang perpustakaannya menjadi pelengkap,&#8221; ungkap sang Manajer Omah Sendok pula.</span></p>
<p style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Dan memang, tak hanya acara makanâ€“makan saja dilangsungkan di tempat ini. Sering digelar bedah buku (Selasar Omah) sampai lokakarya yang dilakukan oleh kelompok pasar besar, Carrefour. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">Ada juga komunitas spiritual kajian semesta ataupun komunitas puisi yang mempergunakan tempat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana;">&#8220;Ada 25 orang di Omah Sendok, dari staf dapur, bagian pelayanan seperti waiter, kasir, keamanan&#8230;,&#8221; tutur Ely pula mengenai pengelola dan karyawannya. Dan rumah di kawasan Taman Mpu Sendok yang seluas 1.400 meter persegi ini pun jadi salah satu tempat bertemu yang terbilang teduh di kawasan Senopati. Tempat adu gagasan, berbincang, sambil menyantap tahu cocol&#8230;. <strong><span style="font-family: Verdana;">(</span></strong><em><strong><span style="font-family: Verdana;">Kompas</span></strong></em><strong><span style="font-family: Verdana;">/Jimmy S Harianto)</span></strong><a href="http://www.kompas.co.id/jalanjalan/news/0607/17/045540.htm"><br />
</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abril.susiloadhy.net/2006/12/26/omah-sendok-minum-kopi-sambil-adu-gagasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

