cerita si abril…

yang HambarAsamManisPedasAsin

update: senin, 17/07/2006, 16:55 wib
sumber:
kompas cybermedia>makan dan plesiran


Berbincang, adu gagasan sambil minum kopi, atau melahap tahu cocol (pakai sambal kecap) dan makan makanan asli Indonesia. Itulah mungkin konsep sederhana yang mau disodorkan oleh pemrakarsa Omah Sendok, sebuah tempat bertemu dan makan di kawasan hunian di Taman Mpu Sendok, Jalan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta.

omah-sendok.jpgTempat makan dan tempat ngopi yang bisa dipakai sebagai meeting point seperti Omah Sendok ini memang banyak menjamur di Jakarta, terutama di kawasan hunian yang rada elite seperti Kemang dan juga Senopati di Kebayoran Baru, atau bahkan Menteng di Jakarta Pusat.

Meski tidak persis seperti suasana kafe–kafe di Paris, Perancis, tempat–tempat makan seperti Omah Sendok di Senopati ini bolehlah, cukup teduh. Setidaknya, tempat ini bukan tempat untuk semata–mata makan atau melahap menu santapan melulu. Anda bisa berlama–lama, ngobrol, rapat, dan tukar pikiran sambil menyantap menu Indonesia yang tak kalah sedap dengan menu makanan Barat jika disajikan dengan cita rasa diutamakan.

Ada juga perpustakaan (buku–buku spiritual yang mereka anggap punya nilai universal) di tengah–tengah tempat makan yang lebih mirip sebuah rumah tinggal ini. Anda pun bebas mengetik dengan laptop Anda sembari mencocol tahu. Atau meneguk dawet, atau jus sirsak. Berbincang sambil duduk–duduk (bisa 30 orang) di pinggir kolam renang, di halaman belakang Omah Sendok pun boleh.

Membuang waktukah? Tentu tidak. Coba tengok Cafe Deux Magots dan Cafe de Flor di kawasan Saint–Germain–des–Pres di Paris. Dua kafe paling terkenal di seantero Perancis ini dulu dan juga kini adalah merupakan tempat kongko paling terkemuka di dunia.

Bagaimana tidak? Di kedua kafe inilah dua pemikir terkenal Perancis, Simone de Beauvoir dan juga Jean–Paul Sartre, dalam keseharian (dulu) berbincang sebelum ’menduniakan’ gagasan–gagasan eksistensialis mereka. Konon, mereka bisa menghabiskan waktu berjam–jam berdebat sambil ngopi di kafe. Selain bangunan asli kafe tua di Paris itu sampai kini tak diubah, juga coret–coretan tangan para pemikir terkenal dunia itu pun masih tertinggal.

Kebiasaan duduk berbincang dan adu gagasan sambil minum kopi tidak hanya dilakukan Beauvoir maupun Sartre, tetapi juga para pemikir Perancis lainnya. Tidak heran jika jalan–jalan di sekitar kafe–kafe yang bertebaran di Paris itu diabadikan dengan nama–nama mereka: Visconti, Mazarrine, Buci, de Seine, du Vieux Colombier, Bonaparte, Genegaud….


Nenek dan eyang

“Kalau weekend, pengunjungnya malah yang berusia 25–40 tahun ke atas. Ada malah nenek–nenek, eyang–eyang. Mungkin untuk mengenang makanan tempo doeloe…,” ungkap Ely, panggilan akrab Nurlaely Wicahyuni, sang manajer Omah Sendok yang sebenarnya seorang arsitek lulusan Universitas Brawijaya, Malang.

omah-sendok-2.jpgTak mengherankan. Selain tak terlalu mahal, meski juga tak bisa dibilang murah, tempat makan dan ngopi di Taman Mpu Sendok ini menyediakan berbagai menu asal daerah, seperti sate ikan (Bali), rawon, nasi petis madura, sate ayam ponorogo (Jatim), bakmoy, garang asem, bestik jawa (Jateng), nasi pasundan, ayam bakar (Jabar), dan juga nasi ulam (Betawi).

“Tetapi yang paling laris menu soto tangkar, asli Betawi. Serta minuman khas Betawi, bir pletok. Sungguh, meski namanya bir, tetapi halal lho, non–alkohol, terbuat dari jahe, kayu secang, rempah–rempah, rasanya anget…,” ujar Ely pula.

Riwayat Omah Sendok yang belum dua tahun pun berliku. Merupakan usaha patungan, dengan 10 share–holder. Mereka merupakan teman–teman sekomunitas, kelompok kajian spiritual dan sudah menjadi teman dekat bertahun–tahun.

