Berlokasi sekitar 3 km ke arah tenggara Candi Borobudur, atau kira-kira 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang bernama Candirejo. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki luas sekitar 3 kilometer persegi dan dihuni oleh 4.056 penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) dusun. Lokasi desa ini terletak pada bentang alam yang merupakan gabungan antara dataran rendah dan kaki pegunungan yang tererosi, sehingga banyak dijumpai keunikan geologi seperti adanya mata air asin serta bongkahan bebatuan sisa gunung api (Watu Kendil, Watu Tambak, Watu Ambeng, dan lainnya). Secara geologis, wilayah Desa Candirejo berupa daerah berbukit yang termasuk ke dalam kawasan Pegunungan Menoreh, yang merupakan bekas gunung api tua.
Menurut cerita turun temurun, nama Candirejo awalnya berasal dari kata Candighra yang seiring dengan waktu berubah menjadi Candirga, lalu Candirja dan terakhir Candirejo. Kata Candi sendiri berarti batu, sedangkan Rejo berarti subur, sehingga Candirejo dapat berarti desa berbatu yang subur. Cerita lain menyebutkan bahwa nama Candirejo berasal dari ditemukannya sebuah candi di tempat ini. Berdasarkan penemuan berupa batu candi, arca dan yoni, membuktikan bahwa memang pernah ada sebuah candi di desa ini, yang oleh penduduk sekitar disebut Candi Brangkal.
Wilayah Candirejo yang berada dalam kawasan Cagar Budaya Borobudur membuat kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya berkaitan erat dengan perkembangan Borobudur. Pengaruh ekonomi dan gegar budaya akibat pertumbuhan pariwisata di Borobudur merupakan dampak yang dengan mudah ditemui. Kehidupan masyarakat Candirejo yang saat ini masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan perhutanan (social argo-forestry) perlahan tapi pasti berubah akibat pariwisata. Kaum muda lebih senang menawarkan jasa sebagai guide atau berjualan di kawasan Candi Borobudur. Faktor ekonomi pertanian yang makin lama dianggap kurang berkembang, membuat penduduk Candirejo banyak yang akhirnya mengalihkan mata pencahariannya pada sektor jasa pariwisata. Akibatnya ’beban’ Candi Borobudur yang disebabkan oleh pariwisata menjadi sangat berat. Kencenderungan ini membuat resah berbagai pihak, khususnya pemerintah dan pemerhati pelestarian pusaka. Salah satu alasannya adalah bila kondisi fisik dan budaya masyarakat di sekitar kawasan Borobudur berubah, maka akan berdampak negatif bagi keberlanjutan Borobudur.
Cagar budaya Borobudur memiliki nilai historis dan budaya yang saling terkait dengan kawasan dan masyarakat disekitarnya. Kondisi ini sudah berlangsung sejak awal dibangunnya Borobudur pada abad ke-8, jadi bisa dipastikan tanpa keterkaitan antara alam dan budaya, Borobudur akan kehilangan ’jiwanya’. Oleh karena itu konservasi terhadap intangible cultural heritage dan penguatan masyarakat sekitar kawasan Borobudur menjadi penting untuk dilakukan.
Pegunungan Menoreh merupakan bentang alam yang berfungsi sebagai penyangga Borobudur. Wilayah Candirejo sendiri memiliki cakupan luas permukaan 48.735 kilometer persegi dari Pegunungan Menoreh. Kawasan ini menjadi daerah tangkapan air dari ke tiga sungai, yaitu Sungai Progo, Sungai Sileng dan Sungai Serayu. Jika kawasan ini gundul, selain menyebabkan ketidaksuburan ladang pertanian juga akan mengakibatkan banjir di wilayah Borobudur. Kondisi ini akan semakin memperburuk kehidupan warga sekitar dan juga meningkatkan arus urbanisasi yang pada akhirnya akan mengurangi keterikatan kultur masyarakatnya dengan Candi Borobudur.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas serta kesadaran bersama, maka penduduk Desa Candirejo sepakat membuat solusi untuk keberlanjutan kawasan Borobudur sekaligus meningkatkan ’nilai’ desanya. Salah satu langkah awal adalah dengan menjadikan Desa Candirejo sebagai desa wisata berbasis masyarakat. Pengembangan desa wisata ini juga dimaksudkan agar aktivitas pariwisata tidak hanya terpusat di Borobudur, namun juga ke wilayah di sekitarnya sehingga, wisatawan yang datang akan lebih mengenal Candi Borobudur dan ikut melestarikannya. Tujuan lainnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat yang pada akhirnya akan meningkatkan kesadaran akan konservasi budaya di kawasan Borobudur. Dalam pengembangannya, desa wisata yang diresmikan tanggal 18 April 2003 ini, difasilitasi oleh Yayasan Patra-Pala Institute for Social Ecology and Ecotourism dengan bantuan dana dari JICA (Japan International Cooperation Agency).
