cerita si abril…

yang HambarAsamManisPedasAsin

update: jumat, 23 maret 2007
sumber: kompas>metropolitan

termenung di kuburan gubernur jendral van de eerens
oleh: mulyawan karim


“Rustplaats
van
DJ de Eerens
Luitn-Generaal
Gouverneur Generaal
van
Nederlandsch-Indie”
RIP

(Tempat peristirahatan DJ de Eerens. Letnan Jenderal. Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Beristirahat dalam Damai)

Hanya begitu catatan yang ada di nisan makam Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens yang ada di Kebun Raya Bogor (KRB). Meski terpahat di batu pualam yang abadi, epitaf bahkan tak menyebut tempat dan tanggal lahir serta di mana dan kapan ia wafat. Amat sederhana.

Akan tetapi, sejarah tetap mencatat, De Eerens adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda—negeri yang kini bernama Indonesia—antara 1836-1840. Ia lahir di Alkmaar, Belanda, 17 Maret 1781, dan wafat di Buitenzorg, kini Bogor, pada 30 Mei 1840. De Eerens wafat mendadak saat masih menjabat gubernur jenderal.

De Eerens yang perwira militer tiba di Batavia pada 22 Februari 1835. Setahun kemudian, 29 Februari 1836, ia diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-44, menggantikan Jean Chretien Baud.

Tugas utama De Eerens adalah melanjutkan kebijakan cultuur stelsel alias tanam paksa. Kebijakan ini adalah buah gagasan Johannes van den Bosch, gubernur jenderal antara 1830-1833.

Dalam masa jabatan De Eerens, dampak buruk cultuur stelsel, yang mewajibkan petani padi di Jawa menyisihkan sebagian lahan untuk memproduksi tanaman komoditas ekspor, mulai nyata. Di daerah-daerah perkebunan tebu, rakyat menderita akibat perebutan sumber air antara petani padi dan pabrik gula. Paceklik merajalela. Harga beras melonjak.


Putra-putri Van den Bosch
Makam De Eerens adalah salah satu dari 38 kuburan yang ada di pemakaman Belanda di dalam lingkungan KRB. Pemakaman itu, yang sudah ada sebelum taman botani itu didirikan pada 1817, lokasinya tersembunyi di tengah rumpun-rumpun bambu yang rimbun.

Kuburan tertua adalah milik Cornelis Potmans, yang meninggal dan dikubur pada 2 Mei 1784. Dalam buku Graveyards in the Bogor Botanical Gardens yang diterbitkan LIPI (1999), disebutkan Potmans adalah karyawan administrasi sebuah toko obat. Di batu kuburnya tertulis umur persis laki-laki Belanda itu, yakni 42 tahun, 10 bulan, dan 23 hari.

Sebaliknya, makam Andre Joseph Guillaume Henri Kostermans adalah yang terbaru. Ahli ilmu botani ternama itu wafat di Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta pada 10 Juli 1994. Saat masih hidup, laki-laki Belanda kelahiran Purworejo, Jawa tengah, 1 Juli 1901, itu sudah bilang, jika mati, ia ingin dikubur di KRB, di antara pepohonan yang ia cintai.

Kostermans menjadi warga negara Indonesia pada 1958 dan mengganti nama jadi Achmad Jahya Go Hartono.

De Eerens adalah satu-satunya gubernur jenderal Belanda yang dikubur di kompleks pemakaman seluas sekitar 700 meter persegi itu. Akan tetapi, di sana banyak kuburan anak-istri gubernur jenderal lain yang berkuasa pada abad ke-19 dan sempat menghuni Istana Bogor.

Di antara makam-makam yang umumnya berbentuk monumen batu segi empat pendek, paling tidak ada dua kuburan istri gubernur jenderal. Mereka adalah Jeannette Antoinette Pietermaat, istri Gubernur Jenderal Pieter Mijer (1866-1872), dan Elizabeth Charlotte Vincent, istri kedua Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen (1845-1851).

