seorang teman pernah berkata:
“andaikan umur bumi ini 24 jam, manusia (homo sapiens) pertama muncul 3 menit sebelum tengah malam…”
manusia muncul terakhir dari siklus kehidupan bumi, tapi manusia pula yang memulai kehancuran di muka bumi. padahal menurut agama yang saya anut, manusia itu makhluk paling sempurna, artinya manusia juga harusnya bisa bersikap sempurna dan bisa menjaga kehidupannya supaya tidak punah kan? supaya tetap hidup dengan nyaman dan dapat berdampingan dengan makhluk hidup lainnya, tanpa saling menghancurkan. tapi, kenyataannya apa yang terjadi sekarang?
manusia ada, maka ada perubahan
manusia ada, maka ada ekploitasi besar-besaran dengan dalih kesejahteraan
manusia ada, maka ekosistem di bumi tidak lagi seimbang
manusia ada, maka ada kehancuran di bumi juga semakin nyata
…
sebagai manusia, kita sebenarnya pernah berpikir gak sih untuk bisa hidup seimbang dengan alam…
pernah tidak sih kita berpikir kalau kita hidup tidak sendiri, kita hidup dalam satu ekosistem berantai yang saling bergantung…
berpikir untuk bisa meninggalkan warisan kehidupan ini bagi generasi selanjutnya…
berpikir bahwa kita bisa melakukan sesuatu, walau kontribusi kita tidak akan terlihat dari mikroskop elektron sekalipun…
sepuluh tahun yang lalu saya pun sama dengan manusia lain pada umumnya, tidak peduli dengan apa itu keberlanjutan lingkungan, tidak peduli saya mendapatkan air bersih dari mana, tidak peduli sampah yang saya buang akan bermuara ke mana, tidak peduli kalau sewaktu-waktu saya tidak akan bisa bernafas karena oksigen di bumi ini sudah habis, lenyap tak berbekas.
kesadaran itu dimulai secara bertahap, pertama dari obrolan santai sana-sini dengan teman2 (baru) yang kebanyakan aktivis lingkungan atau apalah sebutannya (salah satu kutipannya sudah tersebut di atas); kedua dari secara tidak sengaja terjebak untuk ikutan nonton video inconvenient truth-nya Al-Gore; dan terakhir saat berhari-hari harus mengalami penghematan air besar-besaran, karena sumber air bersih di kost-an waktu jaman kuliah ngadat.
smua itu bikin saya tersadar dan akhirnya tergerak untuk ikut berbuat sesuatu yang ber-bau lingkungan. karena umur masih muda dan semangat masih meluap-luap, saya sempat ikutan jadi sukarelawan (bhs kerennya volunteer) organisasi lingkungan hidup bermaskot panda, trus pernah juga ikutan kegiatan sana sini plus ikut kepanitiaan ini-itu (baca: bantu-bantu teman) dari mulai bikin poster, nempel poster, bagiin stiker/selebaran, ikut bersih-bersih lingkungan, sampe ikutan demo lingkungan. setelah dijalani beberapa saat kok ya malah nambah kegiatan saya yang sebelumnya memang sudah banyak, takut kuliah keteteran trus diomelin orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk pelan-pelan menjauh dari segala aktivitas (yg menurut saya) ber-bau lingkungan itu. tapi, entah kenapa rasanya kok saya merasa sudah saatnya untuk berbuat sesuatu, membuat at least perubahan untuk diri sendiri, daripada sekedar ikutan kegiatan sana-sini yang seringnya cuman bikin energi fisik terkuras dan buntutnya jadi sakit atau tugas kuliah gak selesai. pelan-pelan saya mulai merubah kebiasaan hidup, mulai dari yang kecil dan kelihatan sepele tapi kalau jadi kebiasaan seenggaknya ke depannya bisa ditularkan ke lingkungan di sekitar saya. kebiasaan-kebiasaan baru saya semakin bertambah seiring dengan bertambahnya faktor U serta bertambahnya tanggung jawab saya yang kini menjadi seorang ibu, isteri, dan seorang pegawai pemerintah.
membuang sampah pada tempatnya merupakan kebiasaan baru dan menjadi janji pertama saya untuk diri sendiri sejak saat itu, tentunya tidak sekedar membuang sampah pada tempatnya, tapi makin lama makin berkembang menjadi menyimpan sampah dalam tas jika tidak menemukan tempat sampah yang layak, memilah sampah organik-anorganik, memilah sampah (khususnya plastik, botol, kaleng) jika masih dapat digunakan untuk kebutuhan lain. intinya 3R seperti yang banyak disebutkan di kampanye2 lingkungan itu.
saya berhemat air melalui mandi dengan shower (bukan dengan tidak mandi lho!), menadah air hujan untuk menyiram tanaman, menyimpan air sisa berendam anak untuk membersihkan kamar mandi, mencuci baju menggunakan mesin cuci jika sudah banyak, dan lainnya.