Desa wisata ini sepenuhnya dikelola oleh masyarakat desanya secara mandiri melalui koperasi. Pengelolaannya mencakup penyediaan local guide, home stay di rumah tradisional Jawa, konsumsi, transportasi lokal, cenderamata, paket wisata hingga atraksi hiburan dan kesenian. Paket wisata yang ditawarkan berkisar antara Rp. 50.000,- sampai dengan Rp. 350.000,- tergantung dari pengalaman berwisata yang diinginkan. Misalnya saja, untuk paket wisata tinggal bersama penduduk (home stay) dipatok hanya dengan harga Rp. 50.000,- per-malam sudah termasuk makan 3 kali dan snack. Daya tarik yang ditawarkan diantaranya wisata jelajah desa dengan bersepeda atau andong, home industry penduduk, trekking/hiking ke Pegunungan Menoreh, agro wisata, dan tentunya berwisata ke Borobudur. Pemandangannya yang indah dengan siluet Candi Borobudur dikejauhan serta suasana desa beserta penduduknya yang ramah, merupakan keunggulan desa wisata ini.
Candirejo juga memiliki tradisi dan seni budaya lokal yang masih dipertahankan, diantaranya nyadran, yaitu upacara mengirim doa untuk arwah leluhur setiap bulan Ruwah (kalender Jawa) dan Bersih Desa, yang merupakan ritual syukuran atas keberhasilan panen. Selain acara tahunan, Candirejo juga menyuguhkan acara kesenian berupa jathilan (kuda lumping), wayang kulit, dan tari-tarian seperti Gatholocol, Wulangsunu, Kubrosiswo dan Shalawatan. Acara kesenian diadakan secara periodik maupun atas permintaan khusus dari wisatawan. Selain menikmati kesenian tradisional, wisatawan yang datang ke Candirejo juga bisa belajar kesenian rakyat, seperti tari tradisional, kerajinan tangan dan gamelan.
Keberhasilan Desa Candirejo semakin dikuatkan dengan adanya program digital village (kampung digital) dari telkom flexi bersama-sama dengan 9 desa lainnya di Jawa Tengah. Program ini diadakan dengan tujuan agar Desa Candirejo semakin dikenal, terutama di dunia internasional, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan jumlah wisatawan yang datang ke desa wisata ini. Program ini juga dilaksanakan dalam rangka pengembangan telekomunikasi bagi keperluan wisatawan serta pengenalan teknologi informasi bagi penduduk desa sendiri. Rencana kedepannya akan dikembangkan internet goes to school, yaitu pemasangan jaringan internet di sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Magelang, termasuk Desa Candirejo, sehingga diharapkan para siswa dapat memperoleh informasi lebih luas.