Menurut ahli silsilah Belanda, PC Boys van Treslong, dalam bukunya Genealogische en herhaldische gedenkwaardigheden bettrefende Europeanen op Java (Keturunan Eropa di Jawa yang Layak Diingat, 1934), Elizabeth Charlotte Vincent adalah perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat, 6 Juni 1827. Ia meninggal di Buitenzorg, 14 Agustus 1851, setelah melahirkan bayinya, yang juga meninggal saat dilahirkan pada 21 Juni 1851.

Putri gubernur jenderal lain yang wafat dan dikubur di tempat sama adalah Gertrude Jacqueline Gerarde van Rees, putri Gubernur Jenderal Otto van Rees (1884-1888). Gertrude, yang wafat pada 28 September 1886, adalah anak Van Rees dari istri keduanya, Johanna Sara Wilhelmina van Braam Morris.

Di KRB pun terbaring jasad dua anak Van den Bosch, gubernur jenderal yang terkenal itu. Mereka adalah Adriana, putrinya, yang wafat dalam usia 23 tahun pada 18 September 1831, dan Johannes Hendrik Lodewijk Otto, putranya, yang meninggal dalam usia dua tahun, 20 Juni 1836. Johannes dilahirkan dan meninggal di vila keluarga Van den Bosch di Pondok Gede di utara Bogor.

Sebuah kuburan penting lain adalah milik Ary Prins, ahli hukum Belanda yang meninggal di Jakarta pada 28 Januari 1876. Prins yang juga ketua Raad van Nederlansch-Indie (Parlemen Hindia Belanda) pernah dua kali jadi penjabat gubernur jenderal, yakni antara 2 September-19 Oktober 1861 dan 25 Oktober-28 Desember 1866.

Di pemakaman Belanda di KRB, kuburan Prins adalah yang paling besar. Terbuat dari batu cadas kelabu, makam itu berbentuk monumen dengan dasar dasar berukuran 2 meter x 2 meter dan tinggi sekitar empat meter.

Tempat sepeda Megawati
Menurut Kepala Bagian Humas KRB Ugi Sugiarti, meski hampir selalu sepi, tak ada yang menganggap kuburan Belanda itu angker. “Mantan Presiden Megawati dulu sering menaruh sepedanya di sana kalau ia sedang berjalan-jalan di Kebun Raya. Mungkin karena dianggap aman,” Ugi mengutip cerita yang pernah ia dengar. Kebiasaan itu, dilakukan setiap kali Megawati kecil diajak ayahnya, Presiden Soekarno, menginap di Istana Bogor.

Pemakaman Belanda di KRB itu, yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari pintu gerbang pagar belakang Istana Bogor, bahkan sebuah obyek wisata yang menarik.

“Hampir tiap hari saya membawa satu-dua turis Belanda ke sana. Mereka senang membaca tulisan yang ada di batu nisan,” kata Jusuf Ismail, Koordinator Pemandu Wisata KRB. “Pada musim liburan, Juni sampai Agustus, wisatawan Belanda yang datang ke Kebun Raya, termasuk ke kuburan itu, setiap harinya bahkan bisa mencapai puluhan orang,” lanjut karyawan KRB berumur 52 tahun itu.

Kini, setelah zaman berganti dan dendam memudar, tak ada salahnya sesekali mengunjungi makam Gubernur Jenderal De Eerens di Bogor.

Jangan bayangkan dia sebagai penguasa penjajah, kepanjangan tangan rezim feodal di Den Haag. Bayangkan De Eerens dan orang-orang Belanda lain yang terbaring di KRB sebagai manusia biasa. Sebab, siapa tahu, mereka sesungguhnya adalah pribadi-pribadi yang merana, yang terpaksa hidup, mati, dan dikuburkan di negeri orang, jauh dari sanak keluarga (kompas/mulyawan karim)

No Comments :(