“Awalnya kami bikin toko buku, galeri buku–buku spiritual yang bernilai universal di Kemang. Kurang lebih bertahan setahun. Lalu cari tempat. Mulanya, tempat ini hanya merupakan tempat ngumpul di antara kami, lama–lama dikelola jadi tempat makan. Sekarang perpustakaannya menjadi pelengkap,” ungkap sang Manajer Omah Sendok pula.

Dan memang, tak hanya acara makan–makan saja dilangsungkan di tempat ini. Sering digelar bedah buku (Selasar Omah) sampai lokakarya yang dilakukan oleh kelompok pasar besar, Carrefour. Ada juga komunitas spiritual kajian semesta ataupun komunitas puisi yang mempergunakan tempat ini.

“Ada 25 orang di Omah Sendok, dari staf dapur, bagian pelayanan seperti waiter, kasir, keamanan…,” tutur Ely pula mengenai pengelola dan karyawannya. Dan rumah di kawasan Taman Mpu Sendok yang seluas 1.400 meter persegi ini pun jadi salah satu tempat bertemu yang terbilang teduh di kawasan Senopati. Tempat adu gagasan, berbincang, sambil menyantap tahu cocol…. (Kompas/Jimmy S Harianto)

Berlokasi sekitar 3 km ke arah tenggara Candi Borobudur, atau kira-kira 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Yogyakarta, terdapat sebuah desa wisata yang bernama Candirejo. Desa yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki luas sekitar 3 kilometer persegi dan dihuni oleh 4.056 penduduk yang tersebar di 14 (empat belas) dusun. Lokasi desa ini terletak pada bentang alam yang merupakan gabungan antara dataran rendah dan kaki pegunungan yang tererosi, sehingga banyak dijumpai keunikan geologi seperti adanya mata air asin serta bongkahan bebatuan sisa gunung api (Watu Kendil, Watu Tambak, Watu Ambeng, dan lainnya). Secara geologis, wilayah Desa Candirejo berupa daerah berbukit yang termasuk ke dalam kawasan Pegunungan Menoreh, yang merupakan bekas gunung api tua.

Menurut cerita turun temurun, nama Candirejo awalnya berasal dari kata Candighra yang seiring dengan waktu berubah menjadi Candirga, lalu Candirja dan terakhir Candirejo. Kata Candi sendiri berarti batu, sedangkan Rejo berarti subur, sehingga Candirejo dapat berarti desa berbatu yang subur. Cerita lain menyebutkan bahwa nama Candirejo berasal dari ditemukannya sebuah candi di tempat ini. Berdasarkan penemuan berupa batu candi, arca dan yoni, membuktikan bahwa memang pernah ada sebuah candi di desa ini, yang oleh penduduk sekitar disebut Candi Brangkal.

candirejo 1


Wilayah Candirejo yang berada dalam kawasan Cagar Budaya Borobudur membuat kehidupan sosial ekonomi masyarakatnya berkaitan erat dengan perkembangan Borobudur. Pengaruh ekonomi dan gegar budaya akibat pertumbuhan pariwisata di Borobudur merupakan dampak yang dengan mudah ditemui. Kehidupan masyarakat Candirejo yang saat ini masih didominasi oleh kegiatan pertanian dan perhutanan (social argo-forestry) perlahan tapi pasti berubah akibat pariwisata. Kaum muda lebih senang menawarkan jasa sebagai guide atau berjualan di kawasan Candi Borobudur. Faktor ekonomi pertanian yang makin lama dianggap kurang berkembang, membuat penduduk Candirejo banyak yang akhirnya mengalihkan mata pencahariannya pada sektor jasa pariwisata. Akibatnya ’beban’ Candi Borobudur yang disebabkan oleh pariwisata menjadi sangat berat. Kencenderungan ini membuat resah berbagai pihak, khususnya pemerintah dan pemerhati pelestarian pusaka. Salah satu alasannya adalah bila kondisi fisik dan budaya masyarakat di sekitar kawasan Borobudur berubah, maka akan berdampak negatif bagi keberlanjutan Borobudur.

Read the rest of this entry »

workshop greenmap bandung 2
workshop greenmap bandung

blog udah lama banget nih ga di-upload hiks…
….
….
….
….
….
padahal buanyak banget cerita dan momen2 yang pengen gw share
huh… apa daya nasib blog ini
masalahnya akhir2 ini gw lagi buanyak banget kerjaan dan aktivitas
yang segunung telah menanti di akhir tahun ini
belom lagi gw-nya yang lagi mood2-an ga jelas.
bawaannya kalo udah cape’ jadi males dan pengen leyeh2 mulu….
ngantuk2 sambil nonton tipi… hiks lagi
….
plus cuaca musim hujan yang sangat mendukung
jadilah harus membangun semangat buat blogging lagi
jangan sampe kejadian tahun 2005 terulang kembali hehehe
hoaamm…..zzzz