cerita si abril…

yang HambarAsamManisPedasAsin

update: rabu, 21 februari 2007
sumber: kompas cetak>humaniora

Kontekstualisasi Ziarah (2-Habis)
Menanti Kebangkitan Wisata Ziarah

oleh: Evy Rachmawati

Tradisi ziarah biasanya dilakukan terhadap leluhur, orangtua, maupun anggota keluarga yang dicintai. Di Indonesia, ziarah dalam artian umum merupakan kunjungan ke makam, masjid, relik-relik tokoh agama, raja dan keluarganya, dan terutama ke makam para wali penyebar agama Islam sebagai wujud kecintaan.

Karisma para leluhur ini begitu melekat di dalam hati masyarakat sampai sekarang.

Dalam terminologi Arab, perjalanan atau wisata diistilahkan sebagai as-Safar atau az-Ziyarah. Jadi, wisata ziarah merupakan sebuah bentuk kunjungan ritual dan dilakukan ke makam dan masjid bersejarah. Dari prosesnya, wisata ziarah juga dipahami sebagai perjalanan batin seseorang, sehingga memiliki muatan emosi dan kontemplasi tinggi.

Secara umum, kita mengenal konsepsi ziarah ke makam dalam berbagai konteksnya, antara lain ziarah sebagai wujud rasa bakti seorang anak ke makam orangtua atau kerabat, ziarah ke makam pahlawan sebagai bentuk peringatan. Selain itu, ziarah sebagai penghayatan nilai-nilai keulamaan.

Tradisi ziarah ke makam para wali sudah cukup populer, terutama Walisanga yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Para wali itu di antaranya Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus.

Sebenarnya, hampir seluruh wilayah di Tanah Air memiliki makam-makam wali. Ini memperlihatkan bahwa di hampir semua daerah di Indonesia pernah hidup dan berjuang seorang ulama besar.

Kini, makam para wali si seluruh Indonesia hampir tiap hari dikunjungi umat sebagai pertanda kecintaan terhadap para walinya. Sebagai dampak dari berkembangnya budaya ziarah ke makam, terutama makam para wali, pemrintah maupun swasta merespons positif dengan mengembangkan tempat ziarah sebagai obyek wisata ziarah.


Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, dalam pencanangan Tahun Kebangkitan Wisata Ziarah 2006 di Lamongan, Jawa Timur, akhir tahun lalu, menjelaskan, wisata ziarah merupakan bagian dari wisata budaya yang berpotensi besar dari sisi jumlah dan daya tarik obyek yang tersebar di pelosok Tanah Air. Karena itu, wisata ziarah perlu terus dikembangkan sebagai salah satu program unggulan pariwisata nasional.

Menurut arkeolog Prof Dr Hasan Muarif Ambary dalam bukunya Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, dalam paket wisata ziarah setidaknya terdapat tiga komponen terkait, yakni wisata sebagai kegiatan perjalanan yang diorganisasi biro perjalanan, masyarakat pengguna jasa wisata, dan obyek wisata yang meliputi alam, sejarah, dan arkeologi.

Sejauh ini ada beberapa kecenderungan kuat yang dapat dijadikan rujukan dalam mengarahkan wisata ziarah Islam agar lebih profesional. Antara lain, luasnya sebaran dan tingginya variasi jenis obyek wisata, masih kuatnya apresiasi mayoritas masyarakat Muslim Nusantara yang berdampak pada ramainya kunjungan terhadap peninggalan sejarah purbakala dari masa awal masuknya Islam ke Nusantara.

Pengelolaan obyek-obyek wisata ziarah Islam, di seluruh Nusantara, pada dasarnya berada dalam pengelolaan lembaga formal-struktural, yakni pemerintah, dan lembaga maupun organisasi nonformal seperti kerapatan adat, badan kesejahteraan masjid, keturunan atau para ahli waris, khususnya untuk istana dan keraton.

Pengelolaan kompleks Makam Sunan Drajat di Lamongan, misalnya, dilakukan oleh para ahli waris wali tersebut. R Edi Santoso (38), salah seorang juru kunci Makam Sunan Gunung Drajat, menuturkan, sampai sekarang ada sembilan juru kunci dan sejumlah orang bertugas memelihara kompleks Makam Sunan Gunung Drajat.

Biaya operasional pengelolaan kompleks itu terutama berasal dari sumbangan peziarah. Jumlah pemasukan dari para pengunjung mencapai lebih dari Rp 10 juta per bulan. Uang ini antara lain digunakan untuk biaya pemeliharaan makam, honor bagi para petugas kebersihan dan keamanan, kesejahteraan bagi para juru kunci dan keturunan Sunan Gunung Drajat, ritual tradisional, serta kegiatan sosial lain.

