update: rabu, 21 februari 2007
sumber: kompas cetak>humaniora
Kontekstualisasi Ziarah (1)
Perjalanan Pencari Berkah di Tengah Artefak
oleh: Evy Rachmawati
Langit cerah di Cirebon. Tanah basah sisa hujan semalam pun telah kering. Tak tersisa lagi awan kelabu yang menggayut. Terik matahari menerangi pelataran kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat.
Jarum jam menunjukkan pukul satu siang. Sejak pagi para peziarah datang silih berganti, sebagian datang bersama rombongannya dari berbagai daerah. Begitu masuk pintu gapura sebelah timur kompleks makam, mereka dikerumuni belasan anak dan orang dewasa peminta sedekah.
Para peziarah lalu memasuki pintu serambi muka untuk berpamitan pada salah seorang juru kunci yang menunggu di ruang itu. Mereka kemudian menuju ke arah Barat, yaitu ruang di depan pintu pasujudan (pintu Selama Tangkep). Pada dinding di lorong menuju ruangan itu terdapat barang-barang keramik atau porselen dari Tiongkok.
Setelah berwudu, puluhan peziarah duduk bersimpuh di depan pintu pasujudan yang tertutup rapat. Mereka lalu memanjatkan doa sebagai wujud penghormatan atas jasa-jasa Sunan Gunung Jati dalam mengembangkan Islam di Jawa Barat. Seusai berdoa, mereka bergantian menghampiri pintu pasujudan untuk menaburkan bunga maupun sekadar menyentuh pintu.
Uniknya, di antara para pengunjung itu ada yang berasal dari etnis China yang beragama Buddha dan Konghucu. Mereka sengaja datang ke kompleks makam ini untuk nyekar ke makam Ong Tien, putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming, dan salah seorang istri Sunan Gunung Jati. Untuk itu disediakan tempat khusus di sisi barat serambi depan kompleks pemakaman.
Di depan pintu makam putri dari China Nyi Ong Tien atau Nyai Ratu Rara Sumanding, istri Sunan Gunung Jati, terdapat satu meja tempat hio. Para peziarah dari komunitas Tionghoa datang silih berganti, membakar hio dan memanjatkan doa di depan pintu makam itu. Seorang perempuan peziarah siang itu sibuk membersihkan tempat ziarah tersebut.
Ada beberapa tradisi saat berziarah ke makam wali. Di makam Sunan Gunung Jati, misalnya, ada tradisi menyediakan bunga campur-baur sebagai tanda belasungkawa dan penghormatan, dan hio dibakar agar timbul bau harum.
Karena letaknya berdampingan, peziarah juga menziarahi makam Syekh Dzatil Kahfi di Gunung Jati setelah dari makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung.
Pengendalian Diri
Banyak peziarah melaksanakan tradisi mandi tujuh sumur, terutama Jumat pertengahan bulan Hijriah dan pada peringatan tradisional Maulud. Empat sumur yakni Kanoman, Kasepuhan, Waluyajati, dan Masjid, berlokasi di kompleks pemakaman Gunung Sembung. Sedangkan tiga sumur lain yaitu Tegangpati, Jalatunda, dan Kejayan, berada di kompleks pemakaman Gunung Jati.
Sedangkan di makam Sunan Drajad, Lamongan, Jawa Timur, ada beberapa ritual yang diselenggarakan pemangku makam, antara lain haul yang diadakan pada tanggal 25 Sya’ban.
Acara ini didahului dengan babat makam oleh warga setempat yang dilakukan pada 24 Sya’ban. Untuk menyambut Maulud Nabi juga diadakan perayaan arak-arakan dan tumpengan.
Makam para wali juga ramai dikunjungi banyak orang setiap hari sebagaimana terlihat di makam Sunan Drajad, Lamongan, dan makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Mereka berziarah sebagai bentuk penghormatan kepada para wali, bahkan banyak peziarah datang untuk meminta berkah.
Kardisi (27), warga Cilangcang, Cirebon, datang bersama dengan ibu dan Darsini, kerabatnya, ke makam Sunan Gunung Jati untuk berziarah. Ketiga perempuan itu tampak khusyuk berdoa, dilanjutkan dengan tabur bunga dan menyentuh pintu pasujudan.
