cerita si abril…

yang HambarAsamManisPedasAsin

update: jumat, 30 maret 2007
sumber: kompas>metropolitan


Wisata Ziarah
Makam Rahasia Pangeran Jayakarta

oleh: Muyawan Karim

Makam Pangeran Jayakarta di Jatinegara Kaum kini bisa dikunjungi siapa saja. Lokasinya pun relatif mudah ditemukan dan dicapai. Padahal, tempat peristirahatan terakhir bangsawan Banten itu pernah selama lebih dari tiga abad dirahasiakan anak-cucunya.

“Waktu masih hidup, Pangeran Jayakarta pernah berpesan agar jika mati kuburannya dirahasiakan sampai Belanda angkat kaki dari Jakarta,” kata Raden Supriyadi Rosyid, penjaga makam Pangeran Jayakarta yang terletak di pekarangan Masjid As-Salafiyah, Jalan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. “Sebab, kalau sampai ketahuan Belanda, makam itu pasti dimusnahkan,” lanjut pria berusia 58 tahun itu. Wasiat itulah yang kemudian berusaha dipenuhi kerabat dan keturunannya. Sejak sang pangeran wafat dan dimakamkan tahun 1640, mereka menutup rapat-rapat segala informasi tentang keberadaan kuburannya. Rahasia terus dijaga dari generasi ke generasi selama lebih dari tiga abad, sampai penjajah Belanda benar-benar hengkang dari bumi Nusantara. “Baru pada zaman Gubernur Henk Ngantung keberadaan makam ini diungkapkan kepada umum,” ujar Rosyid yang mengaku termasuk keturunan ke-13 dari Pangeran Jayakarta. Henk Ngantung adalah gubernur DKI Jakarta antara 1964-1965.

Setelah itu, makam Pangeran Jayakarta tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Mereka tak cuma datang dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi bahkan dari berbagai daerah di luar Jawa. Kata Rosyid, “Peziarah banyak, terutama pada setiap malam Jumat.” Sebagai pejuang yang melawan Belanda di Jakarta, Pangeran Jayakarta dianggap sebagai salah seorang pahlawan Jakarta. Karenanya, sudah jadi tradisi bagi gubernur Jakarta untuk berziarah ke makamnya setiap hari ulang tahun Ibu Kota.

Hal sama juga dilakukan Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Kodam Jaya) dalam rangka memperingati hari jadi kesatuan militer, setiap tanggal 24 Desember.

Read the rest of this entry »

update: jumat, 23 maret 2007
sumber: kompas>metropolitan

termenung di kuburan gubernur jendral van de eerens
oleh: mulyawan karim


“Rustplaats
van
DJ de Eerens
Luitn-Generaal
Gouverneur Generaal
van
Nederlandsch-Indie”
RIP

(Tempat peristirahatan DJ de Eerens. Letnan Jenderal. Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Beristirahat dalam Damai)

Hanya begitu catatan yang ada di nisan makam Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens yang ada di Kebun Raya Bogor (KRB). Meski terpahat di batu pualam yang abadi, epitaf bahkan tak menyebut tempat dan tanggal lahir serta di mana dan kapan ia wafat. Amat sederhana.

Akan tetapi, sejarah tetap mencatat, De Eerens adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda—negeri yang kini bernama Indonesia—antara 1836-1840. Ia lahir di Alkmaar, Belanda, 17 Maret 1781, dan wafat di Buitenzorg, kini Bogor, pada 30 Mei 1840. De Eerens wafat mendadak saat masih menjabat gubernur jenderal.

De Eerens yang perwira militer tiba di Batavia pada 22 Februari 1835. Setahun kemudian, 29 Februari 1836, ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-44, menggantikan Jean Chretien Baud.

Tugas utama De Eerens adalah melanjutkan kebijakan cultuur stelsel alias tanam paksa. Kebijakan ini adalah buah gagasan Johannes van den Bosch, gubernur jenderal antara 1830-1833.

Dalam masa jabatan De Eerens, dampak buruk cultuur stelsel, yang mewajibkan petani padi di Jawa menyisihkan sebagian lahan untuk memproduksi tanaman komoditas ekspor, mulai nyata. Di daerah-daerah perkebunan tebu, rakyat menderita akibat perebutan sumber air antara petani padi dan pabrik gula. Paceklik merajalela. Harga beras melonjak.