saya juga sedapat mungkin menghindari pemakaian kantong plastik, styrofoam, maupun produk kemasan tidak ramah lingkungan. solusinya saya menggunakan kantong belanja yang saya bawa sendiri (istilah populer sekarang sih sering disebut ‘diet kantong plastik’) atau menggunakan wadah sendiri untuk mengganti produk styrofoam jika misalnya harus membungkus makanan atau membeli makanan.
mengurangi pemakaian tissue, menggunakan kertas bekas hingga kedua sisinya digunakan, menyumbangkan buku bacaan dan pakaian yang sudah tidak diperlukan lagi.
saya dan suami berhemat listrik dengan pantang menyalakan listrik saat siang hari (kecuali jika mendung, gelap, itu pun cuma di ruang tengah saja), malam hari menyalakan lampu hanya di ruangan yang dihuni/digunakan bersktivitas saja, mematikan lampu jika tidur, mencabut stop kontak jika sudah tidak digunakan (mis. setelah men-charge HP), menyalakan AC secara moderat dan jika diperlukan saja.
saya pengguna segala macam public transportasi (dari mulai ojeg, angkot, kopaja, metromini, bis damri, trans jakarta, kereta api, hingga taksi) dan seringnya hanya menggunakan kendaraan pribadi (roda empat) hanya jika pergi minimal 3 orang/lebih atau hanya untuk perjalanan jauh; selebihnya saya sangat suka berjalan kaki.
secara garis besar itulah kebiasaan hidup saya sekarang.
memang saya akui terkadang begitu besar godaan untuk keluar dari kebiasaan yang sudah dilakukan, apalagi jika setannya mengatasnamakan kenyamanan, wah kadang saya juga tergoda!
misalnya saja saya sudah bertekad setelah pulang kerja akan berjalan kaki untuk mencapai halte metromini dan kemudian dilanjutkan dengan naik angkot,tapiiiiii kadang tak terduga hujan turun dengan derasnya atau debu dan panas sedemikian mendera atau kadang lelah dan mood tidak beraturan membuat saya (kadang) kesal dan mulai berandai-andai, seandainya nebeng suami naik motor, seandainya bawa mobil ke kantor, seadainya punya supir dan dengan enaknya bisa duduk nyaman dalam mobil ber-AC, berkursi empuk, mendengar lagu menenangkan, dan bisa tidur. seandainya saya tidak perlu repot-repot (baca: idealis) ingin menyelamatkan bumi-lah, ingin berkontribusi mengurangi karbon-lah, sok jadi pahlawan-lah, saya pasti sudah nyaman pulang dan pergi pulang kantor.
atau ketika saya harus mengadapi tatapan penuh tanya cenderung jijik orang-orang di sekitar saya ketika saya memasukkan sampah entah berupa plastik, kertas, bahkan kulit pisang ke dalam tas saya untuk dibuang kemudian di tempat sampah terdekat.
atau pada sebuah pusat perbelanjaan, saya harus menjelaskan berkali-kali ketika mbak/mas penjaga kasir bertanya kenapa tidak mau menggunakan tas plastik mereka dan memilih berepot-repot sendiri memasukkan semua belanjaan ke dalam tas yang saya bawa sendiri.
atau mendapatkan tatapan menyebalkan (cenderung merendahkan) dari pramusaji, saat saya menyodorkan wadah plastik untuk membawa makanan pesanan anak saya yang tidak habis dimakannya di sebuah restoran.
semua terkadang membuat saya dipandang berbeda…
membuat saya terlihat salah, aneh, freak, asing di mata orang-orang itu…
membuat saya terlihat kecil, sendiri, di antara kerumunan orang-orang asing…
membuat saya kadang lelah dan berpikir untuk bergabung dengan orang-orang kebanyakan…
memang sih akhir-akhir ini kesadaran lingkungan semakin meluas, tapi (mohon maaf) terkadang beberapa orang yang saya lihat hanya mengubah kebiasaan dari kulit luarnya saja. contohnya nih, seorang ibu juga ikut membawa tas belanjaan dari rumah tapi tetap saja dia menyuruh kasir menaruh belanjaannya di kantong plastik sebelum memasukkannya ke dalam tas belanjaannya, aneh kan…
bukan berarti saya lebih baik dari kebanyakan orang, mungkin juga iya, atau bahkan saya lebih buruk dari sebagian orang lainnya. terserah-lah…
apapun itu, saya sudah cukup bangga dengan diri sendiri, bangga dengan cara saya sendiri melakukan perubahan, bangga dapat melakukan ‘sesuatu’ dan bangga bisa berkontribusi (walaupun hanya sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit sekali), bangga bangga berani menghadapi ketidaknyamanan untuk lingkungan kita, untuk bumi kita, yang (akhirnya toh) kita nikmati bersama juga.
bagaimana dengan anda, apakah anda berani sebentar saja mengesampingkan kenyamanan hidup untuk sekedar menyapa bumi dengan hangat? apakah anda berani menghadapi tatapan cemooh orang-orang asing di sekitar anda?