Jika hanya mengandalkan honor dari dinas kebudayaan dan pariwisata setempat, lanjut Edi, nilainya sangat kecil, berkisar Rp 200.000 per bulan. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) juga hanya memfokuskan perhatian pada pemugaran dan pelestarian peninggalan di dalam kompleks makam. Apalagi, banyak makam di kompleks itu hanya terdiri dari tumpukan batu, tanpa ada nisan.

Pihak pemerintah daerah (pemda) setempat mendapatkan pemasukan dari uang retribusi pengunjung. Pemda juga mengelola retribusi lahan usaha puluhan pedagang cendera mata, makanan, dan aneka produk lain. “Jadi, ada pembagian lahan dengan pemda,” kata Edi.

Sedangkan di Makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, Jawa Barat, terdapat 108 orang petugas makam yang terbagi dalam sembilan kelompok. Semua petugas makam, termasuk Bekel Sepuh dan Bekel Anom 12 orang, dipimpin seorang Jeneng dan diangkat Sultan. Tugas mereka meliputi seluruh areal Pasambangan mulai alun-alun, gapura, serambi, serta bagian dalam Pasambangan sampai gedongan (jinem).

Kurang informasi
Sayangnya, hingga kini sebagian besar kunjungan peziarah masih bersifat spontan atau tak terorganisasi. Hal ini diperparah oleh masih rendahnya tingkat pengelolaan aspek informasi yang menjadi latar belakang kesejarahan dari peninggalan-peninggalan itu, baik yang dimiliki agen perjalanan atau para pemandu, informan, termasuk juru kunci dan juru pelihara.

Sejauh ini sebagian besar wisatawan ziarah Islam tidak memiliki pengetahuan yang benar dan lengkap terhadap obyek-obyek yang dikunjungi. Ditambah lagi, faktor pihak penyelenggara atau informan di lokasi kunjungan juga tidak memberikan penjelasan dengan baik. Akibatnya, nilai informasi yang disampaikan pada wisatawan belum optimal.

Padahal, tujuan kunjungan wisatawan ke obyek wisata ziarah itu beraneka ragam. Ada yang hanya ingin berziarah, ada juga yang ingin berziarah sekaligus rekreasi, serta memperoleh tambahan informasi langsung untuk penelitian. Bahkan, di sejumlah obyek wisata ziarah Islam, makam dijadikan sebagai media untuk berdoa meminta rezeki, jodoh, menebak kode buntut, dan kesembuhan penyakit.

Maka dari itu, Hasan menilai pengelolaan obyek wisata ziarah masih memerlukan penerangan lebih lanjut dari aparat terkait, termasuk lembaga-lembaga keagamaan dan organisasi kemasyarakatan Islam. Hal ini bertujuan untuk menjauhkan obyek-obyek wisata ziarah Islam dari hal-hal yang mengarah pada sikap permisif terhadap pelanggaran nilai, etika, dan akhlak Islamiyah.

Kontribusi arkeologi terhadap program wisata ziarah juga diperlukan untuk menyajikan data yang benar, berakurasi tinggi, dan logis bagi pengunjung. Dengan demikian, obyek-obyek wisata ziarah Islam tidak akan berkembang jadi aktivitas yang melanggar akhlak dan pusat syirik.

Pengembangan wisata
Jero Wacik menyatakan, pengembangan wisata ziarah nantinya membawa serta nilai-nilai edukasi yang luhur dalam bentuk keteladanan, penghargaan terhadap para tokoh yang diziarahi karena jasa-jasanya terhadap kehidupan keagamaan dan kemanusiaan, serta kesalehannya kepada Allah. “Karena itu, wisata ziarah akan dibangkitkan lagi, terutama untuk menarik wisatawan domestik. Tahap awal adalah pengembangan wisata ziarah makam Wali Songo. Obyek wisata ziarah juga akan dikembangkan di seluruh Tanah Air,” ujarnya.

Depbudpar telah mencanangkan Tahun Kebangkitan Wisata Ziarah bekerja sama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jadi, PBNU berperan serta dalam membuat panduan agar aktivitas peziarah tidak melanggar etika dan akhlak Islam.

Menurut Hasan Muarif Ambary, pengembangan wisata ziarah seharusnya dititikberatkan pada aktivitas yang diselenggarakan badan atau biro perjalanan wisata, dan masyarakat pengguna jasa kepariwisataan sehingga wisata ziarah menjadi kebutuhan pokok bersifat spiritual, relaksasi, dan rekreatif.

Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi mengatakan, program itu hendaknya menjadi gerakan wisata sehat lahir dan batin. “Dengan berwisata ziarah, kita bisa meneladani cara para wali dalam membawakan Islam secara damai dan moderat agar tidak ada konflik antar-agama. Ini yang harus ditemukan kembali untuk membangun bangsa ini,” ujar Hasyim Muzadi. (Kompas/Evy Rachmawati)

No Comments :(