Kardisi mengaku baru pertama kali berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Kedatangannya ini diawali dari keinginannya mengais rezeki ke Arab Saudi sebagai pekerja rumah tangga. Karena itu, selain berziarah, ia pun memanjatkan doa di depan pintu pasujudan agar selamat dan mencapai kesuksesan saat merantau ke negeri orang. “Saya mau ke Arab,” tuturnya.
Ny Entay (50), salah seorang peziarah, mengaku kerap datang ke makam Sunan Gunung Jati seorang diri, terutama ketika tengah dirundung masalah rumah tangga. Setiap kali berziarah ia bermalam sampai berhari-hari lamanya untuk berzikir dan melakukan kegiatan ritual lain. “Saya lagi pusing,” tuturnya, saat ditemui di salah satu sudut kompleks makam.
Ia mengaku tengah dibelit utang. Padahal suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap. Sedangkan anak-anaknya tidak kunjung mendapatkan pekerjaan setelah menamatkan sekolah. “Siapa tahu dengan sering berzikir di sini, masalah rumah tangga saya jadi terselesaikan. Anak-anak saya bisa cepat dapat kerja,” kata Entay.
Pada fase seperti itu, ziarah menjadi sebuah arena pengendalian diri dan doa.
Hal serupa juga diungkapkan Salamah (36), warga Pelumbon, Cirebon. Ia datang ke makam Sunan Gunung Jati hanya berbekal beberapa lembar uang ribuan rupiah dan telah menginap selama beberapa malam di tempat itu. “Daripada stres, saya memilih menenangkan diri di sini. Biasanya, suami saya akan menjemput. Dia sudah tahu ke mana saya pergi,” ujarnya.
Perempuan yang sehari-hari berjualan makanan ini mengaku sudah tidak tahan dan ingin cerai lantaran tidak tahan dengan ulah suami dan anak tirinya yang terus merongrong usahanya. Suaminya tidak pernah memberi nafkah padanya sejak beberapa tahun menikah. “Uang yang saya kasih malah enggak jelas larinya,” tutur Salamah dengan wajah lesu.
Wisata Sejarah
Dalam sumber-sumber babad, Wali Sanga dianggap sebagai peletak fondasi terbentuknya pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan.
Menurut arkeolog Tri Hatmadji dan Nadjib Hassan dalam buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Wali Sanga merupakan penasihat para penguasa Islam pada waktu itu dan diduga punya peranan penting dalam pergantian kekuasaan dari Majapahit ke Demak.
Tersebarnya agama Islam di Jawa, khususnya, merupakan keberhasilan para wali melalui strategi dan metode dakwah yang tepat sesuai petunjuk Al Quran.
Sebagai tokoh penyebar Islam di Jawa, khususnya, para wali diyakini sebagai orang yang keramat. Mereka dianggap memiliki kelebihan dibandingkan dengan masyarakat lain, dan diyakini memiliki karunia tenaga-tenaga gaib.
Bahkan, sesudah wafat pun mereka masih dianggap mempunyai karisma dan sangat dihormati. Hal ini dapat diketahui dari perlakuan masyarakat terhadap makam para wali dan banyaknya peziarah yang mengunjungi makam para wali itu hingga saat ini.
Karisma Leluhur
Tradisi ziarah kubur erat kaitannya dengan karisma leluhur yang makamnya banyak dikunjungi orang. Karisma leluhur itu dapat diwujudkan dengan bentuk dan hiasan bangunan kubur yang beragam sesuai tradisi seni bangunan yang dikuasai atau disukai. Dan karisma para wali penyebar agama Islam begitu melekat di hati masyarakat, sehingga banyak di antaranya yang berziarah ke makam mereka.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengungkapkan, ziarah merupakan suatu kegiatan keagamaan berupa berkunjung ke magrabah atau kuburan para wali atau ulama yang telah mendedikasikan hidupnya bagi pengembangan Islam. Ziarah juga jadi media untuk mengingatkan manusia pada maut yang suatu saat akan menjemputnya.