Read the rest of this entry »

update: rabu, 21 februari 2007
sumber: kompas cetak>humaniora

Kontekstualisasi Ziarah (2-Habis)
Menanti Kebangkitan Wisata Ziarah

oleh: Evy Rachmawati

Tradisi ziarah biasanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, maupun anggota keluarga yang dicintai. Di Indonesia, ziarah dalam artian umum merupakan kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya, dan terutama ke makam para wali penyebar agama Islam sebagai wujud kecintaan.

Karisma para leluhur ini begitu melekat di dalam hati masyarakat sampai sekarang.

Dalam terminologi Arab, perjalanan atau wisata diistilahkan sebagai as-Safar atau az-Ziyarah. Jadi, wisata ziarah merupakan sebuah bentuk kunjungan ritual dan dilakukan ke makam dan masjid bersejarah. Dari prosesnya, wisata ziarah juga dipahami sebagai perjalanan batin seseorang, sehingga memiliki muatan emosi dan kontemplasi tinggi.

Secara umum, kita mengenal konsepsi ziarah ke makam dalam berbagai konteksnya, antara lain ziarah sebagai wujud rasa bakti seorang anak ke makam orangtua atau kerabat, ziarah ke makam pahlawan sebagai bentuk peringatan. Selain itu, ziarah sebagai penghayatan nilai-nilai keulamaan.

Tradisi ziarah ke makam para wali sudah cukup populer, terutama Walisanga yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Para wali itu di antaranya Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus.

Sebenarnya, hampir seluruh wilayah di Tanah Air memiliki makam-makam wali. Ini memperlihatkan bahwa di hampir semua daerah di Indonesia pernah hidup dan berjuang seorang ulama besar.

Kini, makam para wali si seluruh Indonesia hampir tiap hari dikunjungi umat sebagai pertanda kecintaan terhadap para walinya. Sebagai dampak dari berkembangnya budaya ziarah ke makam, terutama makam para wali, pemrintah maupun swasta merespons positif dengan mengembangkan tempat ziarah sebagai obyek wisata ziarah.

Read the rest of this entry »

update: rabu, 21 februari 2007
sumber: kompas cetak>humaniora

Kontekstualisasi Ziarah (1)
Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak
oleh: Evy Rachmawati

Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat.

Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Sejak pagi para peziarah datang silih berganti, sebagian datang bersama rombongannya dari berbagai daerah. Begitu masuk pintu gapura sebelah timur kompleks makam, mereka dikerumuni belasan anak dan orang dewasa peminta sedekah.

Para peziarah lalu memasuki pintu serambi muka untuk berpamitan pada salah seorang juru kunci yang menunggu di ruang itu. Mereka kemudian menuju ke arah Barat, yaitu ruang di depan pintu pasujudan (pintu Selama Tangkep). Pada dinding di lorong menuju ruangan itu terdapat barang-barang keramik atau porselen dari Tiongkok.

Setelah berwudu, puluhan peziarah duduk bersimpuh di depan pintu pasujudan yang tertutup rapat. Mereka lalu memanjatkan doa sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam di Jawa Barat. Seusai berdoa, mereka bergantian menghampiri pintu pasujudan untuk menaburkan bunga maupun sekadar menyentuh pintu.

Read the rest of this entry »

update: senin, 17/07/2006, 16:55 wib
sumber:
kompas cybermedia>makan dan plesiran


Berbincang, adu gagasan sambil minum kopi, atau melahap tahu cocol (pakai sambal kecap) dan makan makanan asli Indonesia. Itulah mungkin konsep sederhana yang mau disodorkan oleh pemrakarsa Omah Sendok, sebuah tempat bertemu dan makan di kawasan hunian di Taman Mpu Sendok, Jalan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta.

omah-sendok.jpgTempat makan dan tempat ngopi yang bisa dipakai sebagai meeting point seperti Omah Sendok ini memang banyak menjamur di Jakarta, terutama di kawasan hunian yang rada elite seperti Kemang dan juga Senopati di Kebayoran Baru, atau bahkan Menteng di Jakarta Pusat.

Meski tidak persis seperti suasana kafe–kafe di Paris, Perancis, tempat–tempat makan seperti Omah Sendok di Senopati ini bolehlah, cukup teduh. Setidaknya, tempat ini bukan tempat untuk semata–mata makan atau melahap menu santapan melulu. Anda bisa berlama–lama, ngobrol, rapat, dan tukar pikiran sambil menyantap menu Indonesia yang tak kalah sedap dengan menu makanan Barat jika disajikan dengan cita rasa diutamakan.