Upaya yang dilakukan secara bersama-sama oleh penduduk Desa Candirejo sudah memberikan dampak positif bagi keberlanjutan desa tersebut, sehingga kekayaan budaya masyarakat di sekitar Candi Borobudur dapat terpelihara dengan baik. Dalam perkembangan desa ini, terlihat adanya sistem kerjasama yang baik antara masyarakat, pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat, sehingga semua pihak merasa senang dan diuntungkan. Namun yang terpenting adalah pusaka saujana Borobudur akan semakin lestari, sehingga masih dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
____________________________
Disarikan dari berbagai sumber dalam rangkaian kegiatan 3rd Borobudur Field School on Borobudur Cultural Landscape Heritage Conservation di Yogyakarta, 27 Maret – 2 April 2006 dan media internet (www.desa-digital.com, www.central-java-tourism.com, http://cybertravel.cbn.net.id/). Telah dimuat dalam Warta Pariwisata, sebuah buletin terbitan Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) ITB.



12:30 pm on March 5th, 2007
sudahkah ada penelitian mengenai jumlah wisatawan manca negara yang tertarik datang ke Candirejo and its surrounding? I interested with it to make a research………If my lecturer give me recommendation.
3:59 pm on March 5th, 2007
to mr. bachtiarhs, setahuku sih belom ada studi mengenai itu. tapi untuk lebih pastinya bisa menghubungi candirejo atau pusat pariwisata UGM.
12:23 pm on March 28th, 2007
thanks dah kasih info lebih tentang candirejo, coz lagi aku bikin skripsi…. i’ll b thankfull n gratefull 4 d information.
1:49 pm on May 10th, 2007
hai Abril, duh seneng banget bisa nemu blog kamu, apalagi kamu cerita ttg BFS 3, seru banget nih…kok nggak ikutan BFS 4? Seru juga loh…
5:35 pm on May 11th, 2007
hai juga mba sinta… pa kabar juga, aku kangen juga nih main ke jogya dan ketemu sm temen2 BFS. sebenernya sih pengen ikut BFS 4, tapi seminarnya doang… cuma apa daya di kantor lagi ada kerjaan jadi belom bisa ikutan lagi deh hehehe
10:18 am on May 14th, 2007
temen2 qu udah k sono kmrn, keren abiz dah. apalagi wkt liat sunrise d puncak menoreh…, g nyesel dech bgn jam 4 subuh,
induk semangnya jg ramah bgt, tnyata byk yg dtg dr kyoto yach?!
saran nech: wkt d sono qu jarang liat tmpt sampah, jd bingung mo buang sampah….
trus, gmn klo warga d sono diajarin bhs english, biar bisa komunikasi,…tapi turis manca jg diajarin tata krama plus bhs daerah seperlunya, biar tau gmn asyiknya b’interaksi.
makaci yach….
9:27 am on June 20th, 2007
boleh aku cross-posting di bumisegoro.wordpress.com kan?
tx
2:06 pm on June 30th, 2007
gw suka dgn adanya web ini, dgan gni candirejo yang letaknyagak jauh dari rumah Gw bisadi update ma buanyak orang, and gw stuju ma apa yang lo tulis di atas ya seengaknya harapan kan…(@_@)?
11:04 pm on October 6th, 2007
buat Adien skripsinya dah sampai mana, boleh join gak soalnya daku jg ngambil parwi di kec borobudur.
11:07 pm on October 6th, 2007
bril kenal yang namanya mba monica gak…??? brkali aja kenal…
8:33 pm on October 11th, 2007
Hi…
eunak lho maen2 ke candirejo udaranya…penduduknya…
dulu,,sekitar satu tahun yang lalu kami pernah ngadaian village school barengan anak2 ACICIS UGM
2:53 pm on October 30th, 2007
buat kakangmas….
kalau mau cross posting tulisan ini boleh kok, asal cantumin aja source-nya.
3:27 pm on October 31st, 2007
mas mau research ttng borobudur tp gak dpt2 bhnnya,ttg masyrkt yang g mnikmti kebradaan candi brbdur…..msh miskin dr dulu,e y aq tinggal di dkt brbdur lo… tau kec. Salam gk?
4:39 pm on November 3rd, 2007
senyum itu yang paling penting?
ketawa itu yanhg yang utama?
9:16 am on September 8th, 2008
mz ,usul ni,
gimana kalo tambah picture nya,pasti yang udah menarik tambah menarik,
teruz tambah comment dari kepala setempat
ya maz ..
makasih