“Ziarah telah jadi tradisi masyarakat Islam dunia,” ujarnya, ketika memberi pengantar program pencanangan Wisata Ziarah, Desember 2006. Ziarah, katanya, juga menjadi media edukasi kepada masyarakat mengenai nilai-nilai positif yang diajarkan para ulama.
Para wali umumnya menyiarkan agama secara damai, tidak melalui perang dan tidak melakukan formalisasi agama.
Oleh karena itu, ajaran Islam yang dibawa para wali juga beradaptasi dengan budaya lokal. “Ini perlu diteladani agar kita tidak terjebak pada formalisasi agama. Tetapi jangan sampai menganggap makam para wali sebagai tempat yang dikeramatkan,” kata Hasyim menegaskan.
Berziarah biasanya dilakukan sendiri-sendiri atau berkelompok. Ziarah sendiri-sendiri umumnya dilakukan dengan mengunjungi makam orangtua atau para leluhur, sedangkan ziarah berkelompok, misalnya ke makam Rasullullah saat beribadah haji. “Di Indonesia, ziarah berkelompok biasa dilakukan dengan mengunjungi kuburan para Wali Sembilan atau ziarah Walisongo,” kata Hasyim.
Persebaran Peradaban
Dalam versi arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary (buku Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia), obyek-obyek wisata ziarah Islam secara sempit dihubungkan dengan benda-benda berupa makam, masjid, atau relik-relik para tokoh keagamaan dan politik, ulama dan raja.
Obyek wisata ziarah itu tersebar di berbagai jenis lokasi, ada yang terpencil di pelosok daerah atau di tengah bekas kota lama dari sesuatu pusat politik, ekonomi dan peradaban Islam. Banyak bukti mendukung asumsi bahwa muslim dari berbagai kawasan India, Arab dan Persi telah mengadakan kontak intensif dengan komunitas di Jawa atau Nusantara pada abad tujuh sampai delapan masehi dan berabad-abad sesudahnya.
Tanda tertua kedatangan orang Islam di Jawa misalnya tampak pada sebuah kuburan di Leran, Gresik, Jawa Timur, yang bertanggal tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi dengan nama wafat Fatimah binti Maemun bin Hibatallah.
Sejumlah nisan makam Islam Awal mengandung petikan ayat atau hadist yang berhubungan dengan ajaran sufi.
Pola sebaran dan tipologi nisan serta kompleks makam Islam di Jawa sekaligus menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan perpindahan pusat kekuasaan dan pola sebaran pusat-pusat pengajaran Islam. Maulana Malik Ibrahim yang berangka tahun 822 H (1419 M), misalnya, mengandung inskripsi bergaya tulis Kufique, dibuat dari batuan marmer, diduga berasal dari Cambay, Gujarat.
Hal ini memperlihatkan adanya proses sosialisasi Islam di Jawa yang kemudian pada masa puncaknya berkembang jadi pusat-pusat peradaban, lalu dikuasai elit-elit politik yang masih memiliki hubungan darah. Hal yang sama tampak pula pada elit politik kerajaan Mataram Islam, yang memiliki pertautan dengan para wali di Kadilangu, Ampel dan Giri.
Pertautan itu menumbuhkan dugaan, bahwa salah satu faktor legitimasi kekuasaan di Jawa seringkali dikaitkan dengan hubungannya terhadap para wali penyebar Islam.
Lebih dari itu, upaya legitimasi serupa juga dilakukan dengan menghubungkannya pada para raja-raja Hindu-Jawa sebelumnya, baik melalui hubungan darah, perkawinan atau perpindahan pulung keraton.
Kendati demikian, obyek-obyek wisata ziarah Islam tidak hanya makam atau kompleks makam dengan segala ekspresinya. Makam para raja atau wali juga merupakan sebagian dari produk kesenian istana.
Obyek-obyek wisata ziarah Islam harus pula memperhitungkan dan memasukkan obyek lain seperti istana, benteng, perpustakaan, masjid dan benda-benda rerelik lain. (Kompas/Evy Rachmawati)