Ada juga perpustakaan (buku–buku spiritual yang mereka anggap punya nilai universal) di tengah–tengah tempat makan yang lebih mirip sebuah rumah tinggal ini. Anda pun bebas mengetik dengan laptop Anda sembari mencocol tahu. Atau meneguk dawet, atau jus sirsak. Berbincang sambil duduk–duduk (bisa 30 orang) di pinggir kolam renang, di halaman belakang Omah Sendok pun boleh.

Membuang waktukah? Tentu tidak. Coba tengok Cafe Deux Magots dan Cafe de Flor di kawasan Saint–Germain–des–Pres di Paris. Dua kafe paling terkenal di seantero Perancis ini dulu dan juga kini adalah merupakan tempat kongko paling terkemuka di dunia.

Bagaimana tidak? Di kedua kafe inilah dua pemikir terkenal Perancis, Simone de Beauvoir dan juga Jean–Paul Sartre, dalam keseharian (dulu) berbincang sebelum ’menduniakan’ gagasan–gagasan eksistensialis mereka. Konon, mereka bisa menghabiskan waktu berjam–jam berdebat sambil ngopi di kafe. Selain bangunan asli kafe tua di Paris itu sampai kini tak diubah, juga coret–coretan tangan para pemikir terkenal dunia itu pun masih tertinggal.

Kebiasaan duduk berbincang dan adu gagasan sambil minum kopi tidak hanya dilakukan Beauvoir maupun Sartre, tetapi juga para pemikir Perancis lainnya. Tidak heran jika jalan–jalan di sekitar kafe–kafe yang bertebaran di Paris itu diabadikan dengan nama–nama mereka: Visconti, Mazarrine, Buci, de Seine, du Vieux Colombier, Bonaparte, Genegaud….


Nenek dan eyang

“Kalau weekend, pengunjungnya malah yang berusia 25–40 tahun ke atas. Ada malah nenek–nenek, eyang–eyang. Mungkin untuk mengenang makanan tempo doeloe…,” ungkap Ely, panggilan akrab Nurlaely Wicahyuni, sang manajer Omah Sendok yang sebenarnya seorang arsitek lulusan Universitas Brawijaya, Malang.

omah-sendok-2.jpgTak mengherankan. Selain tak terlalu mahal, meski juga tak bisa dibilang murah, tempat makan dan ngopi di Taman Mpu Sendok ini menyediakan berbagai menu asal daerah, seperti sate ikan (Bali), rawon, nasi petis madura, sate ayam ponorogo (Jatim), bakmoy, garang asem, bestik jawa (Jateng), nasi pasundan, ayam bakar (Jabar), dan juga nasi ulam (Betawi).

“Tetapi yang paling laris menu soto tangkar, asli Betawi. Serta minuman khas Betawi, bir pletok. Sungguh, meski namanya bir, tetapi halal lho, non–alkohol, terbuat dari jahe, kayu secang, rempah–rempah, rasanya anget…,” ujar Ely pula.

Riwayat Omah Sendok yang belum dua tahun pun berliku. Merupakan usaha patungan, dengan 10 share–holder. Mereka merupakan teman–teman sekomunitas, kelompok kajian spiritual dan sudah menjadi teman dekat bertahun–tahun.

“Awalnya kami bikin toko buku, galeri buku–buku spiritual yang bernilai universal di Kemang. Kurang lebih bertahan setahun. Lalu cari tempat. Mulanya, tempat ini hanya merupakan tempat ngumpul di antara kami, lama–lama dikelola jadi tempat makan. Sekarang perpustakaannya menjadi pelengkap,” ungkap sang Manajer Omah Sendok pula.

Dan memang, tak hanya acara makan–makan saja dilangsungkan di tempat ini. Sering digelar bedah buku (Selasar Omah) sampai lokakarya yang dilakukan oleh kelompok pasar besar, Carrefour. Ada juga komunitas spiritual kajian semesta ataupun komunitas puisi yang mempergunakan tempat ini.

“Ada 25 orang di Omah Sendok, dari staf dapur, bagian pelayanan seperti waiter, kasir, keamanan…,” tutur Ely pula mengenai pengelola dan karyawannya. Dan rumah di kawasan Taman Mpu Sendok yang seluas 1.400 meter persegi ini pun jadi salah satu tempat bertemu yang terbilang teduh di kawasan Senopati. Tempat adu gagasan, berbincang, sambil menyantap tahu cocol…. (Kompas/Jimmy S Harianto)